Penipu Terbesar dalam Sejarah Sepak Bola

402

redaksi.co.id – Penipu Terbesar dalam Sejarah Sepak Bola

Tak perlu Anda tanya apa mimpi bocah-bocah di Brasil. Sebab, jawaban mereka pasti seragam: menjadi pemain bola terkenal. Carlos Henrique Raposo kecil pun begitu.

Dibesarkan di masa kejayaan Brasil usai memenangkan Piala Dunia 1970, Raposo, yang kemudian mengganti namanya menjadi “Carlos Kaiser”, menggantung mimpi jadi super star lapangan hijau.

Dia ingin seperti Pele, Jairzinho, Gerson, ataupun Carlos Alberto yang mengantar Brasil jadi kampiun di Meksiko.

Bedanya, jika anak-anak di Brasil berhenti bermimpi, saat sadar tak punya kemampuan menggocek bola, Kaiser tidak. Meski tak punya kemampuan mumpuni, dia tetap berambisi mengejar mimpinya, dengan cara tak terpuji: menipu!

Hebatnya, strategi Kaiser berlangsung mulus. Dengan tipu-menipu, dia sempat dikontrak klub-klub elite Brasil, seperti Bangu, Botafogo,Vasco Da Gama, Palmeiras, Flamengo, serta klub Prancis, Gazelec Ajaccio. Dia juga mengklaim pernah bermain di Argentina dan Amerika Serikat. Kaiser sukses membangun 20 tahun karier sebagai penyerang tanpa mencetak satu gol pun!

Pria berwajah mirip gitaris Eddie Van Halen ini sebenarnya bukan tak punya kemampuan. Saat remaja, dia sempat dapat kesempatan trial/percobaan di klub Meksiko, Puebla. Namun, karena dianggap tidak layak, Kaiser dipulangkan ke Brasil.

Nah, sepulang dari Meksiko inilah karier tipu-menipu pemain kelahiran Rio Pardo, Brasil ini dimulai. Di awal tahun 1980-an, dia mulai memupuk pertemanan dengan bintang-bintang Brasil yang tengah menanjak ketika itu. Sebut saja Romario, Bebeto, Edmundo hingga Ricardo Rocha.

Kerap, Kaiser men-“service” rekan-rekannya itu di tempat-tempat hiburan malam, kafe atau kelab malam. Imbalannya, Kaiser meminta pemain-pemain tersebut merekomendasikan namanya ke klub-klub yang mengontrak mereka.

Tak perlu kontrak panjang. Kaiser, yang lahir tahun 1963, hanya meminta rekan-rekannya itu meyakinkan klub mereka agar mau memberikan kontrak trial barang tiga bulan.

Lalu, setelah dikontrak, Kaiser akan mengaku dirinya butuh beberapa minggu untuk mengembalikan kondisi terbaiknya. Jadi, bulan-bulan pertama hanya akan diisinya dengan latihan-latihan fisik, berlari mengelilingi lapangan, tanpa harus memperlihatkan kemampuannya dengan bola.

Jika melihat kondisi fisik Kaiser, orang pasti memang akan langsung percaya bahwa dia pesepak bola profesional. Maklum, Kaiser memang memiliki postur yang bagus, sangat ideal untuk pemain bola.

Ketika masa berlatih fisik selesai dan diminta berlatih dengan bola, Kaiser akan mengeluarkan jurus keduanya.

“Saya akan meminta pemain lain memberi saya umpan. Lalu, saya menendang bola itu jauh-jauh. Saat pemain itu kembali setelah mengambil bola, saya akan memegangi hamstring saya, pura-pura cedera,” Kaiser membuat pengakuan dalam program televisi Rede Globo, Esporte Espetacular, tahun 2011 lalu.

Ketika itu, pemeriksaan MRI scan alias pemeriksaan cedera dengan cara pemindaian memang belum dikenal. “Jadi, mau tak mau klub harus percaya kepada saya. Dan, setelah itu, selama 20 hari saya akan menghabiskan waktu ditemani tim medis,” ujar Kaiser, tersenyum.

Di sisi lain, saat mengaku cedera Kaiser memanfaatkan statusnya sebagai pemain bola profesional dengan rutin berpesta, menikmati kehidupan malam Rio de Janeiro. Tentu saja dengan bintang-bintang sepak bola lainnya. Intinya, Kaiser benar-benar sangat menikmati statusnya sebagai “pemain” profesional.

Modus operandi seperti ini terus dilakukan Kaiser dari satu klub ke klub lainnya. Ketika itu, informasi memang masih terbatas, internet belum ada, sehingga klub sulit mendapat informasi tentang Kaiser. Kadang, Kaiser juga membumbuinya dengan gayanya yang glamor khas bintang-bintang bola di Eropa.

Saat dikontrak Botafogo, di awal tahun 1990-an, Kaiser kerap menenteng telepon genggam, yang ketika itu masih jadi barang super mewah, apalagi di Brasil.

