Kiat Hemat Saat Belajar di Negeri Orang

redaksi.co.id - Kiat Hemat Saat Belajar di Negeri Orang Jangan Anda berprasangka bahwa biaya akomodasi selama studi di luar negeri selalu mahal, lebih lagi studi di...

48 0

redaksi.co.id – Kiat Hemat Saat Belajar di Negeri Orang

Jangan Anda berprasangka bahwa biaya akomodasi selama studi di luar negeri selalu mahal, lebih lagi studi di Eropa. Sebenarnya tidaklah seperti itu, tapi predikat mahal memang telanjur melekat. Padahal beberapa negara di Eropa justru menyediakan berbagai kemudahan bagi mahasiswa internasional. Apalagi jika Anda atau anak Anda memiliki prestasi atau nilai di atas rata-rata.

Yunius Cesar, Business Development Manager EduPlan Indonesia, mengatakan, sebenarnya biaya kuliah di Eropa hanya sepertiganya jika dibanding biaya kuliah di Australia dan Amerika. Anggapan bahwa biaya studi di Eropa yang lebih mahal, lebih tepat ditujukan ke Inggris dan lebih spesifik lagi di kota London. Ini disebabkan kurs mata uang Poundsterling yang tinggi dibandingkan dengan negara-negara tujuan belajar lain, jelas Yunius.

Wajar bila London mendapat predikat kota yang mahal. Setelah itu, baru diikuti oleh kota-kota besar lain di Inggris seperti Manchester dan Liverpool. Kalau kota kecil seperti Chester, sebenarnya biaya kuliah dan biaya hidupnya sama dengan kota lain di Belanda, Jerman, Perancis dan negara Scandinavia, imbuh Yunius lagi.

Sebagai konsultan pendidikan yang mencakup tujuan studi di negara Inggris, Swedia, Belanda, Denmark dan Hongaria, Yunius menjabarkan bahwa Belanda dan Denmark adalah dua negara yang memberikan berbagai kemudahan bagi mahasiswa internasional.

Pemerintah Belanda memberikan grant berupa pemotongan uang kuliah tahun pertama untuk mahasiswa S1 yang diterima di universitas Belanda. Syaratnya adalah dengan membuat esai, atau IELTS minimal 6,5. Mereka yang memenuhi syarat ini langsung mendapat potongan biaya kuliah EUR 5.000.

Tak hanya pemotongan biaya kuliah, universitas di Belanda juga mengerjakan seluruh proses pengajuan visa pelajar. Calon mahasiswa hanya menyediakan seluruh dokumen yang diminta sebagai syarat permohonan visa. Universitas yang akan mendaftarkan ke pihak imigrasi di Belanda, jadi mahasiswa tidak perlu membawa dokumen ke kedutaan Belanda, jelas Yunius.

Denmark, tepatnya di Zealand Institute Buiusness and Technology (ZIBAT) memberikan pembebasan uang kuliah selama setahun plus uang saku sebesar EUR 850 per bulan bagai mahasiswa yang tercatat memiliki prestasi tinggi.

Tapi, di luar biaya studi, sebenarnya yang harus diperhitungkan adalah akomodasi sehari-hari. Ini minimal untuk kebutuhan dasar seperti makan dan transportasi menuju kampus.

Sekedar gambaran biaya makan di Eropa yang tertinggi adalah di Inggris yakni antara GBP 250600 per bulan. Sedangkan biaya makan di kota kecil di Inggris berkisar GBP 150250 per bulan. Itu dengan makan tiga kali sehari, jelas Yunius.

Adapun biaya makan di Denmark berkisar 230 hingga 320 per bulan. Mahasiswa di Swedia membutuhkan biaya makan antara 200 hingga 250 per bulan. Kebutuhan untuk biaya makan di Belanda lebih rendah, yakni berkisar 180 hingga 250 per bulan. Dan, di Hongaria biaya makan berkisar 80 hingga 150 per bulan.

