'Bocah Cilik dalam Video Eksekusi Mati ISIS adalah Cucuku…'

redaksi.co.id - 'Bocah Cilik dalam Video Eksekusi Mati ISIS adalah Cucuku...' Kemunculan bocah berambut keriting dalam video ISIS menghebohkan dunia. Bicara dengan aksen Inggris kental, ia...

47 0

redaksi.co.id – 'Bocah Cilik dalam Video Eksekusi Mati ISIS adalah Cucuku…'

Kemunculan bocah berambut keriting dalam video ISIS menghebohkan dunia. Bicara dengan aksen Inggris kental, ia yang diperkirakan baru berusia 6 atau 7 tahun mengeluarkan ancaman khas organisasi teror itu: “Kami akan membunuh para kafir, yang ada di sana.” Jari telunjuknya teracung ke kejauhan. Bocah itu muncul di akhir video berdurasi 11 menit, yang mempertontonkan aksi sadis eksekusi mati 5 sandera ISIS — yang dituduh menjadi mata-mata Inggris. Juga muncul dalam video tersebut, sosok yang meniru algojo ‘Jihadi John’. Jantung Henry Dare serasa copot saat melihat penampilan bocah itu di media massa. “Aku tak bisa memungkirinya. Dia adalah cucuku. Aku sangat mengenalnya,” kata dia. Kebenaran dari pernyataannya tersebut belum terverifikasi. Namun, pria sepuh yang akrab dipanggil Sunday itu yakin, bocah itu adalah Isa, cucu dari putrinya, Grace alias Khadijah Dare — yang juga pernah muncul dalam propaganda ISIS.

Ditemui di rumahnya di wilayah tenggara Kota London, Dare menuding ISIS mengeksploitasi anak kecil. “Ia (Isa) tak tahu apapun. Hanya bocah cilik. Tapi mereka menggunakannya sebagai tameng,” kata dia. “Ia masih di bawah umur, di bawah 5 tahun. Apa yang ia lakukan di bawah pengaruh gerilyawan ISIS. Ia masih terlampau muda.”Dare mengaku pernah bicara lewat telepon dengan cucunya itu. “Ia tak senang tinggal di sana,” kata dia, menyebut wilayah yang diyakini dalam cengkeramanISIS di Suriah.

Putri Dare, Khadijah Dare yang tumbuh besar di Lewisham menjadi mualaf sebelum pergi ke Suriah. Pada 2014, ia memposting foto Isa, yang kala itu berusia 4 tahun, di akun Twitter pribadinya. Bocah itu terlihat tersenyum, sambil memegang senapan AK-47. Video, yang menunjukkan perempuan itu bicara soal kehidupan barunya di Suriah, berlatih menggunakan senapan Kalashnikov, atau tampil bersama anak dan suaminya yang militan menjadi bagian dari propaganda ISIS. Khadijah juga kerap memposting pesan pro-ISIS lewat akun sosial media, mengajak para perempuan muda bergabung di zona perang. Ia diketahui sebagai salah satu perempuan Barat pertama yang pergi ke Suriah. Dare yang asal Nigeria mengaku kali terakhir bicara dengan putrinya beberapa minggu lalu. “Aku mengabaikan teleponnya, karena ia telah mempermalukan dirinya sendiri dan keluarga kami.” Khadijah belajar tentang studi media, film, psikologi, dan sosiologi, dan gemar menonton sepakbola di televisi. Hidupnya berubah 180 derajat saat berusia 18 tahun — memilih pergi ke Suriah dan menikahi seorang militan asal Swedia, Abu Bakr. Suaminya itu diyakini telah tewas dalam sebuah pertempuran. Dewan Kota Lewisham mengaku tak bisa mengonfirmasi identitas bocah dalam video tersebut. Sebab, penyelidikan adalah wewenang polisi. “Dewan bekerja sama dengan polisi dan kami merasa prihatin terkait dugaan keterkaitan antara tindakan kekerasan tersebut dengan masyarakat kami.” Sementara itu, Kepolisian Metropolitan London mengatakan, pada Agustus lalu ada lebih dari 30 anak dari Inggris yang menjadi subjek perintah pengadilan keluarga karena khawatir mereka telah diradikalisasi. Hakim telah memutus kasus yang melibatkan 12 keluarga. Asisten Komisioner Polisi mengatakan, anak-anak yang diradikalisasi berusia antara 2 atau 3 tahun, hingga 16-17 tahun. Pengganti Jihadi JohnSementara itu, petunjuk juga sudah didapat soal sosok yang meniru gerak-gerik Jihadi John. Johadi John yang bernama asli Mohammed Emwazi tewas dalam serangan drone Amerika Serikat di Suriah pada November 2015. Seperti dikutip dari Daily Mail, sumber menyebut, pria yang muncul dalam video eksekusi terbaru diduga sebagai Siddhartha Dhar.Dari analisis, pria itu diduga memiliki darah Asia Tenggara, lahir di Inggris, dan berasal dari wilayah selatan Inggris. Ia diduga mengganti namanya menjadi Abu Rumaysah. Dari analisis suara, sosok pengganti Jihadi John itu tak berpendidikan tinggi. Itu terlihat dari caranya bicara, algojoISIS itu diduga kuat bicara sambil membaca teks.

(red/aini/J)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!