Kisah Para Wanita Bomber Bunuh Diri

redaksi.co.id - Kisah Para Wanita Bomber Bunuh Diri Pada perburuan dan penggerebekan pelaku teror Paris, Rabu 18 November 2015 lalu, salah seorang yang diincar polisi meledakkan...

13 0

redaksi.co.id – Kisah Para Wanita Bomber Bunuh Diri

Pada perburuan dan penggerebekan pelaku teror Paris, Rabu 18 November 2015 lalu, salah seorang yang diincar polisi meledakkan dirinya. Pelaku itu diketahui seorang perempuan.

Perempuan dan teroris adalah suatu entitas yang tak bisa terpisahkan. Kendati hampir semua teroris adalah pria, tak sedikit para bomber bunuh diri adalah kaum hawa.

Jauh sebelum kelompok militan Islam berkembang secara pesat, bomber perempuan banyak berasal dari kelompok kiri dan grup seperatis di dunia.

Berikut kisah-kisah perempuan bomber bernyali ganda meledakkan dirinya demi sesuatu yang menurutnya layak dipertahankan, seperti dilansir dari slttoday.com, Kamis (19/11/2015)

Selama 18 tahun penjajahan Israel di selatan Lebanon yang berakhir pada 2000, beberapa perempuan dari kelompok sayap kiri meledakkan diri dengan target prajurit Israel.

Salah satu yang tekenal adalah Sanaa Mheidly, gadis berusia 17 tahun itu meledakkan dirinya di tengah-tengah prajurit Israel yang tengah konvoi militer pada 1985. Puluhan tentara tewas sementara belasan terluka.

Ia menjadi wanita pertama yang berani mati dengan cara meledakkan diri.

Di teritori Palestina, lusinan perempuan memakai rompi berisi bahan peledak. Mereka lalu mendekat ke arah pasukan Israel dan detonator pun dinyalakan. Kenekatan itu dimulai pada 2002. Termasuk Wafa Idris, paramedis berusia 27 tahun yang meledakkan dirinya pada 27 Januari 2002.

Perseteruan Sri Lanka, India, dan Tamil tak lepas dari perempuan di baliknya. Perempuan Tamil Sri Lanka menyebut, barikade bom bunuh dirinya bernama Female Black Tigers. Lebih dari 330 bom bunuh diri dilakukan perempuan-perempuan itu.

Penyerangan pertama dilakukan oleh Vallipuram Vasanthan pada 1987. Ia mengendarai bus kecil dengan muatan bahan peledak. Ia memasuki kamp militer Sri Lanka lalu meledakkan dirinya dan membunuh 100 tentara.

Yang paling epik yang pernah kelompok itu lalukan adalah bom bunuh diri yang dilakukan Thenmozhi Rajaratnam alias Dhanu. Ia adalah eksekutor mantan Perdana Menteri India, Rajiv Gandhi. Ia seorang perempuan Tamil yang diperkosa pasukan India, Peace Keeping Force. Sebagai balas dendamnya, ia meledakkan diri sehingga membunuh PM India Rajiv Gandhi.

Pada 21 Mei 1991, Rajiv Gandhi sedang melakukan kampanye pemilu di Sriperumbudur, 30 mil dari Chennai, ibukota Tamil Nadu. Ia berjalan dari mobilnya menuju podium, dikalungi karangan bunga para pendukungnya.

Tepat pukul 10.21, Dhanu, dengan bom melekat di tubuhnya mendekati Rajiv Gandhi, memberikan selamat.

Perempuan itu lalu membungkuk menyentuh kaki sang perdana menteri, sekaligus meledakkan sabuk bunuh diri RDX yang sarat bahan peledak yang terselip di dalam gaunnya. Hanya beberapa saat kemudian, nyawa Rajiv Gandhi dan 14 orang lainnya melayang.

Seperti dimuat Sunday Observer, 19 Mei 2013, momentum tewasnya Gandhi terekam kamera seorang fotografer lokal, yang tragisnya juga tewas dalam insiden itu, dan 16 orang sipil lainnya.

Pada Mei 1993, Black Tiger membunuh Presiden Sri Lanka Ranashighe Premadasa dalam sebuah parade. Seorang perempuan melebur bersama para penonton dan meledakkan dirinya.

Kaum hawa Kurdi telah melancarkan beberapa bom bunuh diri semenjak 1980-an. Mereka adalah kelompok sayap kiri yang berseteru dengan Pemerintah Turki.

