Kisah Rahasia Pasukan Pemburu Mafioso Sisilia

redaksi.co.id - Kisah Rahasia Pasukan Pemburu Mafioso Sisilia Mafia telah menjadi bagian hidup orang-orang di Sisiliadari generasi ke genarasi. Pun demikian dengan peperangan antara polisi dan...

66 0

redaksi.co.id – Kisah Rahasia Pasukan Pemburu Mafioso Sisilia

Mafia telah menjadi bagian hidup orang-orang di Sisiliadari generasi ke genarasi. Pun demikian dengan peperangan antara polisi dan penangkapan bos kelompok tersebut.

Dalam unit kepolisian Sisilia, ada satu unit khusus yang memiliki spesialisasi menangkap para gembong mafia. Unit itu dikenal dengan nama Catturandi yang berarti ‘sang penangkap’. Salah satu sang penangkap berkisah tentang hidupnya yang berubah semenjak ia memutuskan bergabung ke unit yang paling rahasia itu.

Bagaimana ia harus menyembunyikan identitasnya kepada sang kekasih, hingga pada suatu hari, sang istri mengenali para penangkap yang selalu mamakai penutup muka dari bokongnya saat melihat tontontan TV penangkapan bos mafioso.

“Satu-satunya masa di mana kalian melihat kami para Catturandi adalah saat penangkapan mafioso. Karena kami adalah pria tanpa nama dan tanpa wajah,” kisah pengakuan anggota Catturandi berinisial IMD kepada BBC Magazine, Rabu 14 Januari 2016, seperti dikutip Liputan6.com.

“Kami lebih senang dipangging ‘The Band of Lions’ karena kami bebas, liar dan siap menyerang siapapun dan kapanpun,” ujar IMD.

Menurut pria itu, hanya ada 20 anggota Catturandi. Dan jelas, ada alasan tepat untuk mereka menyembunyikan identitasnya serta bersikap rendah hati.

“Dahulu, awal unit ini terbentuk, aku banyak menerima ancaman kematian dari para penjahat. Kepala kambing tiba-tiba dikirimkan ke rumahmu. Sungguh tidak nyaman,” katanya lagi.

Pada tahun 90-an, ia pernah menerima sejumlah foto yang berisi nomor mobilnya, disilang dengan tinta merah. Ancaman-ancaman itu membuat beberapa koleganya memutuskan untuk keluar dari Catturandi, namun tidak dengan IMD yang bertahun-tahun kemudian merasakan risiko ancaman pembunuhan terhadapnya mereda.

Ia dan rekan kerjanya terkadang merasa aneh karena telah menjalin hubungan akrab dengan para sasarannya. Mereka membuat berbagai jebakan, menguping dan umpan bertahun-tahun sebelum menangkapnya.

“Ini seperti hidup bersama mereka. Kamu bisa mendengar bagaimana mereka mengasuh anak-anaknya, kalian bisa mendengar mereka membahas masalah di keluarganya, kalian bisa melihat anak-anaknya tumbuh besar. Emosi mereka menjadi emosi dirimu,” jelas IMD.

Ia berkisah salah satu pria yang mereka mata-matai adalah seorang dokter di Palermo, yang kini ditahan.

“Ia memiliki pengetahuan luar biasa. Kami belajar kesusastraan Italia kerana telah mendengarkan dia tiap saat. Kami akan menulis buku apa yang ia sebut ketika mengajarkan pelajaran kepada anak-anaknya. Seperti mendengarkan siaran radio dan kami terobsesi dengan perilakunya, jalan pikir serta kreatifitasnya. Sunggu tak bisa dipercaya kalau ia adalah mafia kejam,” kenang IMD.

Seminggu setelah penanggkapan ada rasa gamang dan kehilangan.

“Kamu tidak melihat dan mendengar mereka lagi. Secara mental, susah diterima karena hampir tiap hari mereka menjadi bagian dari hidupmu. Saat itulah kamu mulai merasa rindu dengan mereka,” jelas IMD.

Dalam 2 dekade bersama polisi, IMD telah membantu penangkapan sebanyak 300 mafioso, termasuk Giovanni Brusca. Ia adalah penjahat kejam yang menculik dan menyiksa anak mafioso lain berusia 11 tahun yang ayahnya telah mengkhianatinya. Bocah itu disiksa sampai mati dan jasadnya disiram acid sehingga keluarganya tak bisa menguburnya.

Di saat waktu penangkapan, ketika tim Catturandi menyerbu rumah Brusca, IMD berkisah saat itu berbagai pertanyaan berkecamuk di benaknya.

“Aku ingin bertanya kepadanya, kenapa kau menyiksa mereka? Kenapa kau membunuh mereka? Kenapa kau sampai hati memperlakukan sesama manusia seperti itu?”

Namun tak ia lakukan, karena dalam peraturannya, ia tak diperbolehkan berbicara dengan penjahat yang mereka tangkap.

“Saat kami menangkap Brusca, si Babi, ia menangis meraung-raung seperti anak kecil. Bos besarnya, Provenzano, di satu sisi berbeda. Ia diam saja dan waktu aku menggandengnya, ia berbisik kepadaku, ‘Kamu tak tahu apa yang telah kau lakukan.’ Namun saya telah menangkapnya, itu yang terpenting.

