Menko Darmin Yakin Rupiah Bakal Kembali Bangkit

redaksi.co.id - Menko Darmin Yakin Rupiah Bakal Kembali Bangkit Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution optimistis nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan kembali...

7 0

redaksi.co.id – Menko Darmin Yakin Rupiah Bakal Kembali Bangkit

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution optimistis nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan kembali menguat pasca-kenaikan tingkat suku bunga oleh The Fed.

Keyakinan tersebut akan membawa kurs rupiah sesuai dengan asumsi rupiah di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 13.900 per dolar AS.

“Dia naik (rupiah melemah) karena tingkat suku bunga AS mau naik. Nanti juga reda lagi,” tegas Darmin di Jakarta, seperti ditulis Selasa (15/12/2015).

Mantan Gubernur Bank Indonesia ini menuturkan, pemerintah tidak akan merilis paket kebijakan khusus untuk merespons rupiah. Namun poin-poin kebijakan digodok untuk masuk dalam paket yang setiap minggu diluncurkan pemerintah.

“Kita tidak ada kebijakan khusus untuk itu (pelemahan rupiah), karena yang secara langsung melakukan sesuatu atau intervensi adalah BI. Kita bisa, tapi pengaruhnya tidak langsung,” papar Darmin.

Darmin mengatakan, kurs rupiah mengalami tekanan selama sepekan terakhir akibat rencana eksekusi kenaikan suku bunga The Fed yang akan diputuskan pada 15-16 Desember ini.

“Rupiah melemah karena ada kenaikan bunga kebijakan The Fed di AS. Lalu biasalah orang berspekulasi, jadi (pelemahan) masih bisa terjadi karena The Fed akan rapat,” ujar dia.

Ia menuturkan, pengaruh kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS terhadap nilai tukar rupiah sangat besar. Dengan demikian, prediksi surplus neraca perdagangan pun diyakini tak akan mampu menangkis dampak penyesuaian Fed Fund Rate.

“Kebijakan perubahan tingkat bunga biasanya akan membuat pemilik dana terpengaruh dibanding lebih dari sekadar data,” ujar Darmin.

Untuk diketahui, Ekonom Grup Research DBS Bank Ltd, Gundy Cahyadi memproyeksikan surplus neraca perdagangan November ini sekitar US$ 900 juta.

(red/iti/mi/anik/SUH)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!