Sejarah Sepak Bola dan Kisah Leher yang Tergorok di Roma

257

redaksi.co.id – Sejarah Sepak Bola dan Kisah Leher yang Tergorok di Roma

Setiap jenis olahraga punya sejarah masing-masing. Namun tidak satu pun dari semua itu yang semenarik sejarah sepak bola.

Melacak jejak sejarah sepak bola adalah ironi, mengingat popularitasnya yang terus melambung tapi, penemunya masih diselimuti misteri hingga kini. Sejarawan telah berusaha menggali asal-usul sepak bola, tapi belum menemukan siapa dan kapan tepatnya olahraga ini mulai dimainkan.

Sejarawan lalu menelusurinya lewat jejak budaya di mana olahraga ini mulai dimainkan secara beregu. Dari pendekatan ini, asal-usul sepak bola dibagi jadi dua bagian. Pertama, zaman kuno pada era tahun 4500 lalu dan kedua, era modern yang melandasi langsung persepakbolaan saat ini.

Sepak Bola Kuno

Artefak dan kebudayaan kuno yang ditemukan para sejarawan menjelaskan bahwa sepak bola telah dimainkan di Mesir, Tiongkok, dan Italia. Prinsip dasar pemainan bertahan selama bertahun-tahun, dan terus berlanjut hingga abad pertengahan.

Bola yang terbuat dari linen ditemukan di Mesir pada tahun 2500 SM. Untuk meningkatkan daya pantulnya, sebagian berbahan dasar usus atau kulit binatang. Berdasarkan gambar, para ahli berteori bahwa sepak bola Mesir dimainkan saat pesta kesuburan. Mereka membungkus bola dengan kain berwarna cerah dan menendangnya di atas tanah untuk merayakan kelimpahan hasil bumi.

Sekitar 2000 tahun kemudian, bentuk yang berbeda dari sepak bola Mesir juga ditemukan di Tiongkok. Cuju, begitu orang-orang Tirai Bambu menyebutnya. Bila diterjemahkan langsung, cuju berarti menendang bola dengan kaki telanjang.

Sekitar 476 SM hingga 221 SM, olahraga ini sangat populer di Tiongkok. Permainannya juga tidak jauh berbeda. Sebuah bola kulit dengan boneka bulu di dalamnya ditendang di lapangan persegi. Dan untuk mencetak skor, mereka harus menendangnya di antara dua kain yang digantung.

Saat itu, Cuju sangat populer. Cuju juga digunakan oleh pemimpin militer sebagai olahraga kompetitif untuk menjaga kebugaran tentaranya.

Seiring makin populernya olahraga ini, pejabat kerajaan mulai menata permainan dengan melibatkan pemain profesional. Seperti sekarang, pemain cuju juga diperbolehkan menyentuh bola dengan bagian tubuh mana pun kecuali lengan dan tangan. Peran wasit bahkan sudah dilibatkan untuk memastikan para pemain menaati peraturan.

Meski demikian, sepak bola Tiongkok belum membatasi jumlah pemainnya. Satu tim bisa terdiri atas 2 hingga 10 pemain. Namun, bila turnamen diselenggarakan oleh kerajaan, satu tim biasanya terdiri atas 12 hingga 16 pemain. Siapa pun bisa bergabung dalam sebuah tim, baik pria maupun wanita.

Kemenangan tidak hanya ditentukan oleh jumlah gol. Dalam beberapa pertandingan, kemenangan juga ditentukan oleh cara bermain sebuah tim.

Contohnya, tim yang pemainnya mengumpan terlalu dekat atau menendang bola keluar lapangan bakal dikenai penalti pengurangan poin. Dan tim yang paling sedikit mendapat pengurangan poin akan keluar sebagai pemenang.

Popularitas sepak bola Tiongkok mulai menurun sejak pertengahan abad ke-17. Namun tetap saja ada yang memainkannya sehingga jejak sejarahnya membekas hingga saat ini.

