Dugaan Kartel Ayam, Begini Curhatan Peternak

redaksi.co.id - Dugaan Kartel Ayam, Begini Curhatan Peternak Komisi Pengawasan Persaingan Usaha mengatakan ada indikasi dugaan kartel ayam. Lantaran harga ayam sepanjang bulan ini terus naik...

48 0

redaksi.co.id – Dugaan Kartel Ayam, Begini Curhatan Peternak

Komisi Pengawasan Persaingan Usaha mengatakan ada indikasi dugaan kartel ayam. Lantaran harga ayam sepanjang bulan ini terus naik hingga menembus Rp 41 ribu per ekor. “Kami akan panggil semua pihak, khususnya produksi ayam mulai dari pemilik parent-stock, produsen day old chicken (bibit ayam), sampai ke peternakan besar, kata dia di Bandung, Minggu, 24 Januari 2015.

Hal tersebut langsung disanggah peternak. Ketua Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia, Ade Meirizal Zulkarnain, mengatakan tingginya harga ayam tak melulu salah peternak. “Selama tiga tahun belakangan, peternak selalu jual ayam di bawah harga pokok produksi,” ujar Ade ketika dihubungi. Menurut Ade, pemerintah meneliti terlebih dahulu rantai distribusi ayam cukup kompleks dan rawan dipermainkan.

Dia merujuk pada naiknya harga daging ayam pertengahan tahun lalu. Padahal saat itu peternak menjual ayam di bawah HPP Rp 14.500 per ekor. Ade mengatakan, sebelum sampai ke konsumen, ayam di distribusikan dahulu ke pedagang besar sebagai pengepul. Setelah itu, ayam baru dibeli oleh pedagang-pedagang semi besar untuk di sebarkan di pasar.

“Baru dipotong setelah di pasar, di sana pun pedagang pasar yang besar menjual kembali ke pedagang pasar yang kecil,” katanya. Fluktuasi harga jagung, ujarnya, turut menjadi beban peternak. Saat ini, harga jagung Rp 5 ribu per kilo- lebih dari dua kali lipat harga normal. Hal itu menambah beban peternak karena biaya produksi pakan 50 persen disumbang harga jagung.

Karena itu, dia merasa keberatan dituding sebagai penyebab kenaikan harga. Pemerintah sendiri, ujarnya, tak banyak berbuat memperbaiki distribusi ayam. “Giliran kapal sapi kosong, semua heboh. Padahal daging ayam 68 persen pasokan protein negara,” katanya.

(red/andhi/urhartanto/SN)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!