Idris, Raja Libya yang Terlupakan

522

redaksi.co.id – Idris, Raja Libya yang Terlupakan

Peta Libya modern tidak digambarkan dengan lengkap hingga pertengahan abad 20. Tanah itu diperebutkan oleh Ottoman, Italia, dan Inggris. Libya terdiri atas tiga provinsi kuno, Cyrenaica di timur, Tripolitania di barat, dan Fezzan di selatan. Gurun Ottoman di Provinsi Cyrenaica adalah tempat seorang keturunan Aljazair Muhammad ibnu Ali Senussi menemukan agama Islam sufinya pada akhir abad 18.

Ia mendirikan gerakan Senussi sebagai respons terhadap apa yang dilihatnya sebagai penurunan pemikiran dan spiritualitas Islam saat itu. Ketika delegasi PBB datang ke Libya, mereka mengatakan, Libya menderita kemiskinan, penyakit, dan buta huruf.

“Butuh keajaiban untuk bisa berdiri sendiri karena Libya tidak memiliki sumber daya,” kata mereka, saat itu.

Senussi akhirnya mengunjungi seluruh wilayah mulai dari utara, timur, dan selatan. Menurut ahli sejarah dan mantan aktivis politik Idris Al Harir, Senussi membangun Cyrenaica sebagai upaya berbuat baik untuk kemudian menjadikannya sebagai pusat kekuasaan politik.

Ia membangun 330 zawiyah, pusat studi agama, dan Jaghbub di perbatasan Mesir. Tempat ini menjadi fokus orde baru Libya Timur. Cyrenaica juga menjadi tempat cucu Senussi, Idris menjadi pemimpin United Libyan Kingdom. Dalam sebuah film dokumenter, Idris digambarkan sebagai raja pertama dan satu-satunya raja di Kerajaan Libya. Ia juga disebut-sebut sebagai raja Libya yang terlupakan.

Raja Idris memimpin sejak 1951 hingga Muammar Gaddafi memimpin dalam kudeta pada 1969. Mengingat peristiwa di Libya dalam lima dekade terakhir, kehidupan dan pemerintahan Idris tampaknya sekarang telah memudar dari kesadaran publik. Sejarah modern Libya sering dikaitkan hanya pada Gaddafi.

Dikutip dariAl Jazeera, kisah Idris digambarkan sebagai pemimpin yang menggantikan ayahnya memimpin rakyat Senussi dan mengeksplorasi tahun-tahun awal Libya. Perjalanannya ke Makkah untuk melakukan ibadah haji pada Perang Dunia I memberinya pemahaman tentang dunia politik di sekelilingnya.

Ia berziarah dan bertemu dengan Khedive Mesir, Wali Ottoman di Levant, Sharif Hussein di Hijaz. Dalam perjalanan pulang ke Cyrenaica, ia juga bertemu dengan para pemimpin militer Inggris di Mesir.Senussi didukung oleh Jerman dan Ottoman dalam Perang Dunia I, tapi berjuang sendiri melawan Italia pascaperang. Ketika Cyrenaica dan Tripolitania menjadi koloni Italia pada 1917, Benito Mussolini saat itu tetap mengakui Idris sebagai Emir dari Cyrenaica.

Dalam Perang Dunia II, Raja Idris dan Senussi membentuk aliansi dengan Inggris dalam kampanye mereka di Afrika Utara untuk mencoba dan mengakhiri pendudukan Italia. Ini membantu kekalahan Italia dan Jerman di Afrika pada 1943.

Idris juga membantu proses penyatuan Libya. Pada Desember 1951 ia menyatakan diri sebagai Raja dan memproklamiskan United Libya Kingdom. Dalam pidatonya di Manar Palace, Idris muncul dengan frase terkenalnya. “Menjaga kemandirian lebih sulit daripada mendapatkannya,” kata dia.

Baik sebelum dan selama pemerintahannya, ia dituduh menjadi boneka di tangan kekuatan Barat. Nasionalis Arab marah karena ia mempertahankan hubungan yang kuat dengan Barat. Pasalnya, pada awal 1950-an ia melakukan penawaran investasi dengan Inggris dan Amerika Serikat yang akhirnya membuat mereka membangun pangkalan militer di Libya sebagai imbalan pendanaan pembangunan Libya.Libya mulai makmur secara ekonomi setelah minyak ditemukan pada 1959 dan keuntungan mulai dihasilkan pada awal 1960-an. Kesehatan Idris mulai memburuk dan pada Agustus 1969 ia turun tahta.

(red/ega/wi/riesta/VDA)

loading...

Comments

comments!