Argentina-Brasil, Rivalitas Nan Bersahabat

redaksi.co.id - Argentina-Brasil, Rivalitas Nan Bersahabat Pertanyaan besar muncul ketika Argentina dan Brasil dipertemukan di suatu laga. Apakah keduanya masih menyimpan semangat rivalitas?Di atas lapangan, mungkin...

34 0

redaksi.co.id – Argentina-Brasil, Rivalitas Nan Bersahabat

Pertanyaan besar muncul ketika Argentina dan Brasil dipertemukan di suatu laga. Apakah keduanya masih menyimpan semangat rivalitas?

Di atas lapangan, mungkin iya. Baik Argentina mau pun Brasil pasti mencari kemenangan di setiap duel mereka. Tapi, rivalitas mereka hanya sebatas kemenangan, itu saja.

Jangan dulu menyamakan rivalitas Argentina-Brasil seperti rivalitas antara Barcelona dan Real Madrid, atau AC Milan dan FC Internazionale, atau juga Persib Bandung dan Persija Jakarta. Mungkin, bila konteksnya masa lalu, bisa dikatakan seperti itu. Tapi tidak saat ini.

Dalam satu dekade terakhir, baik Argentina mau pun Brasil menurunkan tensi rivalitas mereka. Banyak bukti yang mendukung premis itu.

Dua hari sebelum Piala Dunia 2014 dimulai, Argentina dan Brasil bahkan saling mendukung dengan harapan, tim nasional mereka bisa bersatu mencapai tujuan bersama, mewakili Amerika Selatan dengan menjadi juara di Piala Dunia. Sayangnya, mimpi mereka digugurkanJ erman.

Kehadiran Lionel Messi di lapangan bersama Argentina juga memunculkan kehangatan. Publik Brasil mengakui Messi adalah yang terbaik saat ini.

Buktinya, saat sesi latihan di Belo Horizonte beberapa waktu lalu, jelang laga di Piala Dunia 2014, fans Brasil memberikan penghormatan terbaik mereka, mulai dari memberikan hormat hingga melap sepatu Messi.

Ada juga yang memberikan sweater yang bisa didapatkan di mana saja kepada Messi.

“Para penonton Brasil itu tak ubahnya seperti Argentina.Persaingan (kami) hanyalah mitos,” kata seorang penggemar, Vinicius Andrade, 20.

Lalu sebelum akhirnya rivalitas itu memudar, bagaimana bisa muncul persaingan sengit antara Brasil dan Argentina di masa silam?

Friksi rivalitas Brasil dan Argentina di atas lapangan sudah tercipta sebelum Perang Dunia. Gara-garanya, Brasil tak mendukung Argentina yang memboikot Piala Dunia.Pada Piala Dunia 1938, tercipta protes keras dari dua negara adidaya sepakbola saat itu, Uruguay dan Argentina. Penyebabnya, kedua negara itu menginginkan pemilihan tuan rumah Piala Dunia yang adil dibagi dua benua pada tiap penyelenggaraannya.

Tapi Piala Dunia tetap di jalankan di Eropa, Prancis tepatnya. Padahal di Piala Dunia sebelumnya (1934), Eropa sudah kebagian saat Italia menjadi penyelenggara. Semua negara Amerika Selatan pun mencanangkan boikot, kecuali Brasil.Sejak itu, hubungan kedua negara Amerika Selatan itu pun membeku. Sejak itu pula, Tim Tango selalu memandang sinis terhadap Seleo tiap kali bersua di tengah rumput hijau.

Persaingan sempat terjadi di berbagai lini, masih dalam konteks sepakbola tentunya. Rivalitas antar pemain juga terjadi, termasuk diantaranya menentukan siapa yang terbaik dari yang terbaik di level pemain.

Angel Labruna atau Zizinho? Carlos Peucelle atau Leonidas da Silva? Antonio Sastre atau Heleno de Freitas? Manuel Moreno atau Didi? Alfredo Di Stefano atau Garrincha? Zico atau Mario Kempes?

Yang paling fenomenal dalam hal rivalitas, yang terus dijaga dan dipupuk sampai saat ini, adalah siapa yang terbaik antara Pele dan Diego Maradona. Pertanyaan itu kerap muncul, padahal keduanya berada di era yang berbeda.

Sukses kedua tim juga kerap dibanding-bandingkan satu sama lain. Brasil membanggakan kesuksesan memenangi lima trofi Piala Dunia, sementara Argentina baru dua kali.

Apa pun itu, rivalitas di antara kedua tim tetap terjaga sampai saat ini, tapi dalam artian rivalitas sehat. Simak saja perkataan Daniel Alves, penggawa Brasil dan Barcelona.

Orang Brasil dan Argentina hanya saling bersaing ketika kedua negara bertemu di lapangan. Di luar lapangan, kami adalah orang-orang yang punya hubungan kuat, satu sama lainnya. Yang memisahkan kami hanyalah sepakbola, tutur Alves.

Mereka punya rasa lapar untuk menang, begitu juga kami. Tapi seperti yang saya bilang, persaingan dalam sepakbola hanya satu-satunya pemisah antara hubungan baik kami, tuntasnya.

(red/hmad/yaiku/AS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!