Sisi Kelam Pramugari Selain Desahan di Kokpit

503

redaksi.co.id – Sisi Kelam Pramugari Selain Desahan di Kokpit

Laporan seorang penumpang yang mengaku mendengar suara desahan di kokpit pesawat Lion Air JT 990 rute penerbangan Surabaya-Denpasar, Sabtu, 14 November 2015 membuat geger dunia penerbangan. Tak banyak yang tahu bahwa dunia penerbangan memang memiliki sisi kelam.

Seorang pramugari maskapai Singapore Airlines membeberkan bahwa profesi sebagai flight attendant tak senikmat yang dibayangkan. Hidup mewah dan memiliki gaji besar.

Dalam blog-nya, wanita yang disebutkan bernama Hillary itu menuliskan sisi kelam saat bertugas di udara.

Mulai dari bekerja sangat keras, dilecehkan penumpang, dan dikelilingi oleh godaan lain, baik dari rekan kerja sendiri maupun minuman keras.

“Terbang menjadi hal buruk terutama jika Anda terperosok ke dalam godaan, seperti gadis-gadis cantik, pria-pria tampan, dan kamar hotel bintang empat. Dilingkungan kerja, Anda juga benar-benar harus tetap waspada dan bertahan dari godaan dari minuman keras, rokok, pesta dan lain-lain. Tidak semua melakukannya, tetapi sebagian besar demikian,” kata dia.

Bekerja Diforsir

Dalam artikel yang dikutip dari News.com.au, Kamis (19/11/2015), Hillary mengaku sudah berhenti dari pekerjaannya pada Mei 2014.

“Sekarang aku sudah berhenti terbang dan merasa umurku lebih muda 10 tahun… Setelah berhenti, orangtuaku bilang aku sudah menjadi diriku lagi. Aku tak lagi suka kesal dan cepat marah, bahkan saat ini sikapku lebih baik,” tutur dia.

Ia mengaku mencintai pekerjaan sekaligus juga membencinya. Dari luar kehidupan pramugari terlihat begitu glamor dan menyenangkan, bisa berbelanja di Paris, ke Amerika Serikat, sarapan di Tokyo dan makan siang di LA, tapi pekerjaan itu sulit. “Awak pesawat benar-benar bekerja sangat keras untuk uang!” kata Hillary.

“Anda bukan hanya seorang pelayan di udara, tetapi juga petugas keamanan, porter, bartender, tukang bersih toilet, polisi, pengasuh, pembantu dan masih banyak lagi. Banyak gadis tidak tahu ini sebelum mereka bergabung dan shock setelah tahu kehidupan mereka ketika bertugas…”

“Aku menangis karena takut pergi bekerja… kerja nonstop di mana Anda benar-benar bekerja sepanjang perjalanan ke London. Juga karena aku tak ingin berada jauh dari keluarga.”

Sesuatu yang menurut Hillary membuatnya bahagia adalah sikap penumpang yang baik.

“Kadang-kadang, penumpang benar-benar bersikap sangat manis. Mereka akan membelikan makanan untuk kru, misalnya snack, makanan ringan, dan hal sederhana ini membuat kita sangat senang karena kita merasa seperti kita sedang dihargai dan itu adalah cara yang baik untuk mencetak poin juga.”

“Terlepas dari sisi tidak begitu baik tentang pekerjaan, saya benar-benar menikmati hidup awak kabin selama 2 tahun. Uang yang baik, makanan yang mengagumkan dari berbagai negara, orang-orang yang saya temui dan pelajaran yang telah saya pelajari.”

Gaji Tak Meningkat

Hal terakhir yang membuat Hilary memutuskan untuk berhenti menjadi pramugari adalah gaji. Menurut dia, gaji pramugari Singapore Airlines tidak mengalami peningkatan signifikan dari bertahun-tahun lalu.

“Sekitar 30 tahun lalu, kru mendapat gaji SG$ 5 ribu (Rp 49 juta) setiap bulan. Sekitar 30 tahun kemudian, mereka hanya mendapat gaji minimal SG$ 3.300 (Rp 32 juta) per bulan. Pada bulan baik bisa mendapat SG$ 4.700 (Rp 46 juta), tapi mengapa 30 tahun lalu dan sekarang awak mendapat gaji yang sama? Malah lebih sedikit sekarang sebenarnya,” tanya Hilary dalam tulisannya.

“Dan perusahaan terus menurunkan gaji, sangat tidak layak untuk terbang sekarang,” ucap Hillary yang membuat posting-an tersebut dalam rangka setahun berhenti bekerja.

Sejauh ini pihak Singapore Airlines menolak untuk berkomentar.

(red/urista/urnamasari/NP)

loading...

Comments

comments!