Belajar Bisnis dari Putra Sulung Jokowi

redaksi.co.id - Belajar Bisnis dari Putra Sulung Jokowi Jiwa pengusaha bisa tumbuh di diri siapa saja. Termasuk anak-anak muda yang kini sudah banyak menggeluti usaha sendiri....

48 0

redaksi.co.id – Belajar Bisnis dari Putra Sulung Jokowi

Jiwa pengusaha bisa tumbuh di diri siapa saja. Termasuk anak-anak muda yang kini sudah banyak menggeluti usaha sendiri. Tak sedikit juga dari mereka yang mencapai kesuksesan.

Di Indonesia, pengusaha-pengusaha muda kini mulai tumbuh. Salah satu yang menyita perhatian adalah putra sulung dari Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka. Pria kelahiran Solo 1 Oktober 1987 ini sukses membangun sejumlah bisnis.

Yang paling menonjol Chilli Pari, sebuah usaha wedding organizer Solo yang lini bisnisnya menyediakan layanan katering untuk pesta pernikahan.

Nama Chili Pari di bisnis kuliner memang terasa unik. Chili dalam bahasa Indonesia berarti Lombok yang artinya lambang semangat dan keberanian. Sementara Pari dalam bahasa Jawa berarti Padi yang melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan.

Dalam usahanya, Chili Pari mengusung pedoman traditional taste, modern touch. Salah satu strategi bisnis yang secara serius dilakukan Chili Pari adalah terus berinovasi dan menyajikan berbagai santapan baru.

Ogah teruskan bisnis keluarga

Gibran menuturkan, sejak awal ia memang tidak mau untuk meneruskan usaha mebel yang telah digeluti oleh keluarga besarnya. Ia lebih memilih untuk menekuni usaha katering selepas kuliah S-1 Management Development University of Singapura. Padahal oleh keluarga besarnya, ia diharapkan meneruskan bisnis permebelan itu.

“Dari awal memang tidak mau meneruskan usaha itu. Sebenarnya ingin usaha sejak lulus dari D-3 di Australia. Tapi karena ilmunya masih kurang, jadi lanjut S-1 dulu di Singapura, ” ujarnya kepada Liputan6.com, beberapa waktu lalu.

Ihwal pemilihan usaha katering tak terlepas dari pemikiran Gibran saat itu yang merasakan gedung pertemuan keluarganya Graha Sabha Buana hanya disewakan. Padahal menurutnya, justru pemasukan terbesarnya ada pada suplai kateringnya.

“Sebagian besar hanya menyewa gedung saja, sedangkan katering mengambil dari luar. Untuk itu lalu saya terpikir untuk membuka usaha katering sehingga biar menjadi satu paket antara sewa gedung dengan katering,” ucapnya.

Pinjaman bank

Sebagai seorang presiden, Gibran pantas diacungi jempol karena kemauannya berusaha dan menjadi pribadi yang mandiri.

Meski ayahnya yang kala itu masih menjabat Walikota Solo, Gibran lebih memilih untuk usaha sendiri dalam mencari modal dengan mengajukan kredit kepada beberapa bank. Ia pernah beberapa kali ditolak bank.

“Ada sekitar tiga sampai empat bank yang menolak pengajuan kredit. Tapi akhirnya ada yang memberi pinjaman. Waktu itu ada pinjaman Rp 700 juta, ” jelas suami dari Selvi Ananda tersebut.

Lantas uang Rp 700 juta itu pun dibelikannya perkakas untuk usaha katering. Mulai dari piring, gelas hingga perkakas untuk memasak. “Hingga saat ini, masih kredit. Dana kredit itu untuk memajukan usaha, ” ucapnya.

Pengalaman pahit di tahun pertama harus dirasakan Gibran saat merintis bisnis ini. Pasalnya, ia hanya menerima orderan katering hanya dalam skala kecil. Misal untuk rapat, pertemuan dan wisuda.

“Awal tahun pertama itu benar-benar menjadi ujian bagi Chilli Pari. Karena masih banyak yang belum percaya pada kita. Jadi kebanyakan masih order dalam skala kecil. Kalau order catering pernikahan malah jarang. Padahal order katering pernikahan ini yang banyak untungnya, ” urainya.

Sebagai pemain baru dalam bisnis ini, Gibran mengaku secara otodidak dalam mempelajarinya. Bermodal kesenangannya jelajah kuliner, ia kerap melakukan test food, trial and error.

“Untuk promosi ya kita gencar mengikuti bazar dan pasang baliho, ” tuturnya.

Kini setelah melalui masa sulit, Chilli Pari pun berkembang. Order katering pernikahannya pun semakin banyak. Bahkan catering miliknya sudah dipesan hingga luar Kota Solo.

