Ngeri! Hasil Riset Ini Ungkap Dampak Panas Ekstrem 2050

redaksi.co.id - Ngeri! Hasil Riset Ini Ungkap Dampak Panas Ekstrem 2050 , New York - Pemanasan iklim diperkirakan akan mengakibatkan paparan panas ekstrem di beberapa...

14 0

redaksi.co.id – Ngeri! Hasil Riset Ini Ungkap Dampak Panas Ekstrem 2050

, New York – Pemanasan iklim diperkirakan akan mengakibatkan paparan panas ekstrem di beberapa belahan dunia pada 2050. Di antaranya Amerika Utara, Asia Tenggara, dan Atlantik Selatan. Tak tanggung-tanggung, peningkatannya mencapai enam kali lipat.

Di Amerika Serikat, peningkatan panas ekstrem itu juga didorong oleh populasi penduduk yang tumbuh secara cepat, terutama di daerah terpanas negara tersebut. Di Asia Tenggara, paparan panas bahkan membuat bekerja di luar ruangan tak lagi aman.

Hasil penelitian National Center for Atmospheric Research (NCAR) dan City University of New York (CUNY) itu menyoroti pentingnya mempertimbangkan perubahan sosial ketika mencoba menentukan dampak iklim di masa depan. “Perubahan populasi dan perubahan iklim itu masalah,” kata peneliti NCAR Brian O’Neill, dalam studi terbaru yang dimuat jurnal Nature Climate Change.

Pertanyaannya, apakah orang-orang akan beradaptasi mengubah gaya hidup mereka seperti tinggal lebih lama di dalam rumah dan menggunakan penyejuk udara (AC) atau pindah ke daerah yang lebih dingin?

Linda Mearns, peneliti National Center for Atmospheric Research, yang terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan tidak mungkin orang akan pindah ke daerah yang lebih dingin untuk menghindari panas. Sebab, secara historis orang cenderung menjauh dari daerah dingin ke daerah yang lebih hangat seperti Florida, Arizona, dan North Carolina.

Di Asia Tenggara, menurut penelitian sebelumnya oleh Tord Kjellstrom dari Pusat Riset Kesehatan Global Universitas Umea Swedia, panas ekstrem bahkan berdampak terhadap kesehatan dan keselamatan buruh yang bekerja di luar ruangan. Tekanan panas pada 2050 diprediksi bakal mengurangi kapasitas buruh bekerja, menurunkan produktivitas jam kerja, dan hasil ekonomi.

Para pekerja pertanian yang harus bekerja di luar ruangan dan terpapar sinar matahari berkemungkinan besar mengalami panas ekstrem di luar batas aman. Banyak di antara mereka yang meninggal karena heat stroke, bahkan di Amerika Serikat. Akibatnya, kerugian produktivitas kerja mencapai 80 persen lebih. Di kawasan ini, suhu pada 2050 diperkirakan mencapai 34-35 derajat Celsius.

Riset yang dipublikasikan Climate Vulnerability Monitor menunjukkan kerugian akibat turunnya produktivitas buruh yang disebabkan oleh paparan panas pada 2010 mencapai US$ 30 miliar di Indonesia. Kerugian di negara lain mencapai US$ 15 miliar di Thailand, US$ 10 miliar di Malayia dan di Filipina, serta US$ 8 miliar di Vietnam. Pada 2030 kerugian itu diperkirakan akan meningkat menjadi US$ 250 miliar di Indonesia, US$ 150 miliar di Thailand, US$ 95 miliar di Malaysia, serta US$ 85 miliar di Filipina dan di Vietnam.

Menurut Brian O’Neill, panas yang ekstrem membunuh lebih banyak orang di Amerika Serikat ketimbang hal lain yang terkait dengan cuaca. Ilmuwan umumnya memperkirakan jumlah gelombang panas yang mematikan meningkat selama bulan-bulan panas. Secara keseluruhan paparan panas ekstrem yang dihadapi warga Amerika untuk gelombang panas di masa depan tidak bisa diperhitungkan jika peran perubahan populasi diabaikan.

