Buntut Tucano Jatuh, DPR Prihatin Anggaran Militer Minim

redaksi.co.id - Buntut Tucano Jatuh, DPR Prihatin Anggaran Militer Minim , Jakarta - Anggota Komisi Pertahanan DPR Salim Mengga menyatakan prihatin dengan biaya perawatan dan...

56 0

redaksi.co.id – Buntut Tucano Jatuh, DPR Prihatin Anggaran Militer Minim

, Jakarta – Anggota Komisi Pertahanan DPR Salim Mengga menyatakan prihatin dengan biaya perawatan dan pemeliharaan alat utama sistem persenjataan TNI. Menurut Salim, kekurangan dana perawatan dan pemeliharaan alutsista di TNI menjadi masalah yang selalu berulang.

Salim berpendapat, minimnya biaya perawatan dan pemeliharaan dikarenakan jatah anggaran total untuk TNI memang jauh dari kebutuhan. Pensiunan Mayor Jenderal TNI Angkatan Darat itu menyebut porsi minimum untuk anggaran pertahanan adalah 1,5 persen dari pendapatan negara. “Jika dikira-kira sekitar 150 triliun per tahun,” kata Salim ketika dihubungi Tempo, Jumat, 12 Februari 2016.

Pada kenyataannya, dia melanjutkan, anggaran pertahanan jarang yang menyentuh angka Rp 150 triliun. Sebagai bukti, untuk tahun 2015 saja pemerintah hanya menganggarkan duit Rp 102 triliun untuk pertahanan, dan tahun 2016 turun menjadi Rp 99 triliun. “Dari total anggaran TNI, 30 persennya untuk perawatan dan pemeliharaan alutsista,” kata Salim.

Komentar Salim ini berkaitan dengan sebuah pesawat tempur latih ringan EMB 314 Super Tucano yang jatuh menghujam sebuah rumah di Kecamatan Blimbing, Malang, pada Rabu, 10 Februari 2016. Pilot Mayor Ivy Safadillah tewas meski sempat keluar dari pesawat menggunakan kursi lontar.

Seorang teknisi TNI AU, Sersan Mayor Syaiful Arief Rakhman, juga gugur dalam kecelakaan tersebut. Pesawat Super Tucano bernomor TT3108 tersebut terbang usai menjalani perawatan berkala.

Salim menjelaskan, karena kekurangan dana tak heran jika perawatan dan pemeliharaan alutsista TNI berkesan alakadarnya. Sebagai contoh, untuk matra kendaraan perang Angkatan Darat tak semuanya kebagian jatah bahan bakar. “Begitu pula di matra lain. Jadi alutsista TNI itu banyak yang tak bisa dioperasikan bukan karena rusak tapi keterbatasan oli dan bahan bakar,” katanya.

Salim pun meminta masyarakat tak langsung menyalahkan Kepala Staf Angkatan Udara usai kecelakaan yang menimpa pesawat tempur. “Sebab KSAU juga rugi pilotnya gugur, dan TNI hanya sekadar menerima anggaran yang kurang, jangan disalahkan,” kata dia.

INDRA WIJAYA

(red/hmad/yaiku/AS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!