Pengusaha Indonesia Tak Menyesal Jual Sahamnya di Leicester

redaksi.co.id - Pengusaha Indonesia Tak Menyesal Jual Sahamnya di Leicester Penampilan Leicester City di Liga Inggris musim ini sangat mengejutkan. Pasukan berjuluk The Foxes itu mampu...

38 0

redaksi.co.id – Pengusaha Indonesia Tak Menyesal Jual Sahamnya di Leicester

Penampilan Leicester City di Liga Inggris musim ini sangat mengejutkan. Pasukan berjuluk The Foxes itu mampu menguasai posisi pemuncak klasemen sementara dengan 38 poin dari 17 laga.

Asia boleh berbangga dengan pencapaian tim besutan Claudio Ranieri tersebut. Sebab, klub yang identik dengan warna biru itu dimiliki pengusaha asal Thailand, Vichai dan Aiyawatt Raksriaksorn.

Indonesia juga sempat meninggalkan jejak di Leicester. Ya, pada tahun 2010, pengusaha Tanah Air, Iman Arif, melalui Cronus Sports Managament, pernah memiliki saham sebesar 20 persen. Namun saat itu, Leicester masih bermain di kompetisi kasta kedua Liga Inggris, divisi Championship.

Iman mengaku membeli Leicester, karena ingin membawa The Foxes bermain di Premier League dan juga sebagai wadah bagi bibit-bibit muda di Indonesia.

“Waktu itu kami punya Indonesia Football Acedemy (IFA), tapi saat itu kami tidak punya wadah untuk kelanjutan pemain muda kami. Akhirnya kami membeli 20% saham Leicester,” ujar Imam Arif saat dihubungi tim liputan6.com.

“Tapi ternyata sulit bagi para pemain asal Indonesia jika ingin bermain di Liga Inggris. Karena regulasi di Inggris hanya memperkenankan pemain yang berada di 75 rangking FIFA saja. Sedangkan saat itu Indonesia berada di urutan 140-an,” sambungnya.

Untuk mengakali regulasi tersebut, akhirnya salah satu pemain naturalisasi Indonesia asal Belanda, Sergio van Djik sempat ditunjuk oleh Imam Arif untuk mengikuti Trial di Leicester. Sayang eks pemain Persib Bandung itu tak bisa memenuhinya karena cedera yang dialaminya.

Pada tahun 2011 lalu, Imam lalu menjual saham minoritas itu kepada Vichai dan Aiyawatt Raksriaksorn dari Asian Football Investment (AFI) yang sebelumnya telah memiliki saham mayoritas.

Empat tahun sudah berlalu. Sekarang Leicester menjelma menjadi salah satu tim yang berpeluang menjuarai Liga Inggris. Namun Imam tidak menyesal dengan keputusannya tersebut.

“Saya tidak menyesal menjual Leicester. Karena pengusaha asal Thailand itu punya komitmen yang kuat untuk membangun Leicester. Pengusaha asal Thailand itu juga menginginkan seluruh saham di Leicester dikuasai olehnya. Akhirnya kami menjual saham minoritas kami,” Imam Arif menambahkan.

Saat ditanya apakah perusahaan Cronus Sports Management yang saat itu membeli Leicester, sama dengan perusahaan yang membeli klub Arema, Iman mengaku keduanya berbeda.

“Berbeda, kami Cronus Sports Management sedangkan itu Cronus Indonesia,” kata Iman.

(red/iti/mi/anik/SUH)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!