Tim National Center for Atmospheric Research menggunakan 11 simulasi resolusi tinggi yang berbeda dari perkiran suhu masa depan di Amerika Serikat antara 2041 dan 2070. Peneliti mengasumsikan tidak ada pengurangan besar emisi gas rumah kaca. Secara global, gerakan menurunkan emisi gas rumah kaca ditujukan untuk mencegah supaya suhu rata-rata bumi tidak bertambah 2 derajat Celsius.

Bila suhu rata-rata naik sebesar itu, panas permukaan bumi meningkat, sejumlah makhluk di bumi akan terancam punah, es di kutub utara dan selatan mencair sehingga menaikkan permukaan laut, dan pasokan makanan juga terancam.

Simulasi penelitian ini dibuat dengan serangkaian model iklim global dan regional sebagai bagian dari Program Penilaian Perubahan Iklim Regional Amerika Utara. Menggunakan sebuah model demografi terbaru, mereka juga mempelajari bagaimana penduduk AS diperkirakan akan tumbuh dan berpindah secara regional selama periode waktu yang sama. Asumsinya, tren migrasi saat ini di dalam negeri terus terjadi.

Jumlah paparan panas yang ekstrem dihitung dalam person-days, yakni mengalikan jumlah hari ketika suhu diperkirakan akan mencapai setidaknya 95 derajat Celsius dengan jumlah orang yang diproyeksikan untuk tinggal di daerah terjadinya panas yang ekstrem. Skalanya dalam miliaran.

Hasilnya, rata-rata paparan tahunan panas ekstrem di Amerika Serikat selama 2041 dan 2070 diperkirakan menjadi antara 10 dan 14 miliar orang per hari. Paparan panas ini meningkat berlipat-lipat bila dibandingkan dengan rata-rata tahunan sebesar 2,3 miliar orang per hari antara 1971 dan 2000.

Kenaikan paparan panas itu, menurut Linda Mearns, kira-kira sepertiga karena semata-mata karena iklim pemanasan. Maksudnya, peningkatan paparan panas yang ekstrem akan tetap sebanyak itu jika populasi penduduk tetap. Sepertiga lainnya, karena semata-mata karena perubahan populasi. Penduduk terus meningkat dan orang-orang pindah ke tempat yang lebih hangat. Sepertiga terakhir disebabkan oleh interaksi antara keduanya.

Pada skala regional, gambarannya berbeda. Di beberapa negara bagian di negeri ini, perubahan iklim meningkat lebih besar daripada pertumbuhan penduduk dan sebaliknya. Misalnya, di wilayah Rocky Mountain Amerika Utara, dampak dari pertumbuhan penduduk secara signifikan melebihi dampak dari pemanasan iklim. Daerah ini didefinisikan oleh Biro Sensus sebagai daerah yang membentang dari Montana dan Idaho selatan ke Arizona dan New Mexico.

Tapi, kata Linda, hal sebaliknya terjadi di wilayah Altantik Selatan, yang meliputi wilayah dari West Virginia dan Maryland Selatan melalui Florida. Di kawasan ini, dampak pemanasan iklim melebihi dampak pertumbuhan penduduk.

Terlepas dari hubungan peran populasi dan iklam dalam meningkatkan paparan panas yang ekstrem di daratan Amerika, peneliti mengingatkan bahwa paparan belum tentu sama dengan kerentanan. “Studi kami tidak mengatakan bagaimana rentan atau tidaknya orang-orang mungkin di masa depan,” kata O’Neill. “Kami menunjukkan bahwa paparan panas akan naik, tapi kita tidak tahu berapa banyak orang yang akan terkena atau tidak. Apakah yang terkena memiliki AC atau tidak, serta akses yang mudah ke pusat-pusat kesehatan masyarakat.”

NATURE CLIMATE CHANGE | CLIMATE VULNERABILUTY MONITOR | AMRI MAHBUB

Artikel Lainnya:

Prediksi Einstein 100 Tahun Lalu Terbukti Benar

Preman Paling Berkuasa di Kalijodo

Dorna Izinkan Indonesia Gunakan Sirkuit Jalanan

Tiba di Indonesia, Marc Marquez Langsung Santap Soto Ayam

20 Hal Menarik Tentang Ed Sheeran

(red//ainuddin/MZ)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!