PHK Chevron, Panasonic, dan Toshiba, Ini Kata Menteri Hanif

redaksi.co.id - PHK Chevron, Panasonic, dan Toshiba, Ini Kata Menteri Hanif Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi sudah mendengar adanya rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) tiga perusahaan...

21 0

redaksi.co.id – PHK Chevron, Panasonic, dan Toshiba, Ini Kata Menteri Hanif

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi sudah mendengar adanya rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) tiga perusahaan multinasional menyusul kelesuan ekonomi global saat ini. Tiga perusahaan raksasa itu adalah PT Chevron Pasific Indonesia, PT Panasonic Gobel Indonesia, dan PT Toshiba Indonesia yang akan mem-PHK ribuan karyawannya pada 2016 ini. Mereka sudah menyampaikan untuk mem-PHK karyawannya.

“Chevron saja karyawanya 1.700 tenaga kerja. Sedang diproses semua,” kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Hanif Dhakiri di Balikpapan, Kamis, 11 Februari 2016. Hanif mengatakan kementeriannya sudah meminta agar perusahaan mempertimbangkan kembali rencana PHK tersebut. Menurut dia, ada sejumlah langkah kebijakan perusahaan guna menghadapi lesunya perekonomian global, seperti efisiensi produksi hingga pemangkasan gaji jajaran eksekutif perusahaan. PHK menjadi pilihan terakhir, sebisanya dihindari.

“Perusahaan bisa melakukan efisiensi dahulu atau kalau perlu pemangkasan gaji eksekutifnya dahulu,” ujar Hanif. Kalaupun harus dilakukan PHK, Hanif meminta agar Chevron, Panasonic, dan Toshiba duduk bersama dalam dialog tripatrit melibatkan pengusaha, pemerintah, dan serikat pekerja. Perusahaan juga harus melaksanakan kewajiban pembayaran hak hak karyawan sesuai aturan dalam Undang-Undang Tenaga Kerja.

“Kalau harus PHK juga, hak-hak pekerja dipenuhi sepenuhnya,” kata Hanif. Adanya PHK ini, Hanif menyatakan menjadi kewajiban pemerintah pula menyiapkan sejumlah program pelatihan bagi pencari kerja baru ini.

Mereka nantinya ditingkatkan kompetensi dan kemampuannya. Namun demikian, Hanif optimistis peluang kerja akan terus bermunculan di Indonesia pada masa masa mendatang. Jumlah perusahaan yang menutup bisnisnya tidak sebanding dengan perusahaan lainnya yang membuka investasi di Indonesia.

(red/andhi/urhartanto/SN)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!