Pada periode yang hampir bersamaan saat Cuju populer di Tiongkok, Roma, juga menikmati olahraga ini dengan versi berbeda. Di negeri para gladiator ini, sepak bola sama sekali tidak mengenal aturan, strategi, ataupun taktik. Di Roma, sepak bola diikuti 54 orang yang dibagi menjadi dua tim. Tujuannya hanya satu: mencetak gol sebanyak-banyaknya ke gawang lawan.

Saking populernya, olahraga ini bahkan sempat dimainkan di awal Olimpiade. Tanpa aturan dan jumlah pemain yang banyak, bisa ditebak, selalu banyak pemain yang cedera selama pertandingan.

Selain dimainkan di lapangan, Roma juga mengenal sepak bola jalanan. Politikus dan orator Roma, Cicero, menuliskan bahwa sepak bola jenis ini lebih banyak dimainkan oleh anak-anak muda zaman itu. Mereka akan berlari sepanjang jalan sembari menendang bola ke sana kemari.

Cicero juga menuliskan bagaimana satu kecerobohan pernah menyebabkan kematian dalam permainan ini. Bukan pemain yang menjadi korban, tetapi warga yang sedang memotong rambut.

Insiden bermula saat sekelompok pemuda bermain sepak bola di jalanan kota.

Seorang pemain tanpa sengaja menendang bola dan mengenai tukang pangkas yang tengah mencukur seorang pelanggan. Bola mengenai tangannya dan pisau yang dipegangnya tanpa sengaja menggorok leher pelanggannya.

Bisa dibilang masyarakat Inggris-lah yang masih setia memainkan olahraga ini di abad pertengahan. Bentuk sepak bola yang populer di Inggris pada pertengahan abad ke-14 dikenal dengan sebutan sepak bola mafia. Diikuti pemain yang tidak terbatas jumlahnya dan belum mengenal aturan baku.

Saat itu, pemain diizinkan untuk terus bermain sejauh tidak mengarah ke pembunuhan. Mereka memainkannya di jalanan dan mengubah kota menjadi lapangan raksasa. Dengan pemain yang tidak terbatas dan aturan yang minim, permainan ini juga kerap berujung kerusuhan. Para pedagang yang berjualan di pasar dan warga yang berada di lokasi tak jarang ikut menjadi korban.

Akibatnya, para penguasa Inggris berusaha melarangnya. Namun saking populernya, permainan tidak berhenti sepenuhnya. Hingga akhir abad ke-14, permainan ini semakin merasuk lebih dalam ke kebudayaan Inggris.

Era Sepak Bola Modern

Popularitas sepak bola di Inggris semakin tak terbendung. Anak-anak muda di sana kian gandrung mengikutinya. Namun minimnya aturan permainan membuat olahraga ini menimbulkan banyak cedera dan keributan.

Kejadian inilah yang kemudian melandasi para pemilik klub menciptakan aturan yang mengutamakan kejujuran dan keadilan. Ini juga yang menjadi tonggak peraturan sepak bola yang berlaku saat ini. Besarnya keinginan untuk membuat aturan ini membuat klub di abad ke-19 duduk bersama dan membentuk Asosiasi Sepak bola (FA).

Memasuki tahun 1860, peraturan sepak bola untuk menghindari kericuhan di lapangan mulai dibuat. Tapi ada satu masalah, setiap klub atau kota ternyata punya aturan sendiri. Akibatnya ketika dua tim yang berbeda wilayah bertemu, sering tejadi pertengkaran mengenai aturan yang akan digunakan.

Bagaimanapun, situasi tersebut akhirnya bisa diredam pada tahun 1863 ketika 12 klub London bertemu untuk membahas aturan permainan.

Klub-klub ini kemudian membentuk badan yang disebut The Football Association (FA), dan menggelar FA Cup yang masih populer hingga kini.

Dari Inggris, aturan ini dengan mudah menyebar ke negara-negara Eropa lainnya seperti Spanyol, Prancis, Belanda, dan Swedia. Akhirnya, negara-negara ini berkumpul untuk membentuk badan sepak bola yang akan mengawasi pertandingan internasional dan terbentuklah FIFA. FA sendiri punya andil yang sangat besar bagi penyebaran sepak bola ke seluruh dunia.

(red/ahyu/etyo/armawan/WSD)

loading...

Comments

comments!