Miliarder Terkaya RI Kepincut Jadi Bos Kadin

redaksi.co.id - Miliarder Terkaya RI Kepincut Jadi Bos Kadin Bursa pemilihan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia diramaikan dengan para kandidat yang mempunyai kerajaan...

30 0

redaksi.co.id – Miliarder Terkaya RI Kepincut Jadi Bos Kadin

Bursa pemilihan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia diramaikan dengan para kandidat yang mempunyai kerajaan bisnis di Tanah Air. Salah satunya miliarder terkaya Dato’ Sri Tahir yang mengincar kursi orang nomor satu di Kadin melawan enam calon, termasuk Rachmat Gobel.

Pelaksana Harian Ketua Umum Kadin Indonesia, Zainal Bintang mengungkapkan, ada tujuh calon yang masuk dalam bursa pemilihan Ketua Umum Kadin Indonesia.

“Ketujuh kandidat itu antara lain, Rosan P Roeslani, Maxi Gunawan, Dato Sri Tahir, Rachmat Gobel, Ismanu Soemiran, Eddy Ganefo dan saya sendiri,” kata Zainal di acara Konferensi Pers Munas VIII, Jakarta, Minggu (18/10/2015).

Untuk diketahui, Tahir lahir di Surabaya pada 26 Maret 1952. Pria terkaya di Indonesia ini memulai kiprah di dunia usaha dengan merintis bisnis garmen.

Dari garmen lambat laun, Tahir merambah bisnis lain. Diawali dari Mayapada Group yang didirikannya pada 1986, bisnisnya merambat dari dealer mobil, garmen, perbankan, real estate sampai di bidang kesehatan. Bahkan Tahir juga masuk ke dunia media dengan mendirikan Forbes Indonesia.

Bank Mayapada yang didirikan tahun 1990 menjadi salah satu andalan tahir untuk mengumpulkan pundi-pundi uang. Dari bisnis yang dijalankannya, Tahir mengantongi kekayaan US$ 1,85 miliar pada tahun ini.

Pria berusia 63 tahun ini tercatat sebagai orang terkaya nomor 11 di Indonesia dan 1.105 dunia versi Majalah Forbes.

“Tahir juga seorang konglomerat yang hanya melihat ke atas, bukan ke bawah seperti Kadin Propinsi dan asosiasi. Dari segi keuangan, memang ia kuat tapi dari kejuangan belum tentu bisa,” ujar Ketua Kadin Papua, John Kabey.

Saat ini, kata dia, Kadin Indonesia membutuhkan sosok pemimpin atau Ketua Umum yang mampu merangkul dan komunikatif dengan Kadin Propinsi dan asosiasi. “Kalau kita sekarang menuju ke ekonomi kerakyatan, Ketua Umum Kadin yang baru harus memperhatikan kami-kami ini yang berasal dari daerah,” harap John. (Fik/Ndw)

(red/ngga/eksa/AR)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!