Koyo Ini Bisa Sembuhkan Trauma Pascaperang

redaksi.co.id - Koyo Ini Bisa Sembuhkan Trauma Pascaperang Meskipun perang di Afghanistan dan Irak telah berakhir, beberapa tentara masih banyak yang terus berjuang saat kembali dari...

16 0

redaksi.co.id – Koyo Ini Bisa Sembuhkan Trauma Pascaperang

Meskipun perang di Afghanistan dan Irak telah berakhir, beberapa tentara masih banyak yang terus berjuang saat kembali dari bertempuran. Musuh yang dihadapinya pun bukan lagi kelompok militan seperti Al Qaeda atau Taliban, melainkan diri mereka sendiri dari gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD).

Dengan adanya peningkatan penderita PTSD, para dokter pun mencari cara untuk menyembuhkannya. Sebuah penelitan di Universitas California, Los Angeles (UCLA) menemukan koyo yang dapat menstimulasi otak. Koyo tersebut dikenakan di dahi saat pasien tidur dan secara signifikan dapat mengurangi gejala PTSD.

“Dengan menempelkan koyo di dahi akan ada semacam stimulasi otak atau pengobatan neuromodulation disebut stimulasi saraf trigeminal atau TNS. Kami menggunakan elektroda dan koyo perekat mirip dengan plester, pasien akan menerima arus listrik yang mengirimkan sinyal ke bagian otak yang membantu mengatur suasana hati, perilaku dan kognisi. Beberapa pasien yang menggunakannya sebelum tidur mengaku menjadi lebih tenang dan ini sangat menjanjikan,” ujar Profesor psikiatri dari UCLA, Andrew Leuchter dilansir dari Reuters Video.

Salah seorang pasien yang merupakan pensiunan tentara AS, Sergeant Ron Ramirez menderita cedera otak traumatis setelah ikut bertempur di Irak mengatakan ia dan keluarganya telah melihat perbedaan setelah menggunakan koyo tersebut.

“Sekarang mereka tidak menjauh lagi dari saya, ini adalah sebuah. Biasanya mereka elalu mengatakan kepada saya bahwa mereka tahu untuk menjauh dari saya dengan melihat wajah saya. Tapi saat ini mereka mulai datang dan bicara padaku, itu sangat bagus,” ujarnya.

Para dokter pun berharap teknologi ini dapat digunakan untuk mengobati gangguan otak lainnya, termasuk epilepsi, Attention Deficit Hyperactivity Disorder dan bahkan sindrom pasca-gegar otak.

(red/andhi/urhartanto/SN)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!