Gerhana Matahari, Palu Sajikan Tari Kolosal Raigo Dance

redaksi.co.id - Gerhana Matahari, Palu Sajikan Tari Kolosal Raigo Dance , Jakarta - Festival seni dan budaya yang akan digelar oleh Hasan Bahasuan Institute (HBI)...

31 0

redaksi.co.id – Gerhana Matahari, Palu Sajikan Tari Kolosal Raigo Dance

, Jakarta – Festival seni dan budaya yang akan digelar oleh Hasan Bahasuan Institute (HBI) Palu menyambut peristiwa gerhana matahari total (GMT) pada 7-11 Maret 2016 berfokus pada penyajian seni-budaya dari berbagai daerah di Sulawesi, khususnya Sulawesi Tengah.

Direktur HBI Palu Zulfikar Usman di Palu, Senin, 22 Februari 2016, mengemukakan, pada acara pembukaan festival, 7 Maret 2016, pihaknya akan menampilkan tari kolosal Raigo Dance dari Kabupaten Sigi. “Raigo dance ini kami tampilkan secara kolosal dengan melibatkan 40 penari ditambah 10-an pemain musik,” ujar Zulfikar.

HBI, yang merupakan mitra lokal PT Interstellar, Pte Ltdperusahaan event organizer internasional yang berpusat di Singapura, juga akan menampilkan tari-tarian dari Tana Toraja dan Bone, Sulawesi Selatan, serta dari Sulawesi Barat. “Beberapa kelompok etnis besar di Indonesia yang ada di Sulawesi Tengah, seperti Batak dan Jawa, juga akan mengambil bagian dalam festival ini. Namun fokus kita adalah seni-budaya Sulawesi,” tuturnya.

Festival ini juga akan menampilkan seni-budaya dari luar negeri, seperti Korea Selatan yang akan memainkan Fire Dance dan tim dari Australia yang akan menampilkan Australian Dance.

Festival yang akan berlangsung selama lima hari (7-11 Maret) itu akan dipusatkan di perbukitan Desa Ngatabaru, Kabupaten Sigi, yang bisa dijangkau dengan kendaraan roda empat selama 20 menit dari Kota Palu atau 15 menit dari Bandar Udara Mutiara, Palu.

Peristiwa gerhana matahari total akan terjadi pada Rabu, 9 Maret 2016, sekitar pukul 08.35 Wita. Gerhana ini diperkirakan akan disaksikan sekitar 3.000 wisatawan asing dan 2.000 wisatawan domestik langsung dari puncak perbukitan Desa Ngatabaru.

HBI dan Interstellar sedang membangun sebuah kawasan pengamatan dan festival di atas lahan sekitar 5 hektare di Desa Ngatabaru, yang terdiri atas sejumlah bangunan yang seluruhnya menggunakan bambu dan atap daun sagu.

Sebelum festival itu, HBI dan Interstellar sejak setahun terakhir telah aktif menggelar sejumlah kegiatan sosial bagi masyarakat di Desa Ngatabaru dan sekitarnya, seperti kursus bahasa Inggris secara gratis, pelayanan kesehatan dan pengobatan massal, ceramah psikologi, serta sosialisasi masa gerhana matahari.

“Kami juga akan menanam seribu pohon di kawasan ini dengan bibit tanaman endemik setempat sebagai monumen hidup bahwa di Ngatabaru pernah ada kegiatan besar digelar terkait dengan gerhana matahari total,” katanya.

ANTARA

(red/usland/argarito/RM)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!