Biaya makan di atas merupakan kombinasi antara beli makanan jadi di restoran dan membeli bahan makanan di supermarket dan memasak sendiri. Menurut Nyimas Dian Fitriani, staf promosi Netherland Education Support Office (Neso), kebanyakan mahasiswa asal Indonesia memilih untuk masak sendiri demi menghemat biaya makan. Di Belanda harga per porsi makanan di kantin berkisar 5 hingga 10, sedang harga di restoran berkisar 15 hingga 25 per porsi, kata Nyimas. Enaknya, di Belanda sangat mudah menemukan restoran Asia yang menyajikan menu pas untuk lidah Indonesia.

Wedha Stratesti Yudha yang baru pulang dari belajar di Roma mengatakan hal yang sama. Lebih murah masak sendiri, kata lulusan Universitas della Calabria ini. Wedha biasa belanja dan memasak sendiri. Dia bilang, kalau jajan alias beli makanan, anggarannya sekitar 8 untuk sekali makan. Kalau masak sendiri, sekali makan bisa 2 sampai 4, ujarnya.

Untuk mendapatkan bahan mentah, Anda bisa berbelanja di pasar atau grocery store. Bumbu ala Asia, menurut Wedha, juga mudah didapat. Di kota-kota besar biasanya ada toko asia yang menjual bumbu atau mie, kata dia. Nah, jika kebetulan tinggal di kota kecil pun tak masalah, Anda bisa memanfaatkan belanja online demi mendapat bumbu.

Hal serupa dilakukan oleh Esti Rahayu, yang sekarang tinggal di Brisbane, Australia karena suaminya sedang menuntut ilmu di Griffith University. Kalau untuk makan sehari-hari, saya masak sendiri, ujar Esti yang lulusan Governors State University Illinois ini.

Tapi, sesekali Esti dan suaminya makan di luar. Kalau pas akhir pekan atau ada acara, kata dia. Jika makan di luar, setidaknya ia harus menyediakan AUD 10AUD 15 per orang. Sedangkan kalau masak sendiri, Esti cukup membeli seekor ayam yang sudah dibumbui harganya AUD 9. Bisa untuk dua kali makan, tuturnya.

Yunius biaya makan di Eropa memang lebih irit ketimbang di Australia, yang sekali makan di restoran Sidney berkisar AUD 12 hingga AUD 15.

Sepeda jadi andalan

Selain makan sehari-hari, siswa atau mahasiswa mesti memikirkan alat transportasi ke kampus. Menurut Esti, jarak antara tempat tinggalnya ke Griffith University sekitar 1,5 kilometer. Jadi, kadang suaminya berangkat ke kampus berjalan kaki atau naik bis. Kadang-kadang juga saya antar dengan mobil, ujar Esti. Ia menjual mobilnya di Jakarta dan membeli mobil bekas di sana. Lumayan juga, dengan begitu mereka tak pusing urusan transportasi.

Adapun Wedha mengatakan bahwa di Roma ada tiket langganan dengan tarif mahasiswa untuk bus, kereta bawah tanah (Metro), maupun tram. Atau bisa juga naik sepeda, jadi gratis, kata Wedha. Biaya sehari-hari siswa di luar negeri, jelas Wedha, memang paling banyak untuk makan dan transportasi.

Menurut Yunius biaya transportasi di Eropa paling tinggi di Inggris dan terendah di Hongaria. Sebagai gambaran biaya transportasi lokal per bulan sebagai berikut, Inggris GBP 30GBP 40, Swedia 50, Denmark 50, Belanda 2030, adapun di Hongaria 11.

Di Belanda ada kartu diskon yang bisa dibeli seharga 50 untuk setahun. Dengan kartu ini, penggunanya dapat diskon 40% setiap beli tiket transportasi di sana, jelas Nyimas.

Di Finlandia cukup dengan kartu reittiopass untuk naik bus, kereta, metro hingga kapal. Harganya 23/bulan dan dapat diskon 50% dengan sistem isi ulang seperti pulsa, jelas Tessa Ayuningtyas yang pernah kuliah di Helsinki.

(red/ovi/riawan/NT)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!