Tokoh Senior Anggap Ical dan Agung Laksono Gagal Pimpin Golkar

211

redaksi.co.id – Tokoh Senior Anggap Ical dan Agung Laksono Gagal Pimpin Golkar

Poros Muda Golkar kembali melakukan silaturahmi dengan tokoh senior partai berlambang pohon beringin.

Mereka kini menemui Mantan Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Abdul Latief di Pasaraya, Blok M, Jakarta, Minggu (15/11/2015) sore.

Abdul Latief menilai Ketua Umum Golkar baik Aburizal Bakrie (Ical) dan Agung Laksono telah gagal memimpin partai.

Baik Ical dan Agung merupakan pengurus hasil Munas Riau. Abdul melihat dalam prespektif pemilihan legislatif dimana Golkar mengalami kekalahan.

“Golkar kalah kita harus ganti pimpinan. Change. Beri kesempatan kepada yang lain. Dua-duanya harus mundur, untuk mundur serahkan yang lain untuk buat program nyata,” kata Abdul Latief.

Poros Muda Golkar yang menemui Menteri Tenaga Kerja era Soeharto itu antara lain Andi Sinulingga, Lamhot Sinaga, Melky Laka Lena, dan Ace Hasan Syadzily. Abdul melihat program kaderisasi kini tidak berjalan di Golkar. Oleh karenanya, ia mengapresiasi kedatangan Poros Muda Golkar.

“Pemimpin yang menjadi pengurus yang gagal mengundurkan diri lalu buat Munas Luar Biasa,” kata Abdul.

Menurut Abdul, pengurus yang ada saat ini memberikan kesempatan kepada kader lainnya untuk bertarung dalam Munas Luar Biasa. Ical dan Agung juga dipersilahkan untuk maju dalam Munaslub.

“Tapi tidak elok, sudah kalah mau maju lagi apa pembaruannya, rakyat enggak bodoh, kita mau menang atau kalah. Dorong tokoh pembaharu untuk maju,” imbuhnya.

Abdul menuturkan bila pengurus Golkar terus bertikai maka tidak ada target pemenangan yang dapat dicapai. Padahal, prestasi Golkar harus dimunculkan dengan kerjanya para kader ditengah masyarakat.

“Sekarang ribut gimana mau menang. Ini sudah berkelahi berjemaah. Saya tidak mau disini dan di sana, saya ingin munas yang bersih muncul tokoh muda,” katanya.

Sementara, salah satu anggota Poros Muda Golkar Ace Hasan Syadzily mengatakan, pernyataan Abdul Latief sangat lugas dan tegas terkait konflik ditubuh partai berlambang pohon beringin itu.

“Kami menilai ada yang hilang dari Golkar soal moralitas, etika yang seharusnya diajarkan ke kami untuk membangun etika politik,” tuturnya.

(red/ahyu/etyo/armawan/WSD)

loading...

Comments

comments!