Konsumen Gugat Astra & Toyota

183

redaksi.co.id – Konsumen Gugat Astra & Toyota

PT Astra Iternational Tbk dan Toyota Sales Operation sedang menghadapi gugatan dari salah satu konsumennya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Gugatan Perbuatan Melawan Hukum itu dilayangkan oleh Adek Junjunan Syaid.

Kuasa hukum Adek, Muhammad Taufik menjelaskan, gugatan ini berawal saat kliennya membeli satu unit mobil Toyota Avanza Tipe G tahun 2013 di dealer mobil Toyota 2000 cabang Wahid Hasyim.

Adek telah membayar uang muka Rp 43 juta ke rekening atas nama PT Astra Internasional Tbk.

Meski telah membayar, tetapi mobil yang dibeli tak kunjung diterimanya.

Mobilnya enggak datang, malah uang pun tak juga kembali,” ujar Taufik saat ditemui seusai sidang pada Rabu (27/1).

Dalam gugatan ini, Adek juga menyeret PT Astra Internasional Tbk (ASII) sebagai tergugat II.

“Karena klien kami mengirimkan uangnya ke rekening Astra Internasional bukan ke yang lain,” tambah dia.

Lebih lanjut, Taufik menjelaskan, pada awalnya, kliennya itu ditawarkan mobil oleh Wahyu Kuswandari, Sales Eksekutif Auto 2000 dan setuju untuk membeli.

Mobil tersebut dibeli dengan cara mencicil yang ditawarkan dengan mekanisme uang muka tahap I Rp 43 juta kemudian cicilan perbulan Rp1,9 juta.

Setelah pelunasan cicilan di bulan 48, penggugat harus membayar DP ke II Rp 90 juta.

Kemudian pada 29 Juni 2014, seorang staf Auto 2000 yang mengaku bernama Muslim menghubungi Adek untuk menginformasikan bahwa dananya telah dipindahkan atau diambil dari rekening tergugat II.

Penggugat tidak pernah membuat atau memberikan kuasa atau memerintahkan orang lain untuk memindahkan dana penggugat di rekening tergugat II kepada pihak lain, kata Taufik.

Kliennya juga tidak pernah dihubungi atau dimintai klarifikasi oleh tergugat I perihal adanya surat kuasa pemindahan dana tersebut.

Taufik menyebutkan pihanya telah mengirimkan somasi sebanyak tiga kali, masing-masing pada Agustus, November dan Desember 2014.

Namun, somasi tersebut tidak ditanggapi dengan baik oleh pihak Astra.

Menurut Taufik, kesalahan ataupun kelalaian yang dilakukan Wahyu Kuswandari sebagai sales adalah tanggung jawab dari perusahaan yang mempekerjakannya.

Hal itu sesuai dengan yurispundensi Mahkamah Agung yang menyatakan majikan harus mengganti kerugian yang timbul atas kesalahan pegawainya.

Masak sekelas Astra tidak bisa bertanggungjawab atas kelalaian karyawannya, celetuk Taufik.

Dalam petitumnya, penggugat meminta najelis hakim menyatakan sah perjanjian jual beli mobil Avanza tipe G tahun 2013.

Penggugat juga meminta majelis menghukum para tergugat untuk mengembalikan uang muka yang telah dibayarkan.

Tak hanya itu, ia pun meminta ganti rugi immateriil senilai Rp 150 juta.

Perkara No. 603/PDT.G/2015/PN.JKT.PST didaftarkan pada 21 Desember 2015 dan masih bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Sidang akan dilanjutkan pada Rabu (3/2) dengan agenda kelengkapan para pihak.

Adapun proses persidangan belum bisa memasuki mediasi lantaran perwakilan dari Astra yang hadir di persidangan belum mendapatkan surat kuasa.

Ditemui seusai persidangan pun kuasa hukum Astra yang enggan disebutkan namanya itu belum bisa berkomentar.

(red/andhi/urhartanto/SN)

loading...

Comments

comments!