Pakar: Lagu Nina Bobok Memiliki Makna tidak Mendidik

161

redaksi.co.id – Pakar: Lagu Nina Bobok Memiliki Makna tidak Mendidik

MALANG — Kurangnya hiburan lagu anak di Indonesia membuat Lembaga Kebudayaan (LK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan workshop penciptaan lagu anak. Bukan lagu anak biasa yang diciptakan, melainkan lagu yang edukatif dan Islami.

“Cara merusak moral bangsa itu sangat gampang, hancurkan kebudayaannya, maka bangsa ini akan hancur,” ungkap pencipta lagu anak sekaligus pendiri Bumi Jogja Studio Sigit Baskara dalam workshop ‘Penciptaan Lagu Anak-Anak yang Edukatif dan Islami’ di Theater UMM Dome, Senin (9/11). Kegiatan itu diikuti sekitar 200 peserta dari mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) serta guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan TK se-Jawa Timur.

Sigit menilai, lagu yang dinyanyikan anak saat ini kurang edukatif. Isinya kurang memiliki makna yang mendidik. Dia mencontohkan lagu Nina Bobok, yang menceritakan seorang anak bernama Nina yang jika tidak segera tidur akan digigit nyamuk. Padahal, lanjut Sigit, nyamuk adalah hewan yang sering menyebabkan kematian. Sigit mengaku prihatin jika lagu tersebut dinyanyikan ibu kepada anak.

Kepala LK UMM Dr Tri Sulistyaningsih MSi mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk dedikasi LK terhadap kebudayaan dan pendidikan yang berkembang saat ini.

Anak usia dini dan anak TK adalah masa-masa golden age yang dapat dimanfaatkan untuk memberikan pembelajaran atitude, serta budaya yang baik dalam bertutur dan bertingkah laku. Pendidikan yang mereka terima pada masa inilah yang akan dibawa sampai mereka besar nanti, ujarnya.

Titis Anggraini, peserta perwakilan dari TK Darmawanita Dau, Malang, yang mengikuti kegiatan workshop tersebut mengaku senang karena mendapat banyak ilmu baru tentang lagu edukatif dan Islami yang bisa diajarkan pada anak-anak.

Selama ini saya hanya mengajarkan lagu-lagu lama dan tidak menyadari bahwa lagu-lagu tersebut kurang mendidik. Dengan adanya workshop ini, ke depan saya akan mengajarkan lagu-lagu yang lebih mendidik dan Islami,” ungkap Titis.

(red/endarmono/l/idarto/HAS)

loading...

Comments

comments!