5 Bintang yang 'Hancur' di Madrid

redaksi.co.id - 5 Bintang yang 'Hancur' di Madrid Nama besar Real Madrid ternyata bukan jaminan bagi setiap pemain untuk bersinar. Memang banyak pemain yang namanya mencuat...

30 0

redaksi.co.id – 5 Bintang yang 'Hancur' di Madrid

Nama besar Real Madrid ternyata bukan jaminan bagi setiap pemain untuk bersinar. Memang banyak pemain yang namanya mencuat saat mengenakan seragam Los Blancos.

Namun, tidak sedikit dari mereka yang kariernya justru meredup saat diboyong ke Santiago Bernabeu, markas Madrid. Padahal di klub sebelumnya, pemain-pemain ini berstatus bintang.

Harga transfer selangit dan nama besar pemain sama sekali tak jadi jaminan sukses di Madrid. Banyak faktor lain yang ikut menentukan.

Masalah cedera dan tak cocok dengan sistem permainan yang dikembangkan menjadi penyebab redupnya karier mereka. Namun, ada juga masalah nonteknis yang mengganggu, seperti tak cocok dengan pelatih atau gaya hidup sang pemain sendiri.

Siapa saja mereka? Berikut lima bintang lapangan hijau yang kariernya rusak bersama Madrid:

5. Thomas Gravesen

Nama Thomas Gravesen sempat menjulang bersama Everton. Pada periode 2000-2005, pria asal Denmark ini jadi idola publik Goodison Park, yakni sebagai gelandang jangkar di lini tengah The Toffees.

Pada awal musim 2005/06 dia direkrut Real Madrid untuk mengisi kekosongan lini tengah yang ditinggalkan Claudio Makelele. Namun, Gravesen gagal bersinar di Madrid.

Sempat mencetak gol di debutnya saat Madrid menang 4-0 atas Espanyol, tapi gaya Gravesen dianggap tak cocok. Apalagi saat kursi kepelatihan Madrid jatuh ke tangan Fabio Capello.

Hanya semusim, Gravesen kemudian dilepas ke Celtic. Dia sempat kembali ke Everton dengan status pinjaman, sebelumnya pensiun pada 2009.

4. Jonathan Woodgate

Saat Madrid mengeluarkan 13,4 juta pound sterling (sekitar Rp 264 miliar) untuk memboyong Jonathan Woodgate pada 2004, banyak orang mengernyitkan dahi. Harga itu dianggap tak layak untuk eks pemain Newcastle United ini.

Pasalnya, ketika itu Woodgate juga tengah bermasalah dengan cedera.

Benar saja. Woodgate yang sempat bersinar bersama Leeds United dan Newcastle gagal menunjukkan kemampuan terbaiknya di Bernabeu. Selain masalah cedera, gaya hidup Woodgate yang suka dugem menjadi kritik media Spanyol.

Pahitnya, Woodgate membuat gol bunuh diri dan mendapat kartu merah di debutnya bersama Madrid saat melawan Bilbao. Nyaris tiga tahun membela Madrid, Woodgate hanya bermain di sembilan laga.

Setelah itu karier Woodgate benar-benar tenggelam. Dia sempat dipinjamkan ke Middlesbrough, sebelum bergabung dengan Tottenham Hotspur dan Stoke City.

3. Antonio Cassano

Antonio Cassano sempat disebut-sebut sebagai salah satu penyerang terbaik di Italia. Kariernya menjulang saat AS Roma merekrutnya dari AS Bari.

Cassano lalu direkrut Madrid bursa transfer musim dingin 2006. Dia sempat mencetak gol di debutnya lawan Real Betis di ajang Piala Super Spanyol.

Namun, setelah itu lebih banyak cerita kontroversial menyertai kiprah Cassano di Madrid. Salah satunya, dia kerap berfriksi dengan pelatih Fabio Cappelo, yang juga berasal dari Italia.

Cassano juga sering dikecam presiden klub, Ramon Calderon. Karena jarang main, di Madrid Cassano juga mengalami kelebihan berat badan.

Hebatnya, karier Cassano kinclong lagi saat kembali ke Italia. Dia sukses membawa Milan meraih scudetto 2010/11 dan hingga kini masih merumput bersama Sampdoria.

2. Emerson

Emerson sempat meraih prestasi terbaik saat membawa AS Roma juara Serie A 2000/01. Dia juga sukses besar saat direkrut Juventus.

Namun, begitu bergabung dengan Madrid, usai Juventus terlibat kasus Calciopoli pada 2006, nama Emerson langsung pudar. Dia memang ikut jadi bagian skuat yang memenangkan La Liga 2006/07. Namun, peran Emerson tak terlalu kentara.

Di Madrid dia hanya bertahan semusim. Emerson lalu kembali ke Italia dan bergabung dengan AC Milan. Transfernya hanya 5 juta pound sterling, jauh dibanding saat Madrid memboyongnya 16 juta pound sterling.

Di Milan, Emerson sempat mencicipi gelar Piala Dunia Klub. Dia lalu pulang kampung ke Brasil dan pensiun di Santos tahun 2009.

1. Ricardo Kaka

Saat masih berseragam AC Milan (2003-2009), Ricardo Kaka nyaris telah memenangkan segalanya, termasuk scudetto dan Liga Champions. Namun peruntungannya berubah saat menerima pinangan Madrid pada 2009.

Dengan transfer 60 juta pound sterling, Kaka gagal memenuhi ekspektasi banyak orang. Selain masalah cedera, hubungan Kaka dengan Jose Mourinho, pelatih Madrid ketika itu, juga tak terlalu bagus.

Tiga musim membela Madrid, Kaka lebih banyak duduk di bangku cadangan. Gaya permainannya pun dianggap tak cocok dengan sistem yang dikembangkan Mourinho.

Kaka akhirnya kembali ke Milan. Namun, hanya semusim, 2013/14, sebelum dilego klub Liga Amerika Serikat, Orlando City. Dari Orlando, Kaka dipinjamkan ke klub lamanya di Brasil, Sao Paulo.

(red/uhammad/irmansyah/MF)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!