Bola Itu Bundar, Tapi Siapa Penemunya?

324

redaksi.co.id – Bola Itu Bundar, Tapi Siapa Penemunya?

Kalimat ‘bola itu bundar’ selama ini dikenal sebagai pameo yang menggambarkan sulitnya menebak hasil akhir sebuah pertandingan sepak bola. Tim yang sejak awal mendominasi jalannya laga, tidak otomatis bakal keluar sebagai pemenangnya.

Kalah atau menang itu terkadang hanya ditentukan dalam waktu tiga menit saja. Seperti yang tertulis pada puisi Johan Cruyff yang dikutip dari pengantar buku Sindhunata berjudul ‘Bola di Balik Bulan’. Bunyinya kira-kira seperti ini:

In each game there only three minutes and those of course subdivided into moments that really matter. In three minutes you win or lose”.

Bola itu memang bundar. Tak bersudut. Bagian manapun bisa menjadi pangkal dan ujung.

Satu tim bisa saja di atas angin dan mengira mereka bakal memenangkan pertandingan. Namun dalam waktu singkat mimpi itu sirna dan berganti kekalahan, seperti yang dialami Bayern Muenchen di final Liga Champions 1999.

Hanya dalam waktu 112 detik Manchester United merebut kemenangan dari tangan The Bavarian.

Menebak hasil akhir pertandingan memang rumit. Apapun bisa terjadi di lapangan mengikuti pameo bola itu bundar.

Namun bukan urusan tebak-tebakan itu saja yang rumit. Sejarah bola itu sendiri juga sulit dimengerti. Tidak jelas titik pangkalnya. Siapa yang menciptakan bola pertama kali juga masih jadi misteri layaknya hasil akhir sebuah pertandingan.

Sulitnya sejarawan menentukan penemu bola tak lepas dari sejarah panjang permainan sepak bola sendiri. Tidak jelas titik pangkalnya. Berbagai sumber menyebutkan bahwa, sepak bola telah ada sejak awal peradaban manusia dimulai.

Sejak itu, bola yang dugunakan juga terus berevolusi. Bentuknya berbeda-beda dan menggunakan bahan yang berbeda pula.

Sejauh ini, bola tertua yang pernah ditemukan dibagi dalam dua kategori. Pertama adalah berdasarkan bahan yang digunakan untuk membuatnya bundar. Sedangkan kategori kedua, bola yang telah diisi dengan udara di dalamnya.

Bola pertama dalam sejarah ditemukan saat peradaban kuno, 3000 tahun yang lalu. Tiongkok, Aztec dan Suku Indian Maya, dan Mesir berkontribusi besar bagi penemuan bola pertama di dunia.

Di Tiongkok, bola yang digunakan terbuat dari kulit hewan yang dibalut hingga berbentuk bundar. Bola ini lantas digunakan dalam permainan yang zaman itu dikenal dengan sebutan cuju.

Bola yang digunakan suku Maya dan Indian Aztec di Amerika Tengah beda lagi. Mereka sudah mengenal bola yang terbuat dari karet yang dibentuk dari bahan lateks.

Sedangkan di Mesir bola yang digunakan berbahan dasar kain. Mereka juga membuat bola dari bahan kulit hewan untuk meningkatkan daya pantulnya. Bahan yang sama juga digunakan oleh bangsa Yunani kuno. Bedanya, di negeri para dewa ini, mereka mengisinya dengan rambut.

Bola di Abad Pertengahan Memasuki era ini, bola sudah dikenal sebagai olahraga yang sangat populer. Karena itu, banya upaya dan tenaga yang dikerahkan untuk merancang bola yang digunakan.

Di kawasan Eropa, kantong kemih menjadi material yang banyak digunakan saat itu. Di Italia pada tahun 1600, mereka menggunakan kantong kemih babi sebagai bolanya.

Namun bola kantung kemih punya banyak kelemahan. Selain gampang tertusuk, bentuknya tidak beraturan. Untuk mengakalinya, bola jenis ini kemudian dilapisi kulit sehingga tidak mudah rusak dan lebih bulat.