Di depan rekan-rekan seklubnya yang tak bisa berbahasa Inggris, Kaiser berpura-pura tengah berbicara, menggunakan bahasa Inggris, dengan klub-klub Eropa. Seolah-olah dia tengah diincar klub-klub tersebut.

Namun, tidak semua begitu saja percaya. Suatu saat, dokter tim Botafogo, yang fasih berbahasa Inggris, curiga karena bahasa Inggris Kaiser kacau balau.

Saat sang pemain mandi, sang dokter tim mengecek handphone milik Kaiser. Betapa kagetnya sang dokter, karena hand phone itu ternyata hanya mainan.

Saat dikontrak Bangu, penyamaran Kaiser juga nyaris terbongkar. Ketika masih dalam proses “pengembalian kondisi terbaiknya”, pelatih memasukkan nama Kaiser dalam skuat.

“Pelatih meyakinkan saya bahwa saya hanya akan menjadi cadangan. Tapi, saat tim kalah, saya diminta melakukan pemanasan. Saya sempat panik,” ujar Kaiser. “Jika saya turun bermain, orang pasti akan tahu kemampuan saya sebenarnya. Saya harus berpikir cepat ketika itu.”

Akhirnya, Kaiser dapat akal. Saat hendak dimasukkan ke lapangan, Kaiser tiba-tiba memanjat pagar pembatas penonton dan menyerang salah seorang suporter. Dia pun langsung mendapat kartu merah dari wasit tanpa harus memasuki lapangan. Kaiser “selamat”.

Namun, usai pertandingan, Kaiser dipanggil presiden klub, Castor de Andrade, yang meminta penjelasan mengapa dia menyerang suporter. Kaiser tak kurang akal.Kepada Presiden Andrade, Kaiser mengaku menyerang suporter karena mereka menghina Andrade dengan menyebutnya pencuri.

“Setelah ayah saya meninggal, saya menganggap Anda sebagai ayah saya. Saya tidak rela ayah saya dihina,” ujar Kaiser kepada Andrade. Sang presiden klub pun terharu. Alih-alih menghukumnya, kontrak Kaiser malah diperpanjang enam bulan.

Tahun pun berganti. Kaiser terus hidup dan “berkarier” untuk menutupi kebohongannya. Alhasil, kebohongan demi kebohongan terus harus dia lakukan untuk “survive”.

Gilanya, Kaiser menikmatinya. Pada awal tahun 1990-an, saat banyak pemain Brasil mulai dilirik klub-klub Eropa, Kaiser pun tak mau ketinggalan. Entah bagaimana caranya, Kaiser akhirnya bisa bergabung dengan klub Prancis,Gazelec Ajaccio, yang ketika itu tampil di Ligue 2.

Di sinilah tantangan Kaiser sesungguhnya. Pada latihan pertama, markas latihan Ajaccio dipenuhi ratusan suporter. Mereka ingin melihat bintang baru mereka yang datang dari Brasil.

Untuk tim sekelas Ajaccio, kedatangan seorang pemain asing memang sangat dinantikan. Apalagi sang pemain datang dari Brasil, yang sejak dulu dikenal sebagai gudangnya bintang-bintang dengan skill mumpuni.

Maka itu, mereka, suporter Ajaccio pun begitu antusias menyambut kedatangan Kaiser. Harapan untuk menyaksikan aksi-aksi spektakuler Kaiser pun mengisi benak para suporter tersebut.

Kondisi ini membuat Kaiser grogi, panik. Dia memasuki lapangan dengan hati deg-degan. Di satu sisi, dia merasa jadi super star karena namanya dielu-elukan. Tapi, di sisi lain, dia khawatir penyamarannya terbongkar.

Bagaimana jika suporter mengetahui kemampuan dia sesungguhnya? Ah..tidak… Kaiser tak mau merusak hari besarnya itu. Akhirnya, lagi-lagi dia mendapat ide konyol.

Setelah menyapa suporter, melambaikan tangan, dan mencium emblem klub di kostumnya, Kaiser mengambil bola-bola yang akan digunakan untuk latihan klub. Satu per satu bola-bola itu dia tendang ke arah suporter untuk dibawa pulang sebagai suvenir.

Hingga akhirnya, bola-bola di lapangan tak tersisa lagi. Pelatih tak bisa berbuat apa-apa. Mereka tak bisa berlatih game tanpa bola. Akhirnya, latihan hari itu hanya diisi dengan latihan fisik, peregangan, dan fitnes yang memang merupakan keahlian Kaiser.

Begitulah Kaiser. Dia menyambung kariernya dengan kebohongan demi kebohongan. Hingga akhirnya dia benar-benar pensiun dari lapangan hijau pada usia 39 tahun! Sepanjang kariernya, selama 20 tahun, Kaiser hanya tampil 12 kali sebagai pemain pengganti di Ajaccio tanpa mencetak satu gol pun.

(red//ainuddin/MZ)

loading...

Comments

comments!