Gerhana Matahari 1983: Kisah Astronom ITB Menyapa Bintang

redaksi.co.id - Gerhana Matahari 1983: Kisah Astronom ITB Menyapa Bintang , Bandung - Jelang gerhana matahari total pada 9 Maret mendatang, ada satu sosok yang...

24 0

redaksi.co.id – Gerhana Matahari 1983: Kisah Astronom ITB Menyapa Bintang

, Bandung – Jelang gerhana matahari total pada 9 Maret mendatang, ada satu sosok yang kiprahnya tak bisa diabaikan. Dari tangan orang inilah gerhana matahari pada 1983 yang melewati Pangandaran, Jawa Barat, dan beberapa daerah lainnya di Pulau Jawa diteliti.

Orang itu adalah Bambang Hidayat, guru besar astronomi di Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat. Saat gerhana matahari total 1983, Bambang dipercaya sebagai kepala penyelenggara International Astronomical Union ke-13 yang diadakan di Lembang.

Kini, pria 81 tahun itu telah lengser keprabon mandeg pandito, pensiun dari dunia mengajar. Majalah TEMPO edisi 11 Juni 1983 pernah memuat profilnya. Berikut perjalanannya sebagai seorang astronom. Berikut kisahnya:

Suatu masa, berjam-jam, bahkan berhari-hari dan sampai larut malam ia berada di belakang teropong. “Dan pernah, 200 malam dalam setahun saya habiskan untuk mengamati bintang-bintang,” katanya. Tapi hampir sepanjang tahun 1982 ia harus kecewa, karena tak bisa menyaksikan bintang-bintang kesayangannya. “Sebab terhalang debu Gunung Galunggun,” tambahnya.

Bambang Hidayat, guru besar astronomi Institut Teknologi Bandung (kini sudah pensiun dari dunia mengajar), agaknya memang sulit berpisah dari teropong bintang. Di kompleks Observatorium Bosscha’ di Lembang, ia bersama keluarganya tinggal. Di sana pula ia sebagai guru besar Astronomi dan Konservator Observatorium Bosscha Jurusan Astronomi ITB mengajar para mahasiswanya. Dan di sana juga setiap saat ia bisa menyaksikan benda-benda di angit.

“Dan kalau sedang iseng saya mengarahkan teropong ke Kota Bandung, ingin tahu apa yang terjadi di sana,” ucapnya sambil tertawa.

Laki-laki kelahiran Kudus, Jawa Tengah, itu memang sejak kecii mengagumi benda-benda langit. Karena itu, seperti pengakuannya, sejak masa mudanya ia sudah sering menengadah ke atas, menyaksikan kelap-kelip bintang. Maka setelah menyelesaikan SMA-nya (1953) di Semarang, anak muda bermata sipit yang aktif di kepanduan (pramuka) waktu itu, memilih jurusan astronomi di ITB – satu jurusan yang sampai sekarang masih disebut “kering”.

Bekas ketua Departemen Astronomi dan direktur Observatorium Bosscha ITB (1968-1979) itu mengaku selalu sangat betah mengintip kelakuan benda-benda langit lewat teropong. “Menyaksikan kilatan metafor yang sedang merambat di langit memang amat mengasyikkan,” ungkapnya, “kadang-kadang terasa benda-benda itu seperti akan jatuh menimpa diri saya.”

Dan memang, katanya, yang menarik dalam astronomi adalah keanekaragaman bintang. “Tak ada bintang yang sama dengan lainnya,” tambah doktor astronomi dari Case Institute of Technology, Ohio, AS itu.

“Untuk meneliti sekian banyak ragam bintang,” tutur ayah dari dua orang anak itu, “para astronom menerapkan ilmu fisika.” Dengan cara ini akan dapat diketahui hakikat fisik dan kimiawi berbagai planet misalnya bumi. “Dan semua ini,” tambah penjaga gawang klub sepak bola Galados ITB itu, “tentu saja amat penting bagi Indonesia yang berada di kawasan katulistiwa.” Bambang Hidayat banyak mempublikasikan hasil penelitiannya lewat teropong Bosscha di dalam maupun di luar negeri.

Tak hanya namanya yang kemudian dikenal kalangan astronomi dunia. Lebih-lebih lagi Indonesia dengan alat peneropong bintang Bosscha yang terletak di utara Kota Bandung itu. Hal itu terlihat misalnya, dengan berlangsungnya berbagai-pertemuan internasional tentang astronomi di Indonesia. Antara lain, pertemuan regional astronomi Asia-Pasifik, menyusul dua pertemuan serupa, yaitu, kunjungan para astronom asing sehubungan dengan gerhana matahari pada Juni 1983.

TIM TEMPO

(red/andhi/urhartanto/SN)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!