Proyek Marina di Banyuwangi Incar Dollar dari Kapal Pesiar

redaksi.co.id - Proyek Marina di Banyuwangi Incar Dollar dari Kapal Pesiar Pelabuhan Marina Banyuwangi akan melengkapi terminal kapal pesiar yang sebelumnya tersebar di Sunda Kelapa (Jakarta),...

23 0

redaksi.co.id – Proyek Marina di Banyuwangi Incar Dollar dari Kapal Pesiar

Pelabuhan Marina Banyuwangi akan melengkapi terminal kapal pesiar yang sebelumnya tersebar di Sunda Kelapa (Jakarta), Sabang (Aceh), Teluk Bayur (Sumatera Barat), Nongsa Point Marina (Batam), Benoa (Bali), Nunukan (Kalimantan Timur), dan Ambon (Maluku).

PT Pelindo Properti Indonesia (PPI), anak perusahaan PT Pelabuhan Indonesia III, rencananya akan mengintegrasikan marina Banyuwangi dengan marina lain yang juga akan dibangun di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, dan Karimun Jawa di Jawa Tengah. Manajer PT Pelabuhan Indonesia III Cabang Tanjung Wangi, Bangun Swastanto, mengatakan, pengembangan karena pelabuhan marina dianggap cukup prospektif.

Itu terlihat dari kunjungan kapal pesiar jenis yacht ke Indonesia yang terus meningkat dalam lima tahun terakhir. Bila pada 2010 hanya ada kunjungan kapal yacht sebanyak 57 unit, pada 2014 lalu jumlahnya melonjak hingga 126 unit yacht, 36 unit superyacht dan delapan cruise, katanya kepada Tempo pada 26 Oktober 2015. Kapal-kapal pesiar jenis yacht disebut Bangun membawa penumpang sebanyak 1.008 orang. Adapun superyact 2.700 penumpang dan cruise hingga 20.122 orang.

Mereka masuk ke Indonesia, menurut Bangun, umumnya melalui dua jalur yakni Singapura ke Batam dan Bali serta dari Australia ke Kupang dan Bali. Titik-titik pelayaran yacht selama ini menuju Kupang, Ende, Maumere, Pulau Komodo, Labuan Bajo, Lombok, Bali, hingga ke Sorong. Bangun menjelaskan, sejak 2013 pertumbuhan pariwisata internasional rata-rata meningkat 5% atau sebesar 1.052 juta orang.

Kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, memiliki pangsa pasar pariwisata 23 persen dengan pertumbuhan 6 persen per tahun. Dengan prospek yang cerah ini, sektor pariwisata layak menjadi sektor andalan, kata Bangun lagi. Adapun PT Pelindo III memilih secara khusus Kabupaten Banyuwangi sebagai pengembangan marina terbaru karena kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini dinilai menjadi magnet baru bagi wisatawan mancanegara.

Angka wisman pada 2013 di daerah ini hanya berjumlah 10.462 orang, setahun berikutnya Banyuwangi telah dikunjungi 30.681 wisman. Alasan kedua, Banyuwangi punya kekayaan alam dan budaya yang bisa menjadi daya tarik bagi pemilik kapal pesiar. Obyek wisata selama ini adalah Gunung Ijen, surfing di Pantai Plengkung, Taman Nasional Alas Purwo, Meru Betiri dan tradisi masyarakat etnis Using.

Presiden Direktur PT. Pelindo Properti Indonesia (PPI) Prasetyo menjelaskan, untuk mendukung pembangunan pelabuhan marina di Pantai Boom tersebut akan dibagi dalam tiga zona. Yaitu, zona marina, zona residensial dan zona rekreasi. Zona marina, kata dia, dikembangkan di pantai barat seluas 9,6 hektare dengan luas kolam 4,75 ha yang selama ini menjadi tempat sandar kapal-kapal nelayan.

Diperkirakan bisa menampung 200 kapal pesiar, tulis Prasetyo dalam siaran persnya kepada Tempo, pertengahan September 2015. Selain itu, marina tersebut juga dilengkapi area parkir kering untuk menampung 75 yacth atau kapal pesiar kecil. Sedangkan zona residensial terdiri atas dua hotel bintang lima, resort dan villa.

Sementara zona rekreasi antara lain terdiri atas kebun hidroponik, area berkemah, kolam ikan dan kolam renang, area berkuda dan restoran. Dengan melibatkan arsitek nasional, Ahmad Juhara, Pelabuhan Marina Banyuwangi yang sudah dimulai sejak 12 September 2015 ditargetkan selesai pada 2017. Nantinya, untuk memperkenalkan Marina Banyuwangi kepada dunia, Pelindo III akan menggelar event Fremantle to Banyuwangi Yacht Race & Rally pada 2017.

Dalam dokumen Studi Kelayakan Pelabuhan Marina Banyuwangi yang diperoleh Tempo, investasi keseluruhan proyek itu sebesar Rp 575 miliar. Investasi meliputi zona marina (Rp 216 miliar), wahana bahari (Rp 163 miliar), investasi hotel (Rp 122 miliar) dan investasi ecopark (Rp 73 miliar). Sedangkan investasi Pemkab Banyuwangi untuk revitalisasi sungai dan pembebasan lahan sebesar Rp 59,9 miliar.

