Rupiah Jeblok, Utang Bakal Melonjak

169

redaksi.co.id – Rupiah Jeblok, Utang Bakal Melonjak

Ekonom Lana Soelistianingsih mengatakan, pelemahan rupiah belakangan ini membuat angka utang dalam negeri di bulan Agustus masih tinggi. Namun ia meyakini pada bulan September akan mulai turun. Berdasarkan rilis Bank Indonesia, utang luar negeri kita mencapai $ 303, 2 juta. Dari angka tersebut utang swasta yang masih mendominasi, yakni sejumlah $ 169, 2 juta.

Utang luar negeri dari swasta memang mulai melebihi utang pemerintah sejak tahun 2012. Sekitar bulan desember, katanya kepada Tempo saat dihubungi di Jakarta, Senin 19 Oktober 2015. Menurut dia, hal itu disebabkan karena saat itu di tahun 2012 ekonomi Indonesia sedang tumbuh tinggi, sekitar hampir 65 persen. Sehingga ada insentif dari pemerintah untuk pihak swasta melakukan ekspansi usahanya dengan meminjam. Pada saat itu rupiah kita ada di angka 9 ribuan. Ketika rupiah murah, pinjam keluar negeri juga lebih murah.

“Daripada meminjam ke dalam negeri dengan bunga 12 persen. Pada saat itu juga suku bunga luar negeri masih murah,” katanya menjelaskan. Lana melanjutkan, jika dilihat dari table tersebut tampak mulai ada penurunan sejak bulan juli, artinya swasta mulai bisa menahan untuk meminjam ke luar negeri. Alasannya, selain karena rupiah melemah juga ada kebijakan bank Indonesia untuk mengurangi valas.

Hal tersebut membuat swasta mulai berhati hati dan mengurangi pinjaman. Memang jadi berkurang tapi implikasinya kegiatan ekonomi juga ikut turun, ujarnya. Angka ratio utang terhadap PDB di bulan Agustus mulai mencapai angka 34,40 persen. Angka tersebut terus meningkat sejak tahun 2014. Batas amannya kan 33 persen. Sementara sekarang sudah diatas 33 persen. Tapi sampai 35 persen masih aman.

Karena indikator lampu kuning ada di atas 35 persen. Lampu merah diatas 60 persen. Tapi 34 persen seperti sekarang sudah cukup bahaya dan patut diwaspadai, katanya. Angka ratio yang tinggi ini, kata lana juga disebabkan oleh perbedaan perhitungan. “Dimana utang dihitung dengan dollar sedangkan PDB dihitung dengan rupiah. Sehingga ketika di transfer ke dollar, angka PDB lebih kecil. Ini juga efek dari pelemahan rupiah. Tapi kita juga perlu memperhatikan ratio lainnya. Seperti ratio cadangan devisa,” tuturnya.

(red/ahyu/etyo/armawan/WSD)

loading...

Comments

comments!