Harga Minyak Sentuh Level Terendah Sejak 2003

redaksi.co.id - Harga Minyak Sentuh Level Terendah Sejak 2003 Harga minyak mencapai level terendah sejak 2003 pada awal perdagangan Senin pekan ini. Tekanan harga minyak itu...

19 0

redaksi.co.id – Harga Minyak Sentuh Level Terendah Sejak 2003

Harga minyak mencapai level terendah sejak 2003 pada awal perdagangan Senin pekan ini. Tekanan harga minyak itu seiring pelaku pasar bersiap untuk menghadapi ekspor Iran setelah sanksi dicabut.

Harga minyak Brent jatuh ke level US$ 27,67 per barel pada Senin pagi. Level harga minyak itu terendah sejak 2003, dan naik ke level US$ 28,25. Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) turun 58 sen menjadi US$ 28,84 per barel.

Pada akhir pekan lalu, badan pengawas nuklir PBB menyatakan, Iran telah berkomitmen untuk mengurangi program nuklirnya. Amerika Serikat (AS) segera mencabut sanksi Iran yang telah memangkas ekspor negara produsen minyak sekitar 2 juta barel per hari (bph).

“Iran sekarang bebas untuk menjual minyak sebanyak apa pun dan harga yang didapatkan,” ujar Richard Nephew, Direktur Program Ekonomi dan Energi di Universitas Columbia, seperti dikutip dari laman Reuters, Senin (18/1/2016).

Ada pun Iran siap untuk meningkatkan ekspor minyak mentah sebesar 500.000 barel per hari.

“Pencabutan sanksi terhadap Iran akan melihat tekanan lebih lanjut pada minyak dan komoditas secara lebih luas dalam jangka pendek,” tulis ANZ.

Dalam laporan ANZ itu juga menyebutkan kalau strategi Iran mungkin menawarkan diskon untuk menarik pelanggan. Hal ini dapat membuat tekanan lebih lanjut terhadap harga minyak.

Harga minyak sudah turun lebih dari 75 persen sejak pertengahan 2014. Harga minyak tertekan ini juga menyeret bursa saham ke level terendah lantaran memicu kekhawatiran ekonomi global melambat.

“Pertumbuhan terus melambat, harga komoditas yang lebih rendah termasuk minyak. Ini mencerminkan permintaan melemah. Selain itu penurunan belanja modal sektor pertambangan dan pendapatan menurun dari produsen komoditas juga membebani ekspor Asia,” ujar Kepala Riset HSBC Hong Kong, Frederic Neumann. (Ahm/Gdn)

(red/iti/mi/anik/SUH)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!