Butuh Rp 80,7 Triliun Untuk Natal Dan Tahun Baru

redaksi.co.id - Butuh Rp 80,7 Triliun Untuk Natal Dan Tahun Baru Kebutuhan uang tertinggi diperkirakan terjadi di wilayah Jabodetabek yang mencapai Rp 22,3 triliun diikuti oleh...

14 0

redaksi.co.id – Butuh Rp 80,7 Triliun Untuk Natal Dan Tahun Baru

Kebutuhan uang tertinggi diperkirakan terjadi di wilayah Jabodetabek yang mencapai Rp 22,3 triliun diikuti oleh Sulampua Rp 11,6 triliun, Kalimantan Rp 7,7 triliun , Sumbar, Kepulauan Riau dan Jambi Rp 7,3 triliun, Jawa Timur Rp 7 triliun, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Rp 6,8 triliun, Sumut dan Nangroe Aceh Darussalam (NAD) Rp 5,6 triliun, Jawa Barat dan Banten Rp 5,4 triliun, Bali dan Nusa Tenggara Rp 3,9 triliun serta Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu dan Lampung Rp 3,1 triliun.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara mengatakan untuk antisipasi kebutuhan BI mempersiapkan pelayanan sistem pembayaran agar dapat melayani kebutuhan masyarakat.

“Menjelang Natal dan Akhir Tahun umumnya terjadi peningkatan kebutuhan uang di masyarakat,” kata Tirta di Jakarta, Selasa (22/12/2015)

Selain itu, dari sisi sistem pembayaran non tunai Bank Indonesia juga telah mengantisipasi kemungkinan lonjakan transfer baik yang dilakukan baik melalui sistem Real Time Gross Settlement (RTGS) maupun Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI).

BI memandang persediaan uang secara nasional mencukupi untuk kebutuhan uang menjelang Natal dan Akhir Tahun, baik dari sisi jumlah total maupun jumlah per pecahan.

Untuk memastikan kecukupan kebutuhan uang menjelang Natal dan Akhir Tahun tersebut, Bank Indonesia menempuh 2 (dua) strategi yaitu melalui peningkatan distribusi dan persediaan uang tunai di Kantor Pusat dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia serta peningkatan layanan kas kepada stakeholders.

Peningkatan distribusi dan persediaan uang tunai di Kantor Pusat dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia dilakukan melalui: pertama, peningkatan frekuensi dan kuantitas pengiriman uang dari Kantor Pusat kepada Kantor Perwakilan Bank Indonesia; kedua, kerjasama secara intensif dengan penyedia jasa transportasi darat dan laut, dan; ketiga, meningkatkan koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk meningkatkan kualitas perencanaan pemenuhan kebutuhan uang.

Sedangkan peningkatan layanan kas kepada stakeholders dilakukan melalui: pertama, berkoordinasi dengan perbankan untuk meningkatkan peran perbankan dalam penukaran uang kepada masyarakat; kedua, bekerjasama dengan pihak eksternal seperti perbankan, polisi air dan media massa dalam pelaksanaan kas keliling, serta; ketiga, penyampaian operasional kegiatan layanan kas BI menjelang Natal dan Akhir Tahun.

Infrastruktur dan layanan sistem pembayaran non tunai juga telah disiapkan untuk mengantisipasi peningkatan transaksi pembayaran non tunai.

Transfer dana melalui SKNBI Generasi II yang diimplementasikan pada 5 Juni 2015 kini dapat lebih mudah, cepat, dan terjangkau, karena pelayanan transfer telah dilakukan hingga 5 kali dalam sehari, dan transfer dana paling lama 2 jam sudah harus dikirim oleh bank setelah menerima amanat dari nasabah. Dalam menghadapi lonjakan transaksi, BI akan optimal bekerja sama dengan Perbankan.

Sejak dicanangkannya Gerakan Nasional Non Tunai pada tanggal 14 Agustus 2014, BI berupaya mendorong penggunaan layanan pembayaran non tunai.

Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan instrumen non tunai (less-cash society/LCS., sehingga berangsur-angsur terbentuk suatu komunitas atau masyarakat yang lebih menggunakan LCS dalam melakukan transaksi atas kegiatan ekonominya sebagai alternatif uang kertas dan uang logam terutama uang pecahan kecil.

Bank Indonesia menghimbau agar masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan uang menjelang Natal dan Akhir Tahun, selalu waspada dan hati-hati dalam bertransaksi dengan uang serta selalu cermat dan teliti terhadap ciri-ciri keaslian Rupiah.

(red/udianto/R)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!