Sosok di Balik Keinginan Jadi Polisi

Brusca adalah inspirasi IMD untuk masuk ke polisi. Pada 23 Mei 1992, kelompok Mafia meletakkan puluhan ton bahan peledak di bawah jalan bandara udara internasional Palermo. Lalu mereka ledakan saat iringin-iringan hakim anti-mafia, Giovanni Falcone lewat. Diketahui bahwa si Babi adalah orang yang memencet tombol pematik bom.

“Aku ada di acara ulang tahun pacarku yang ke-18 saat itu,” kata IMD yang saat itu menjadi mahasiswa biologi.

“Ayahnya adalah kepala polisi Palermo, dan ketika bom meledak, pager anggota polisi yang menghadiri ulang tahun pacaru berbunyi. Semua orang meninggalkan acara dengan menangis.”

IMD segera ingin mengetahui apa yang terjadi, namun ia sadar jalan menuju bandara tertutup. Pemuda ituu lalu memutuskan mengendarai motornya ke pusat Palermo untuk melihat reaksi orang-orang.

“Di sana, di sebuah mal, aku melihat sekelompok pemuda tertawa dan bercanda sambil memakan panini mereka. Aku menghampiri mereka dan mengatakan Hakim Falcone tewas. Mereka hanya memandangiku dan berkata, ‘peduli amat!'”

“Sejak saat itu, aku tahu apa yang aku mau. Di kemudian hari, aku langsung bergabung dengan polisi untuk menangkap penjahat sebanyak mungkin.”

Di masa itu, hanya sedikit pemuda Sisiliayang ingin bergabung dengan Catturandi karena pekerjaannya begitu berbahaya. Jadi, lamaran IMD langsung diterima dengan senang hati.

“Jadi polisi di Sisilia akan membuat mukamu diludahi oleh orang-orang yang kalian kenal. Mereka juga berhenti berbicara dan menemuimu, karena menjadi polisi sama saja menjadi pengkhianat,” jelas IMD.

Ia berhenti sekolah di saat teman-teman sekelasnya mengejar gadis-gadis di klub malam. Dari bekas temannya yang sering menggoda perempuan di klub, ia mendapatkan informasi kalau Brusca dan bos mafia lainnya seperti Salvatore ‘Toto’ Riina, adalah orang yang berada di balik pembunuhan Falcone.

Saat mengintai Brusca, IMD dan satu rekannya, harus berakhir di sebuah kota di Cinisi, kota kecil dekat Palermo.

“Ada satu grup perempuan dan kami mendekati mereka. Idenya adalah mengenal orang Cinisi tanpa menarik perhatian. Tentu saja berhasil, kami dapatkan si buronan namun aku harus menikahi salah satu gadis itu sesudahnya,” katanya sambil tertawa.

Kencan mereka tak seperti pasangan pada umumnya. Sang kekasih –yang tidak tahu apa yang sedang terjadi– memberikan penyamaran sempurna.

“Daripada mengajak pacarku –yang sekarang istri– ke pantai dan menciumnya di bawah bintang, aku malah mengajak kencan ke tempat-tempat aneh. Seperti jalanan buntu dengan sampah di sekitarnya, hanya demi mengikuti pacar si buronan.Di saat itu aku mencium pacarku dan ia tak pernah bertanya mengapa aku mengajaknya ke tempat seperti itu,” imbuh IMD tergelak./

“Setelah mengantarkan dia pulang, aku ke kantor dan melaporkan tugasku.”

IMD selalu mengatakan kepada pacarnya bahwa ia bekerja di kantor imigrasi. Namun, saat ia dan rekannya menangkap Brusca semua orang menonton di TV dan merekam penangkapan luar biasa itu.

“Saat itu pacarku sudah jadi istriku melihat tontonan yang disiarkan secara nasional. Ia memperhatikan pria memakai balaclava dan ia sadar garis lipat celana bagian bokongku. Ia segera menghubungiku. Aku tak bisa berbohong lagi kepadanya, aku hanya berkata, ‘Jangan bilang apapun ke nenek, atau nanti seluruh dunia tahu.’ Untungnya ia bisa menyimpan rahasia.

Satu-satunya mafioso yang paling dicari dan masih buron adalah Matteo Messina Denaro atau dikenal dengan naman Diabolik. Ia adalah kepala mafia di Sisilia dan bersembunyi semenjak 1993. Polisi percaya ia berhasil kabur ke luar negeri dan kemungkinan tinggal di Amerika Selatan.

Kendati mafia sisilia tak sekuat 20 tahun lalu, namun masih menjadi masalah di pulau itu.

“Mereka tahu mereka tak semudah itu membunuh orang, jadi yang mereka bisa lakukan adalah melakukan intrik politik dan struktur di kelompok masyarakat,” kata IMD.

Bagi beberapa orang, terutama remaja dan turis, Mafia Sisilia masih menyimpan aura romantis. Di pojok jalanan Palermo, banyak toko-toko menggelar dagangan kaos Godfather atau patung pria berkumis dengan pistol di tangannya.

Di salah satu sudut jalanan di mana kios-kios dagangan suvenir mafia, pada 19 Juli 1992 terkenal sebagai lokasi pembunuhan hakim Paolo Borsellino. Ia lalu terkenal sebagai ‘orang baik dari Palermo’ karena kegigihannya melawan organisasi kriminal.

“Kios di sini sungguh paradoks, seperti kota ini. Kami bisa hidup layaknya peradaban namun kami tidak bisa melepas kenangan bahwa kota ini menyimpan kegairahan terhadap dunia kriminal bawah tanah,” ujar IMD menutup pembicaraannya.

(red/endarmono/l/idarto/HAS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!