Kelas Menengah Jadi Konsumen Terbesar Properti Yogyakarta

redaksi.co.id - Kelas Menengah Jadi Konsumen Terbesar Properti Yogyakarta , Yogyakarta - Lapisan menengah merupakan pembeli rumah atau properti yang paling banyak di Yogyakarta. "Sebanyak...

34 0

redaksi.co.id – Kelas Menengah Jadi Konsumen Terbesar Properti Yogyakarta

, Yogyakarta – Lapisan menengah merupakan pembeli rumah atau properti yang paling banyak di Yogyakarta. “Sebanyak 75 persen penjualan properti menyasar kelas menengah,” kata Wakil Ketua Real Estate Indonesia DIY, Ilham Muhammad Nur, pada Jumat, 4 Maret 2016.

Ilham menjelaskan harga rumah kelas menengah berkisar Rp 300-Rp 700 juta. Pada 2016, ujarnya, pertumbuhan penjualan rumah kelas menengah mencapai 20 persen. Mereka rata-rata merupakan pekerja swasta maupun keluarga muda yang tinggal di Yogya setelah kuliah di daerah ini.

Penghasilan mereka per bulan rata-rata Rp 5 juta. Rumah kelas menengah membuat bisnis properti cerah. Ilham mengatakan bisnis properti sempat lesu pada 2015 akibat kondisi keuangan global.

Pengusaha properti tahun 2015 kesulitan menjual properti. Data REI menunjukkan terjadi penurunan penjualan rumah hingga 50 persen. Tahun 2015 total rumah yang terjual oleh pengusaha properti yang berhimpun di REI sebanyak 1.600 unit.

REI saat ini punya 125 anggota. Menurut Ilham bisnis properti sekarang tumbuh di Kabupaten Sleman dan Bantul. Di Kota Yogyakarta harga properti kian melambung. Harga rumah kelas menengah di Kota Yogyakarta berkisar rata-rata Rp 750 juta.

Hasil pantauan Tempo menunjukkan rumah kelas menengah banyak berdiri di Kabupaten Bantul. Di Desa Tamantirto dan Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan misalnya, padat dengan rumah-rumah kelas menengah ke atas. Contohnya adalah rumah di Pondok Permai Taman Tirta 2 Residence.

Harga rumah di situ rata-rata Rp 600-900 juta dengan fasilitas kolam renang. Hanya berjarak 300 meter terdapat Padma Residence, rumah kelas menengah yang padat hunian. Kepala Badan Pusat Statistik DIY, Bambang Kristanto mengakui pertumbuhan kelas menengah di Yogyakarta.

Satu di antara ukurannya adalah banyaknya apartemen maupun hunian yang banyak diakses lapisan ini. Namun, tumbuhnya kelas menengah itu tidak diimbangi dengan pemerataan kesejahteraan. Data BPS menunjukkan ada ketimpangan sosial. “Lahan pertanian semakin tergeser oleh kepentingan bisnis dan hunian. Petani jadi kelompok yang terpinggir,” kata Bambang.

Garis kemiskinan di DIY pada September 2015 sebesar Rp 347.721 per kapita per bulan. Sedangkan pada Maret 2015 Rp 335.886 per kapita per bulan. Ini menunjukkan ada kenaikan 3,52 persen. Bila dibandingkan dengan September 2014 terjadi kenaikan garis kemiskinan 8,31 persen. SHINTA MAHARANI

(red//ur/sikin/MNA)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!