“Ada beberapa pesanan dari luar Solo. Misal Yogja, Ngawi, Pacitan, Madiun, Yogyakarta dan Semarang, ” tutur dia.

Hingga saat ini, Chili Pari memiliki 20 karyawan dan ratusan freelance. Sebanyak 20 karyawan itu untuk tenaga marketing, keuangan dan chef.

“Kalau freelance biasanya dari tetangga sekitar dan pemuda karang taruna, ” kata dia.

Pada kesempatan yang sama, Gibran membantah keberhasilan bisnis yang dibangunnya karena posisi ayahnya menjadi orang nomor satu di negeri ini.

“Tidak ada hubungannya. Kalau katering itu hubungannya dengan rasa. Semisal, ada yang dulu milih bapak kemudian membutuhkan kateringnya tapi ternyata jenis makanan di Chilli Pari tidak cocok, apa ya harus milih Chilli Pari. Kan tidak?” ungkapnya.

Promosi lewat twitter

Di akun twitter resmi Chilli Pari, Gibran mempromosikan produk kateringnya. Tak hanya bisnis katering, dia juga menuliskan beberapa bisnisnya yang lain. Yang sedang hits saat ini adalah Markobar 1996.

Markobar adalah martabak manis yang disajikan dengan banyak pilihan rasa: keju, coklat, red velvet, green tea dan lainnya yang disajikan dengan cara lain. Jika selama ini martabak manis yang ada disajikan dalam biasa, markobar disajikan layaknya sebuah pizza.

Gibran mengepakkan sayap bisnisnya. Dia kembali merambah ke usaha kuliner lain yaitu Cakar Dheer dan Pasta Buntel Cakar Dheer adalah ceker dimasak dengan cara dibakar, sedangkan pasta buntel adalah pasta yang dibungkus daun.

Seakan tak cukup dengan satu jenis usaha, Gibran juga punya bisnis di bidang pendidikan. Namun yang satu ini lebih kepada socieentreprenuership. Kenapa? karena House of Knowledge ini adalah tempat kursus bahasa inggris gratis.

Walaupun gratis, kursus ini dikelola cukup profesional dengan tingkatan level sesuai kemampuan anak. Setelah lulus tes dan memenuhi jam belajar yang ditentukan, peserta khusus akan memperoleh sertifikat.

Tips Sukses

“Kalau saya sih kuncinya ngeyel. Jadi pengusaha itu harus idealis. orang tua saya itu latarbelakangnya pengusaha mebel dan tidak ada background makanan sama sekali. Saya dari dulu disiapkan untuk melanjutkan usahanya. Sempat ditentang juga ke kuliner,” ujarnya.

Ia mengaku sempat jatuh bangun dalam membangun usaha seperti saat ini. Namun ia terus berusaha dan melihat peluang ke depan bahwa bisnis kuliner terus memiliki pasar. Gibran mengatakan, ia memulai bisnis kuliner pada 2010. Saat itu bisnis pertamanya adalah usaha katering.

Menurutnya, tahun pertama dan kedua merupakan tahun terberatnya dalam membangun usaha katering. Berbagai kendala dihadapi saat dua tahun pertama. Tapi pada tahun ketiga, usaha yang dibangunnya sudah mulai dirasakan dan mendapatkan hasil maksimal sehingga mulai menambah fasilitas penunjang pernikahan.

“Kalau kamu sudah punya kemauan dan yakin berhasil ya dijalani saja. Jika orang tua menentang berwirausaha, itu biasa ya karena orang tua tidak mau anaknya susah. Karena seorang pengusaha itu susah ada jatuh bangunnya juga banyak yang gagal juga,” ujarnya.

Gibran menceritakan saat awal merintis usaha paling sering mendapatkan pelanggan yang rewel. Namun ia tetap harus melayani konsumen dengan dan memberikan beberapa potongan harga. Sebab selain dana yang besar, menjaga loyalitas konsumen juga tak kalah penting.

“Saya tiap hari hadapi konsumen seperti itu, yang rewel. Ndekben (dahulu) aku nyoblos bapakmu. Dulu saya timses bapak waktu walikota. Menghadapi itu sangat sulit. Menolak tidak enak mengiyakan ya rugi,” ungkap dia.

Ia pun memberikan saran kepada anak muda yang ingin berwirausaha. Gibran menyarankan agar memulai usaha untuk fokus pada usahanya.

Pria berusia 28 tahun ini tidak menyarankan untuk menjalani dua profesi sekaligus. Karena akan membuat usaha tidak akan fokus dan hasil yang didapatkan tidak maksimal. (Zul/Ndw)

(red/endarmono/l/idarto/HAS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!