Serangan terbaru terjadi pada 6 Januari tahun ini. Seorang perempuan melakukan bom bunuh diri di sebuah pos polisi di Istanbul. Satu orang petugas tewas dan melukai lusinan lainnya.

Kelompok Revolutionary People’s Liberation Party-Front atau DHKP-C bertanggung jawab atas serangan itu. Mereka mengatakan, serangan itu adalah ‘tindakan pengorbanan diri’.

Kaum Kurdi adalah kelompok minoritas. Selain mereka menghadapi Turki, kini mereka menghadapi ISIS. Pada Oktober 2014, pejuang Kurdi yang terkenal dengan YPG atau People Protection Unit, meledakkan dirinya di Kobani, Irak.

Ia adalah Arin Mirkan, salah satu pemimpin pasukan perempuan YPG. 27 Anggota ISIS tewas dalam serangan tunggalnya yang mematikan itu.

Shahidka atau black widow adalah kelompok janda Chechnya yang suami-suaminya tewas di tangan tentara Rusia. Bomber pertama kelompok itu adalah Khava Barayeva. Ia meledakkan dirinya pada Juni 2000 di markas tentara Rusia.

Serangan paling mematikan oleh mereka terjadi pada 1 September 2004. Dua wanita Checnya, Roza Nagayeva dan Mairam Taburova, meledakkan diri di sekolah Beslan, Rusia. 334 Orang tewas termasuk 186 anak-anak.

Pada 29 Maret 2010, 40 orang tewas sementara 100 terluka atas ledakan bunuh diri yang dilakukan dua Shahidka. Satu pelaku, Dzhennet Abdurakhmanova, adalah janda Umalat Magomedov yang tewas oleh tentara Rusia pada 31 Desember 2009.

Satu dekade lalu, 9 November 2005, Sajida al-Rishawi dan suaminya, Ali al-Shamari, memasuki sebuah ballroom hotel Amman, Yordania di mana sebuah perayaan pernikahan sedang diselenggarakan.

Al-Shamari meledakkan dirinya di tengah-tengah para tamu dan menewaskan ratusan orang. Sementara istrinya Sajida berhasil kabur.

Pemimpin Al Qaeda Abu Musab al-Zarqawi dalam keteranganya mengatakan, ia bertanggung jawab atas serangan itu, dan menyebutkan bahwa perempuan itu terlibat dalam insiden tersebut. Seharusnya ia turut meledakkan dirinya. Pihak keamanan Yordania berhasil menangkap Sajida. Ia ditemukan dengan bahan peledak di seluruh tubuhnya.

Sajida dieksekusi oleh Pemerintah Yordania awal 2015.

Kelompok teroris itu selalu bangga memposting video dan foto-foto para ‘pejuang’ yang bersiap melakukan serangan bom bunuh diri. Namun, mereka tak pernah memposting para penyerang perempuan. Kendati demikian, mereka mempunyai kelompok khusus perempuan siap mati yang dinamai Khansaa.

Pada 2010, Abu Omar al-Baghdadi pemimpin ISIS di Irak, mengatakan di depan para ulama kelompok itu bahwa perempuan tidak perlu menjadi bomber bunuh diri. Pun ketika ia digantikan oleh Abu Bakr al-Baghdadi, aturan itu tetap berlaku.

Namun kenyataannya, mereka membentuk brigade Al-Khansaa. Dibentuk pada 2014 dan bertujuan untuk menghukum perempuan dan anak-anak yang tidak mengikuti hukum syriah di Raqqa.

Anggotanya banyak dari para pemujanya, janda anggota ISIS yang tewas, dan hasil rekrutan luar negeri. Ada 60 anggota Al-Khansaa dari Inggris dikomandani oleh Aqsa Mahmood, perempuan berusia 20 tahun yang berhasil kabur dari sekolahnya pada November 2014.

Kendati mereka tak bertugas sebagai bomber bunuh diri, mereka siap meledakkan diri apabila tertangkap.

Hal itu rupanya berlaku pada pelaku yang digerebek polisi Paris di Saint Denis, Rabu 18 November 2015. Hasna Aitboulahcen meledakkan dirinya tatkala ia berada di tengah kepungan para aparat polisi.

Meski ISIS mengatakan mereka bertanggung jawab atas serangan teror Paris, namun belum dipastikan apakah Aitboulahcen menjadi anggota ISIS atau bukan.

(red//ainuddin/MZ)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!