Pembina Arema Cronus: Piala Presiden Hanya Kesenangan Sesaat

redaksi.co.id - Pembina Arema Cronus: Piala Presiden Hanya Kesenangan Sesaat Pembina Arema Cronus Lalu Mara Satria Wangsa menyebutkan pagelaran Piala Presiden 2015 telah membangkitkan euforia persepakbolaan...

24 0

redaksi.co.id – Pembina Arema Cronus: Piala Presiden Hanya Kesenangan Sesaat

Pembina Arema Cronus Lalu Mara Satria Wangsa menyebutkan pagelaran Piala Presiden 2015 telah membangkitkan euforia persepakbolaan nasional, namun hanya berlangsung sementara waktu.

Persib Bandung tampil sebagai kampiun Piala Presiden 2015 usai mengalahkan Sriwijaya FC 2-0 di final kemarin. Sedangkan Arema menempati peringkat ketiga setelah menundukkan Mitra Kukar 2-0 sehari sebelumnya.

Lalu Mara memuji pagelaran Piala Presiden, sehingga euforia sepakbola Indonesia kembali bangkit. Namun, dirinya tetap berharap sanksi FIFA kepada Indonesia dicabut.

Secara euforia ini sangat bagus, namun ini hanya kesenangan sementara saja. Tetapi setelah ini apa? Karena yang terpenting kompetisi harus jalan. Toh juara [Piala] Presiden juga tidak bisa mewakili Indonesia di ajang antarklub Asia, ujar Lalu kepada Goal Indonesia.

Lalu Mara menambahkan, pembekuan PSSI oleh menteri pemuda dan olahraga (Menpora) Imam Nahrawi telah memberikan dampak buruk terhadap persepakbolaan nasional.

Saya berharap dari sini pemerintah bisa melihat antusiasme masyarakat sepakbola. Tidak ada yang salah dalam sepakbola, kenapa kok organisasi PSSI sampai dibekukan? tanya Lalu Mara.

Ketika organisasi dibekukan, maka semua stakeholder mengalami kerugian, kita mengalami kemunduran. Kita seperti katak dalam tempurung, karena juara hanya senang, lalu tidak bisa membela Indonesia ke ajang manapun.

Mestinya kita menyenangkan presiden itu dengan cara prestasi, dengan tim yang kuat, bukan dengan keramaian sesaat. Karena, ketika Indonesia berprestasi maka semuanya pasti terangkat.

Untuk menyelesaikan konflik seperti ini, pemerintah dengan PSSI harus duduk bersama yang hingga sekarang masih tidak terwujud.

Untuk menyelesaikan konflik tetap tergantung kepada pemerintah. Berdialog dengan pembicaraan langsung, karena selama ini dialognya secara tidak langsung. Tugas pemerintah adalah mengayomi, mengajari, dan membina ke arah yang lebih baik, bukan membekukan, tutupnya. (gk-48)

(red/hmad/yaiku/AS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!