Pemerintah Belum Tentukan Nasib Blok Masela

redaksi.co.id - Pemerintah Belum Tentukan Nasib Blok Masela JAKARTA - Pemerintah sampai saat ini belum bisa memutuskan pengembangan 'Lapangan Gas Abadi' Blok Masela di Laut Arafuru,...

39 0

redaksi.co.id – Pemerintah Belum Tentukan Nasib Blok Masela

JAKARTA – Pemerintah sampai saat ini belum bisa memutuskan pengembangan ‘Lapangan Gas Abadi’ Blok Masela di Laut Arafuru, Maluku.

Hal ini disebabkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said masih berbeda pendapat dengan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Rizal Ramli.

“Jangan sampai karena terlambat memutuskan membuat Indonesia kehilangan kesempatan merebut pasar gas internasional,” ujar Praktisi Migas Hadi Purnomo, Jumat (16/10/2015).

Hadi Purnomo, pernah menjadi Kepala Lemigas Kementerian ESDM pada 2006, menuturkan sudah terlalu lama dilakukan kajian floating liquefied natural gas (FLNG) di Blok Masela, dan saatnya mulai memikirkan beroperasinya lapangan gas di blok itu. Diskusi membahas FLNG sudah lebih dari 10 tahun namun sampai sekarang tidak jalan.

“Sudah terlalu lama diskusi,saatnya sekarang menghitung kehilangan jika telat beroperasi. Jangan sampai kita kehilangan pasar dan kehilangan pendapatan negara,” jelas Hadi.

Di sisi lain, Hadi menambahkan negara harus hadir dengan kewibawaannya untuk mengontrol ketat beroperasinya lapangan Abadi di Blok Masela.

Hadi menyarankan jika diterapkan Onshore LNG akan makan waktu lagi karena mengubah kajian. “Sudah bertahun tahun Indonesia kehilangan kesempatan, karena berkutat pada masalah kajian di Blok Masela,” kata Hadi.

Beberapa waktu lalu, Inpex Masela Ltd sebagai operator Blok Masela telah menyodorkan revisi atas POD Lapangan Abadi berikut pembangunan FLNG dari kapasitas 2,5 million ton per annum (MTPA) menjadi 7,5 MTPA ke SKK Migas.

Akan tetapi, di tengah pembahasan tersebut Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli mendesak Menteri ESDM Sudirman Said untuk mengevaluasi opsi pembangunan fasilitas pengolahan LNG di darat atau Land Based LNG di pulau Aru, Maluku karena menilai investasinya lebih murah jika dibangun di darat.

Dalam hitungan Rizal, total investasi untuk pembangunan Land Based LNG hanya mencapai 14,6 miliar dollar AS sementara FLNG mencapai 19,3 miliar dollar AS.

(red/udianto/R)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!