Kisah Tunawisma yang Jadi Pejabat Tinggi Intel

redaksi.co.id - Kisah Tunawisma yang Jadi Pejabat Tinggi Intel Nasib orang tidak ada yang tahu. Bisa saja, orang yang kini hidup miskin tak berkecukupan, menjadi kaya...

37 0

redaksi.co.id – Kisah Tunawisma yang Jadi Pejabat Tinggi Intel

Nasib orang tidak ada yang tahu. Bisa saja, orang yang kini hidup miskin tak berkecukupan, menjadi kaya raya suatu hari. Atau orang yang dulu tak punya rumah, nanti akan tinggal di rumah besar, mewah nan megah. Hal itu dialami oleh Wakil Presiden Intel Diane Bryant yang sempat menjadi tunawisma.

Seperti yang dilansir dari laman Business Insider, Senin (2/11/2015), wanita sukses dengan kekayaan mencapai US$ 10 miliar tersebut mengaku harus rela mengikuti peraturan ayahnya pergi dari rumah ketika umurnya menginjak 18 tahun. Ia pun sempat merasakan menjadi tuna wisma yang berpindah-pindah tempat tinggal demi menyelesaikan sekolahnya.

Bryant mengaku bahwa pengalaman pahitnya menjadi tuna wisma dahulu lah yang akhirnya memaksanya untuk bekerja lebih keras. Ia pun memilih menjadi seorang insyinur karena pekerjaan tersebut dapat menghasilkanuang yang banyak.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di UC Davis jurusan Teknik Elektro, Bryant pun bekerja di salah satu perusahaan teknologi terbesar dunia, Intel.

Awalnya saya tertarik bekerja disini hanya karena gaji besar yang bisa didapat. Namun sekarang saya merasa salah akan hal tersebut, ujarnya sambil tertawa.

Tidak lama setelah bekerja di Intel, ia pun sadar ternyata dunia teknik dan teknologi merupakan bagian besar dalam hidupnya.

Kecintaanya dalam berinovasi dan menemukan solusi dari berbagai permasalahan kompleks merupakan sesuatu yang akhirnya membuatnya berhasil menggapai tangga kesuksesan.

Itulah yang membuat saya bertahan. Saya bekerja disini bukan lagi karena uang, tapi karena kecintaan saya pada industri ini tuturnya.

Kini Bryant memegang salah satu posisi terpenting di Intel. Sebagai wakil presiden senior dan mantan Chief Information Officer (CIO) dari Intel Data Center Group, ia menyumbang US$ 10 miliar atau atau setara dengan Rp 136,9 triliun rupiah dari total Rp 730,1 triliun keuntungan perusahaan. Tidak hanya itu, Bryant juga merupakan satu dari sedikit wanita yang mampu menapaki tangga sukses di industri teknologi yang biasanya didominasi oleh pria. (Vna/Zul)

(red/urista/urnamasari/NP)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!