Puluhan Ribu Gadis di Bawah Umur Hamil karena Diperkosa

redaksi.co.id - Puluhan Ribu Gadis di Bawah Umur Hamil karena Diperkosa Awalnya, bayi-bayi yang digendong gadis-gadis ini bisa saja dianggap merupakan saudara dari mereka. Namun ada...

1471 0

redaksi.co.id – Puluhan Ribu Gadis di Bawah Umur Hamil karena Diperkosa

Awalnya, bayi-bayi yang digendong gadis-gadis ini bisa saja dianggap merupakan saudara dari mereka. Namun ada kenyataan memilukan di balik hal ini.

Dikutip dari Daily Mail (10/11/2015), Guatemala, sebuah kota dimana seperempat dari bayi yang lahir di sini dilahirkan oleh seorang ibu yang masih sangat belia.

Tidak jarang, ada yang belum berusia 13 tahun. Pada 2011, 35 ibu baru di kota ini baru berusia 10 tahun.

Terbaru: Aris “Idol” dan Istri Sempat Terkunci saat Api Berkobar Membakar Mobil

Dalam beberapa hal, jumlah tersebut adalah sebagian dari aspek mengejutkan dari epidemi ini, yang dapat menyebabkan sang ibu dan anaknya berada dalam bahaya.

Seorang gadis asal Guatemala, Gloria, yang baru berusia 13 tahun, sudah hamil oleh seorang DJ klub malam berusia 22 Tahun. Ia tak merasa kalau ia sudah diperkosa, namun ia tak sadar dengan apa yang sudah terjadi. (Linda Forsell)

Hampir semua kehamilan yang dialami para remaja ini, sebanyak 90%, melibatkan keluarga, seperti sang paman ataupun sepupu.

Bahkan, sebanyak 30% anak-anak lahir akibat dari keterlibatan dari ayah kandung para remaja tersebut.

Trauma yang dialami para gadis belia ini, dimana hampir sebagian besar masih terlalu muda untuk mengerti apa yang telah terjadi pada mereka maupun belum pernah mengetahui apa itu kontrasepsi, terukir pada wajah para ibu dari gadis-gadis ini, seperti yang berhasil didokumentasikan oleh seorang fotografer berkebangsaan Swedia, Linda Forsell.

Setelah menjalani proses mendalami kejadian ini selama dua tahun, beberapa masyarakat pun akhirnya menceritakan kisah ini kepada Forsell, sembari bekerja.

Beberapa kisah memilukan pun diutarakan, mulai dari seorang gadis yang diikat di pohon saat seorang pria usia 53 tahun memperkosanya, seorang gadis berusia 12 tahun dijual kepada suaminya yang berusia 22 tahun.

Kemudian kisah seorang gadis yang masih sangat belia yang bahkan tak tahu kalau ia bisa saja hamil, saat seorang pria berusia 28 tahun mulai sering mengunjunginya sambil membawakan hadiah.

Pada 2014, ada sekitar 5.100 bayi yang terlahir dari ibu yang masih berusia di bawah 14 tahun. Pihak pemerintah kota ini pun berusaha untuk menghentikan permasalahan ini.

Akan tetapi, sebuah hukum baru telah diterapkan, dimana usia minimal untuk menikah adalah 18, dimana sebelumnya adalah 14 tahun.

Namun pada 2012, ada 2.000 kasus kelahiran yang dialami gadis di bawah usia 14 tahun, namun hanya delapan kasus yang bisa diselesaikan.

Hal ini membuat seorang jaksa penuntut umum bidang anak-anak dari Guatemala, Harold Flores, menjelaskan bahwa angka kelahiran dari remaja di kota ini merupakan hal yang mengerikan.

Masalah ini, menurut Mirna Montenegro, kepala dari Sexual and Reproductive Health Observatory (OSAR), bermula dari kepercayaan kaum laki-laki yang meyakini bahwa wanita adalah property dan milik mereka.

Kami pernah mendengar seorang ayah berkata Dia itu putriku dan dia itu milikku jadi aku bisa lakukan apapun kepadanya, ungkap Montenegro.

Kasus pemerkosaan dianggap merupakan sebuah peninggalan dari perang saudara yang pernah dialami Guatemala, yang terjadi selama 36 tahun hingga pertengahan tahun 1990, seperti yang diungkapkan Montenegro.

Diperkirakan sebanyak 100.000 wanita telah diperkosa pada masa-masa suram tersebut, dan hal ini dijadikan sebagai senjata oleh para pihak yang bertikai.

Ribuan wanita dari berbagai umur masih kerap mengalami kasus pemerkosaan setiap tahunnya.

Sekitar 10.000 wanita sudah berani untuk melaporkan kasus ini, dimana hanya satu dari 10 wanita ini yang bisa melihat pelaku pemerkosanya dihukum.

Hal ini, menurut Forsell, bahkan bukan merupakan ujung dari masalah tersebut.

Carolina Escobar, direktur dari La Alianza Guatemala, yang membangun tempat perlindungan di kota tersebut, mengatakan kepada Tico Times :

Guatemala memiliki budaya, rasa toleransi yang tinggi terhadap kejahatan seksual kepada wanita dan anak perempuan, dimana beberapa kasus seperti ini kerap berhasil dipecahkan.

Ini merupakan sebuah hal tabu yang kerap tak dibicarakan oleh masyarakat kita.

Namun, menurut Forsell, siklus pemerkosaan dan kehamilan remaja yang terus berputar bukanlah satu-satunya masalah yang timbul akibat kaum pria.

Saat pernah bertugas, ia pernah bertemu seorang ibu yang menjual anak perempuannya, seorang wanita yang tak melaporkan apa yang sudah terjadi karena hal ini dianggap normal, dan seorang suami yang menikahi gadis usia 12 tahun, yang yakin kalau mereka tak melakukan hal yang salah.

Biar kuperjelas : orang-orang ini harus merasakan akibat dari perbuatan mereka. Harus ada keadilan bagi orang-orang ini, namun tanpa adanya wanita, hal ini tak akan mungkin ada, ujarnya kepada MailOnline.

Orang-orang ini bukan orang jahat, mereka hanya meyakini kalau apa yang mereka lakukan itu benar.

Memang, sebagian keluarga akan melakukan caranya sendiri untuk menutupi kehamilan tersebut. Forsell meyakini bahwa hal ini dapat terjadi sebanyak 30 persen.

Helen Leiva, yang bekerja di sebuah badan amal, Tan Uxil, mengatakan kepada Guardian:

Keluarga di zaman sekarang tahu kalau para pria ini akan dilaporkan jika para gadis ini melahirkan di rumah sakit, jadi mereka memutuskan untuk melahirkan di rumah.

Meski begitu, Forsell melihat kemungkinan adanya masa depan yang lebih cerah bagi para remaja Guatemala yang sudah menjadi ibu ini.

Akan tetapi, peraturan baru yang diterapkan pemerintah bisa saja mengubah hal tersebut.

Terlebih lagi, perkembangan internet yang semakin pesat dapat membuat seseorang lebih sadar akan peristiwa yang terjadi di tempat lain.

Hal ini nantinya, akan semakin membuat orang-orang mempertanyakan norma sosial di masa yang akan datang.

Problem ini sama seperti nyeri saat persalinan, ujar Forsell.

Hal ini menjadi rasa sakit, sebelum akhirnya bisa dikeluarkan. Aku rasa masih ada harapan. lanjutnya.

(red/aini/J)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!