Bebatuan Purba Ungkap Jejak Hewan Pertama di Dunia

    176

    redaksi.co.id – Bebatuan Purba Ungkap Jejak Hewan Pertama di Dunia

    , Amerika – Hasil analisa genetika spons laut membuktikan kalau mereka adalah hewan paling tua di bumi ini. Mereka telah menduduki Bumi sejak 640 juta tahun lalu. Bukti adanya gen tertua itu didapat dari fosil molekul spons yang tertinggal di bebatuan purba.

    “Kami menggabungkan paleontologi dan bukti genetika, kata David Gold dari Departemen Ilmu Bumi, Atmosfer, dan Planet Massachusetts Institute of Technology (MIT) seperti yang dilansir dari situs MIT News, Selasa, 23 Februari 2016.

    Selama ini, fosil binatang purba banyak ditemukan dari zaman Cambrian, periode pertama dari era zaman Paleozoikum sekitar 541-485 juta tahun yang lalu. Berdasarkan temuan tersebut peneliti berargumen kalau saat itu populasi hewan tiba-tiba saja meledak.

    Mereka berevolusi dari organisme bersel tunggal menjadi hewan dengan multisel yang kompleks, dalam kurun waktu geologi singkat. Namun, ada peneliti seperti Gold yang menduga kalau sebenarnya masih ada hewan yang berusia lebih tua.

    Lantaran tidak ada fosil utuh seperti tulang untuk membuktikan umur hewan tertua itu, maka Gold memakai metode lain. Bersama timnya, Gold meneliti fosil molekul, yang tersimpan di bebatuan purba setelah suatu organisme mati.

    Bukti penentu adalah molekul 24-isopropylcholestane, biasa disingkat ipc. Ini merupakan sterol, atau zat modifikasi dari kolestrol, kata Gold. Dari salah satu batuan purba yang berasal dari zaman sebelum Cambrian, ia dan timnya menemukan jejak 24-ipc dalam jumlah tinggi.

    Molekul ini sendiri banyak dihasilkan spons laut dan beberapa tipe algae. Namun, dengan menelusuri jejak pohon evolusi, ternyata spons laut menghasilkasilkan 24-ipc lebih dulu daripada algae. Karena itu, Gold memastikan jejak yang tersisa di bebatuan itu berasal dari spons laut.

    Kini, mereka akan mencari tahu bentuk fisik hewan tertua ini semasa hidupnya. Masih banyak yang belum kami ketahui. Termasuk mengapa ada jarak begitu jauh antara fosil ini dengan yang sesudahnya. Kami harap ada temuan baru yang dapat mengisi kekosongan jarak evolusi ini, kata Gold.

    PHYS | MIT NEWS | URSULA FLORENE

    (red/ramanta/utra/amungkas/BPP)

    loading...

    Comments

    comments!