Dari investasi tersebut, break event point diperkirakan terjadi selama 11 tahun 5 bulan. Potensi pendapatan antara lain berasal dari parkir kering yacht yang biasanya akan tinggal selama 60 hari dengan tarif mulai Rp 330 ribu Rp 750 ribu per hari. Parkir transit untuk lama tinggal tiga hari, tarifnya antara Rp 210 ribu Rp 500 ribu.

Tarif parkir cruise yang berukuran lebih dari 200 meter sebesar Rp 7,5 juta. Sedangkan tarif parkir basah yacht dengan lama tinggal 30 hari mulai Rp 210 ribu hingga Rp 500 ribu per hari. Potensi bisnis lainnya, menurut dokumen Studi Kelayakan itu juga berasal dari resort, restoran, ecopark, dan wisata bahari. Perolehan pajak untuk Banyuwangi totalnya diperkirakan hingga Rp 20 miliar dan ke pemerintah pusat Rp 18 miliar.

PT PPI menargetkan pada 2017, marina Banyuwangi telah dikunjungi minimal 40 unit yacht untuk transit, 5 unit yacht di parkir kering, 15 yacht di parkir basah dan 6 unit cruise. Bangun Swastanto menjelaskan, PT Pelindo Property melibatkan Institut Teknologi Bandung untuk meneliti arus sedimentasi yang menjadi persoalan utama di Pantai Boom.

“Hasil penelitian itu akan menentukan bagaimana rekayasa teknologi yang diterapkan agar sedimentasi tidak berulang. Pemkab juga kebagian menormalisasi kondisi air sungai yang bermuara ke Pantai Boom,” kata dia. Pelabuhan Marina Banyuwangi nantinya dikelola oleh badan usaha khusus yang dibentuk patungan oleh PT PPI dan Pemkab Banyuwangi.

Dekan Fakultas Teknik Kelautan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Suntoyo, menilai Banyuwangi kurang tepat sebagai lokasi Pelabuhan Marina karena secara umum perekonomian masyarakatnya belum kuat. Padahal marina, kata dia, hanya cocok bila masyarakat pendukungnya punya ekonomi yang mapan seperti Bali dan Jakarta.

“Apalagi wisata Banyuwangi belum terkenal di luar negeri,” kata Suntoyo dihubungi Tempo, 23 Oktober 2015. Konsep pembangunan yang baik,” kata Suntoyo, adalah yang tidak menciptakan ketimpangan ekonomi dengan warga sekitar. Sebaliknya, harus bisa mensejahterakan masyarakat lokal. Sementara kenyataannya, warga sekitar Boom banyak yang bekerja sebagai nelayan dengan tingkat pendidikan dan ekonomi yang terbatas.

“Sedangkan kawasan marina lebih membutuhkan SDM berpendidikan khusus sebagai pekerja di hotel bintang lima dan restoran mewah. Banyuwangi lebih baik memperkuat sektor perikanan,” katanya. Kordinator Kelompok Nelayan Mandar, Jumal, mengatakan, pembangunan marina seharusnya juga diimbangi dengan memperhatikan nasib nelayan.

Sebab dia khawatir kehadiran kapal-kapal pesiar akan membatasi aktivitas nelayan yang turun-temurun hidup di Kelurahan Mandar, sekitar Pantai Boom. “Saya heran kenapa pemerintah lebih memperhatikan orang luar dulu, daripada kami rakyatnya sendiri,” keluh Jumal. Di Kelurahan Kampung Mandar, kata Jumal, ada 200an nelayan dengan 111 perahu besar dan kecil. Tangkapan ikan sesuai data Dinas Kelautan dan Perikanan rata-rata mencapai 200 ton per bulan atau 2.400 ton per tahun.

Dulunya, jumlah nelayan Kelurahan Kampung Mandar lebih banyak. Namun karena kesejahteraan terus terpuruk, sebagian besar nelayan menjual kapal dan beralih ke pekerjaan lain seperti menjadi buruh dan pedagang pasar. Nelayan terpuruk, karena makin susah mencari ikan. Cuaca yang tak menentu, air laut tercemar limbah dan banyaknya sampah, menjadi serangkaian penyebab ikan-ikan menjadi langka.

Seperti tiga hari lalu. Jumal hanya mendapatkan 7 kilogram cumi-cumi seharga Rp 30 ribu per kg sehingga penghasilan totalnya Rp 210 ribu. Uang yang dibawa pulang itu tak sebanding dengan ongkos solar dan makan untuk melaut sebesar Rp 600 ribu. Padahal dulunya, ia bisa menangkap ikan hingga lebih dari 15 kg per hari. Sekarang lebih banyak tekornya, terpaksa utang ke rentenir, kata pria 60 tahun ini.

(red/ambertus/usi/urek/LLH)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!