Pertamina Alokasikan Dana Rp 100 Miliar untuk Komersialisasi Bandara Pondok Cabe

redaksi.co.id - Pertamina Alokasikan Dana Rp 100 Miliar untuk Komersialisasi Bandara Pondok Cabe Rencana PT Pertamina (Persero) untuk mengomersialkan Bandara Pondok Cabe ternyata tidak main-main. Buktinya,...

21 0

redaksi.co.id – Pertamina Alokasikan Dana Rp 100 Miliar untuk Komersialisasi Bandara Pondok Cabe

Rencana PT Pertamina (Persero) untuk mengomersialkan Bandara Pondok Cabe ternyata tidak main-main. Buktinya, Pertamina berkomitmen menggelontorkan dana sebesar Rp 100 miliar untuk merevitalisasi bandara yang selama ini dikelola Pelita Air Service.

“Dana sebesar Rp 100 miliar tersebut akan diterima secara bertahap kepada Pelita. Tahap pertama yang diterima Pelita yaitu sebesar Rp 50 miliar. Dana tersebut sebagian besar dialokasikan untuk overlay (penebalan landasan pacu, red),” ujar Pelaksana Tugas Direktur Utama Pelita Air Service, Rifky E Hardijanto, kepada Tribunnews.com, Rabu (2/12/2015).

Rifky mengatakan, dana yang sudah diterima Pelita sudah digunakan untuk melakukan overlay Bandara Pondok Cabe sekitar 1.700 meter dari yang sudah ada sepanjang 2.200 meter. Saat ini overlay bandara tersebut sudah berjalan, dan Pelita menargetkan overlay bisa selesai pada 20 Desember 2015. Setelah itu, bandara akan diaudit oleh Kementerian Perhubungan.

Selain overlay landasan pacu, Pelita Air juga akan mengganti pagar-pagar sekitar bandara untuk menjaga keamanan bandara dari hal-hal yang tidak diinginkan, mengingat bandara tersebut akan menjadi bandara komersial.

Hal yang lain yang akan dilakukan Pelita yaitu, sistem navigasi, termasuk lampu-lampu di landasan pacu. “Kami juga akan upgrade sistem di menara control untuk mendukung rencana kami menjadikan Pondok Cabe sebagai bandara komersial tipe B.”

Jika memang dijadikan berubah fungsi menjadi komersial, bandara yang memiliki luas sekitar 170 hektare itu diperkirakan memiliki kapasitas penumpang sekitar 600 ribu orang per tahun. “Dengan satu terminal yang kami miliki, saya perkirakan setiap bulan kapasitas penumpang bisa mencapai 1.700 hingga 2.000 orang per bulan.”

Bukan Monopoli

Sementara itu, Rifki menuturkan, meskipun Pertamina dan PT Garuda Indonesia Airlines Tbk sudah menandatangani Head of Agreement (HoA), bukan berarti maskapai yang bisa terbang dari Pondok Cabe hanya Garuda. Slot penerbangan untuk maskapai lain masih terbuka jika memang tertarik membuka rute dari Pondok Cabe.

“Bukan monopoli. maskapai lain bisa terbang juga dari sini (Pondok Cabe, red),” tegasnya.

Tapi, dengan panjang runway mencapai 2.200, kata Rifky, Bandara Pondok Cabe paling cocok diterbangi oleh jenis pesawat ATR 72600 yang selama ini dimiliki Garuda Indonesia.

Seperti diketahui, kemarin Garuda memang sudah menyiapkan pesawat yang akan beroperasi di Pondok Cabe yaitu ATR 72-600. Sedangkan, destinasi yang akan dilayani antara lain Lubuk Linggau, Samarinda, Pangkalan Bun, Palembang, Tanjung Karang, Semarang, Ketapang, dan Yogyakarta.

Sebelumnya, Pertamina dan Garuda Indonesia menandatangani Head of Agreement (HoA) yang bertujuan memanfaatkan aset bersama kedua perusahaan sebagai bagian dari sinergi BUMN dan strategi kemitraan global.

Kemitraan global dan sinergi ini melingkupi beberapa hal, antara lain pemanfaatan bersama aset-aset aviasi kedua perusahaan. Pada realisasinya Bandara Pondok Cabe milik anak perusahaan Pertamina, Pelita Air Service akan dikembangkan kedua perusahaan BUMN itu.

Selain pengembangan Bandara Pondok Cabe, ada juga penjualan produk Avtur dan BBM jenis lainnya, Biofuel, pelumas, penyediaan jasa pendukung layanan aviasi kedua perusahaan. Selain itu ada pemanfaatan promosi dan jaringan pelanggan bersama.

Target Revenue

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto, menargetkan pendapatan sebesar Rp 40 miliar jika Bandara Pondok Cabe bertransformasi menjadi bandara komersial.

Kemarin, Dwi sendiri mengaku malu kepada Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno, melihat target pendapatan dari pengelolaan Bandara Pondok Cabe hanya Rp 40 miliar. Menurut Dwi jika sudah berurusan dengan Menteri Rini, pendapatan minimal sudah triliunan.

“Penggunaan lapangan Pondok Cabe bisa memberikan dampak revenue Rp 40 miliar per tahun. Kok sedikit yah, kalau bu menteri harus bicara bisa triliunan,” ujar Dwi.

Dwi memaparkan penggunaan Pondok Cabe merupakan tindak lanjut dari arahan Menteri BUMN Rini Soemarno untuk semua BUMN bisa bersinergi.

(red/andhi/urhartanto/SN)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!