Pemerintah Cari Utang Rp 605 Triliun pada Tahun Depan

redaksi.co.id - Pemerintah Cari Utang Rp 605 Triliun pada Tahun Depan Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menyatakan, total kebutuhan utang...

9 0

redaksi.co.id – Pemerintah Cari Utang Rp 605 Triliun pada Tahun Depan

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menyatakan, total kebutuhan utang (gross) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016 mencapai Rp 605,3 triliun.

Pemenuhan utang tersebut salah satunya dialokasikan untuk menambal defisit anggaran yang dipatok 2,15 persen atau Rp 273,2 triliun di tahun depan. Dirjen DJPPR, Robert Pakpahan menyampaikan hal itu saat acara Investor Gathering 2015 “Bersama Membangun Indonesia.”

“Total kebutuhan pembiayaan utang yang harus dicari sebesar Rp 605,3 triliun. Itu secara gross atau kotor,” ujar dia di Gedung Dhanapala, Kemenkeu, Jakarta, Senin (7/12/2015).

Robert menuturkan, utang atau pinjaman tersebut akan dipenuhi dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) gross senilai Rp 532,4 triliun, penarikan pinjaman luar negeri non SLA sebesar Rp 69,2 triliun serta penarikan pinjaman dalam negeri senilai Rp 3,7 triliun.

“Pembiayaan utang Rp 605,3 triliun ini untuk menutup defisit anggaran di 2016 sebesar Rp 273,2 triliun, investasi Penyertaan Modal Negara (PMN) Rp 58,1 triliun, membiayai utang yang jatuh tempo Rp 256 triliun, pengelolaan portofolio utang Rp 3 triliun dan SPN cash management Rp 15 triliun,” papar dia.

Robert menuturkan, mencari sumber pembiayaan utang ini, pemerintah Indonesia akan menghadapi tantangan cukup besar di tahun depan, di antaranya ketidakpastian kondisi keuangan, pelebaran defisit, pelemahan kurs rupiah dan lainnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Keuangan (Menkeu), Bambang Brodjonegoro menyampaikan, utang yang cukup besar di tahun depan dibutuhkan untuk membiayai defisit anggaran, kewajiban membayar utang jatuh tempo, PMN karena ada BUMN yang membutuhkan suntikan modal.

“Defisit kita masih besar karena sebagai negara berkembang kita membutuhkan pendanaan untuk melakukan pembangunan,” terang dia.

(red/udhi/wi/nggoro/YDA)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!