Gerhana Matahari 1983 dan Kisah 5 Negara Peneliti

redaksi.co.id - Gerhana Matahari 1983 dan Kisah 5 Negara Peneliti , Jakarta - Demam gerhana matahari kian memuncak. Puluhan lokasi pengamatan dipersiapkan. Sementara mereka yang...

43 0

redaksi.co.id – Gerhana Matahari 1983 dan Kisah 5 Negara Peneliti

, Jakarta – Demam gerhana matahari kian memuncak. Puluhan lokasi pengamatan dipersiapkan. Sementara mereka yang terutama berkepentingan dengan peristiwa alam yang langka itu, berangsur-angsur tiba. Mereka-itu para ilmuwan, terutama para astronom, berasal dari negeri-negeri teknologi dan ilmu maju.

Ini sama seperti pada gerhana matahari 1983. Banyak ilmuwan dari berbagai negara yang ‘ngiler’ untuk melakukan penelitian terkait gerhana matahari total. Tim ilmuwan dari negara mana saja yang datang meneliti ke Indonesia? Berikut daftarnya:

1. AMERIKA SERIKAT

Ada 30 orang ilmuwan dari Amerika Serikat berkumpul di Tanjung Kodok, tempat pengamatan utama gerhana matahari total 1983. Peralatan dan instrumen yang mereka bawa, mencapai berat 6 ton, berangsur-angsur mulai dipasang di lokasi. Tim ini terdiri dari ilmuwan berbagai disiplin ilmu, yang disponsori NSF.

Di Amerika, NSF memang merupakan lembaga pemerintah utama yang mendukung penelitian ilmiah murni di bidang biologi, fisika, astronomi, matematika, kimia, dan menyediakan dana untuk melakukan penelitian ini. Membiayai ekspedisi ini, misalnya, memerlukan dana sekitar US$ 200 ribu (Rp 200 juta). Belum direken nilai berbagai peralatan dan instrumen yang piawai.

Tim dari Negeri Abang Sam melalukan persiapan sejak tahun 1981. Beberapa eksperimen penting akan dilakukan. Salah satu ialah mengukur garis tengah matahari — sesuatu yang terutama bisa dilakukan selama berlangsung gerhana matahari. Eksperimen lain meliputi penelitian terhadap debu matahari yang berkisar di bidang eklipsika dan hanya terlihat di saat gerhana berlangsung. Ini untuk mengetahui sifat dan edarannya.

2. INDIA

Di Tanjung Kodok juga hadir tim dari India. Terdiri dari tujuh orang ilmuwan dan teknisi, mereka dilengkapi peralatan yang jauh lebih sederhana daripada tim Amerika. Mereka menempati lokasi seluas 21 meter persegi berdekatan areal tim AS yang luasnya mencapai 400 meter persegi. Pagar sekelilingnya mengamankan berbagai peralatan yang tampak sudah terpasang.

Sementara tim kecil, empat orang amatir dari Jerman Barat, menempati sebuah kemah yang mereka dirikan. Di dalamnya terdapat sebuah teropong mini. “Kami amatir,” ujar Margot Soh, gadis remaja pimpinan tim kecil yang menamakan diri Volkstern Warte am Hamburg. “Kami tidak dibiayai pemerintah seperti itu,” tambah Margot, seraya menunjuk ke arah lokasi tim AS yang raksasa itu.

3. INGGRIS

Sementara di Desa Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, tim dari Inggris memilih lokasi yang disarankan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Tim terdiri dari empat orang disponsori Royal Society di Inggris. Mereka ingin meneliti komposisi kimiawi dari debu matahari yang beredar di bidang eluator matahari, yaitu untuk membuktikan suatu teori yang disusun Linda Grimshaw, salah satu anggota tim itu.

4. PRANCIS

Tim ilmuwan lain, yang sebagian besar dibiayai dana pemerintah, datang dari Prancis. Tujuh astronom, dibawah pimpinan Dr. S. Koutchmy dan Dr. G. Stellmacher dari Institut Astrofisika dari Pusat Penelitian Ilmiah Nasional (CNRS), tiba di Indonesia untuk memanfaatkan gerhana matahari total 11 Juni 1983 itu.

Bersama mereka, ada sekitar 20 astronom amatir yang tergabung dalam Himpunan Astronom Prancis (SAF), yang membantu para astronom itu melakukan berbagai eksperimen mereka. Mereka akan menempati dua lokasi. Satu di sekitar Yogyakarta dan satu lagi di Cepu. Dipilihnya dua tempat ini, untuk menjamin salah satu berhasil, jika satu tempat ternyata tertutup awan.

Pada pokoknya tim Prancis ini melanjutkan berbagai eksperimen terdahulu. “Kami mengubah beberapa parameter, memperbesar ukuran dan memperhalus beberapa instrumen,” cerita Koutchmy.

5. JEPANG

Jepang juga mengirim tim ilmuwannya sebanyak 21 orang. Tim ini dipimpin Prof. Dr. Enjiro Hiei dari Observatorium Astronomi di Tokyo. Sebetulnya, rombongan ilmuwan Jepang ini terbagi 6 tim, yang masing-masing menempati lokasi yang berbeda. Uniknya, lima dari enam tim itu menggalang kerja sama dalam berbagai penelitian dengan para ahli dari Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), khususnya dengan tenaga dari Pusat Riset Dirgantara Lapan di Bandung.

Tim Dr. Hici berlokasi di Cepu. Dan eksperimen utamanya ialah pemotretan korona, untuk mengetahui struktur halus matahari. Seperti tim AS dan tim Prancis, mereka juga mempelajari mekanisme pemanasan energi korona. Khusus untuk tujuan pemotretan itu, Dr. Hiei membawa kamera raksasa bikinan Nikon, yang mampu membuat foto berukuran 30 x 40 sentimeter.

Di tempat yang sama sebuah tim Jepang lain mempersiapkan eksperimen pengukuran geomagnetis pada saat terjadi gerhana matahari total. Eksperimen ini unik. Karena serentak dikoordinasikan dengan stasiun perekaman di 4 stasiun pengamatan lain. Masing-masing di Onagawa (Jepang), Chun-Li (Taiwan), Townsville (Australia Utara) dan Beveridge (Australia Selatan).

Ke-5 tempat ini hampir terletak pada satu garis sepanjang 8.000 kilometer dan akan merupakan rekaman grafis geomagnetis yang berharga. Di lokasi lain, yaitu Watukosek di Mojokerto, tim Jepang bekerja sama dengan tenaga Lapan akan meluncurkan balon stratosfer raksasa dari Stasiun Peluncuran Balon Stratosfir milik Lapan.

Balon ini akan membawa teleskop dengan kamera yang akan merekam gerhana matahari secara otomatis. Penelitian ini erat hubungannya dengan masalah klimatologi dan meteorologi. Peralatan akan diterjunkan dengan payung. Sedang balon sebesar 15.000 m3 dan panjang 100 m itu dimusnahkan. Di Mojokerto, tim Jepang dari ILOM (International Latitude Observatory Mizusawa), di pimpin Dr. Sato.

TIM TEMPO

(red/ramanta/utra/amungkas/BPP)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!