Melirik Tawaran Usaha Seblak Basah

redaksi.co.id - Melirik Tawaran Usaha Seblak Basah Beberapa tahun terakhir seblak mulai muncul menjadi makanan ringan yang populer di tengah masyarakat. Ini terlihat dari banyaknya bermunculan...

49 0

redaksi.co.id – Melirik Tawaran Usaha Seblak Basah

Beberapa tahun terakhir seblak mulai muncul menjadi makanan ringan yang populer di tengah masyarakat. Ini terlihat dari banyaknya bermunculan gerai-gerai penjual seblak yang ditemukan di berbagai tempat.

Kerupuk yang dimasak dengan berbagai campuran ini diminati berbagai kalangan usia. Harga jualnya pun ramah di kantong.

Peluang bisnisnya yang masih besar membuat Dety Sukma menjajal peruntungan dengan juga menjual seblak lewat bendera Seblak Basah Ateu di Cakung, Jakarta. Usaha ini dia mulai April 2015 lalu dan langsung menawarkan kemitraan usaha.

Agar memiliki keunikan dari pengusaha seblak lainnya, Dety menambah bahan-bahan lain seperti makaroni, siomay, baso, sosis, atau perpaduan dari bahan-bahan tersebut. “Menu spesial dari kami adalah siomay. Selain itu, pelanggan bisa memilih level kepedasan, mulai dari level 5, 8, dan 10,” tutur Dety.

Saat ini sudah ada tujuh gerai Seblak Basah Ateu yang beroperasi. Tiga gerai yang tersebar di Jakarta dikelola sendiri oleh Dety, dan empat gerai lainnya dikelola oleh mitra yang terletak di Cibitung dan Bogor.

Paket investasi yang ditawarkan sebesar Rp 9,5 juta. Mitra akan mendapatkan booth, pelatihan karyawan, kompor, banner, seragam, kursi plastik, brosur promosi, serta stok bahan awal dan kemasannya untuk satu bulan. Ada pula paket investasi Rp 6 juta yang tidak mendapatkan booth.

Dety tidak mengutip biaya royalti, namun mitra wajib membeli bahan baku awal dari pusat seperti bumbu, siomay, kerupuk, dan makaroni. Sedangkan bahan basah seperti bakso dan sosis boleh dibeli di tempat lain. “Karena bahan kering menyangkut standar cita rasa,” imbuhnya.

Harga jual menu rata-rata pada kisaran Rp 9.000 hingga Rp 13.000 per porsi, tergantung lokasi usaha. Dety menghitung mitra bisa meraup omzet sekitar Rp 9 juta per bulan.

Setelah dikurangi biaya sewa tempat, bahan baku, gaji pegawai, dan biaya operasional lain, mitra bisa meraup laba bersih sekitar 40%. Dari situ target balik modal kurang dari enam bulan. “Kami merekomendasikan untuk memilih di depan minimarket karena sewa lokasi relatif lebih murah,” imbuhnya.

Cermati dulu tawarannya sebelum bergabung.

(red/udianto/R)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!