Seiring perkembangan zaman, popularitas sepak bola juga semakin bertambah. Bahkan mulai tahun 1800, olahraga ini semakin terkenal dan mulai memasuki level profesional.Begitu juga dengan teknologi pembuatan bola, kian berkembang pesat.

Tahun ini merupakan momen signifikan bagi pengembangan sepak bola. Di tahun ini jugalah babak pertama pembuatan bola dilakukan oleh pria bernama, Charles Goodyear. Melalui tangannya, bola yang dipakai untuk olahraga sepak bola untuk pertama kalinya berbentuk bundar.

Goodyear memecahkan masalah yang selama ini dialami bola sebelumnya. Dengan teknik vulkanisasi, Goodyear menciptakan karet yang padat dan tahan lama, tapi tidak kehilangan daya pantulnya.

Hingga pertengahan tahun 1800, belum ada ukuran dan bentuk baku sebuah bola. Dimensinya bergantung kantung kemih hewan yang digunakan. Namun dengan teknik yang dilakukan Goodyear, ukuran dan bentuk bola sudah bisa disesuaikan.

Jadi pada tahun 1872, Asosias Sepak Bola Inggris (FA) mengeluarkan standar, bola harus bundar dan berdiamter antara 27-28 inci. Dan ukuran ini masih berlaku hingga saat ini.

Spesifikasi ini bertepatan dengan bola karet Charles Goodyear. Karena itu, wajar bila dia dianggap sebagai penemu bola modern yang bentuknya benar-benar bundar.

Meski Goodyear sudah memperkenalkan bola dari bahan karet, namun kehadiran bola kulit masih tetap bertahan. Bahkan hadirnya Liga Inggris pada tahun 1888 telah memacu produski massal bola jenis ini.

Bola pada era ini dibentuk dari beberapa panel kulit murni yang disusun di bagian permukaan untuk melindungi kantung kemih tetap utuh. Jenis ini pernah digunakan pada Piala Dunia 1930.

Seiring perkembangan zaman, bola juga bertambah canggih. Pada tahun 1950, sudah ditemukan bola yang tahan air yang menggunakan cat sintetis. Jahitan juga dihilangkan agar permukaan bola lebih halus dan mudah dikontrol. Pada tahun 1951, bola yang berwarna putih dibuat agar pemain dan penonton lebih mudah melihatnya. Sedangkan saat musim bersalju tiba, maka bola berwana oranye yang biasa dipergunakan.

Warna hitam-putih yang menjadi ikon bola hingga saat ini, pertama kali dibuat oleh adidas tahun 1970. Bola ini dibuat khusus untuk Piala Dunia 1970 dan terdiri dari 32 panel yang dicat dengan warna hitam dan putih. Di setiap bola terdapat 20 panel berwana putih dan 12 panel hitam.

Bola ini dinamai Telstar karena bentuknya yang menyerupai satelit komunikasi yang diluncurkan NASA 1962 lalu. Warna bola membuatnya lebih terlihat pada televisi hitam-putih pada masa itu.

Telstar kembali digunakan pada Piala Dunia 1974 dan menjadi bola pertama yang dideklarasikan FIFA sebagai bola resmi.

Bola dengan 32 panel ini terus bertahan, hingga pada Piala Dunia 2006, adidas kembali memperkenalkan bola 14 panel yang disebut Teamgeist. Dalam bahasa Jerman, Teamgeist berarti semangat tim.

Dengan jumlah panel yang lebih sedikit membuat permukaan bola lebih halus. Seluruh panel tidak dijahit, tapi tetap tetap menyatu dengan baik.

Sedangkan pada Piala Dunia 2010, Adidas kembali meluncurkan bola dengan 8 panel yang dinamai Jabulani atau perayaan dalam bahasa Afrika Selatan. Jumlah panel yang lebih sedikit dan bahan polyurethane yang lebih baik meningkatkan kinerja dan tampilan bola.

Sejumlah prototipe bola-bola masa depan telah dibuat dengan teknologi mencengangkan. Sebuah bola yang dinamai CTRUS tidak lagi diisi dengan udara dan bisa berubah warna saat bola keluar dari lapangan pertandingan atau melewati garis gawang.

(red/ahyu/etyo/armawan/WSD)

loading...

Comments

comments!