Saat Prostitusi Dadap Senyap di Malam Jumat

188

redaksi.co.id – Saat Prostitusi Dadap Senyap di Malam Jumat

Suasana malam Jumat di kawasan prostitusi Dadap, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, memang berbeda dengan malam biasanya.

Tidak terdengar hingar-bingar dangdut koplo dari sederet rumah bordil di sana.

Sebagai gantinya, beberapa pekerja seks komersil berpakaian seksi duduk manis di luarnya.

Demi menarik perhatian pria hidung belang untuk mampir.

“Ini malam Jumat, kami punya tradisi menghargai warga sini yang ingin yasinan. Jadi musik tidak akan kami nyalakan sampai kafenya tutup,” tutur Mamih, salah satu pengelola Kafe Segar Mawar 2 yang ada di lokasi tersebut saat ditemui Liputan6.com, Kamis malam 3 Maret 2016.

Meski suasana kontras tengah berlangsung di kampung sebelah, bagi Mamih bukan berarti tutup ‘warung’.

Bagi dia dan beberapa rekannya, hanya pagi dan sianglah waktu istirahat.

Ketika magrib berlalu, saatnya bekerja. Lampu kelap-kelip mulai menghiasi masing-masing kafe. Temaram.

Pertanda bagi setiap PSK untuk mulai keluar dari sarangnya, dipajang menyambut tuan yang datang.

Seperti di depan Kafe Diva Permata Karaoke, 8 wanita penghibur berderet rapih duduk di bangku kayu di teras.

Semuanya kompak, mengenakan pakaian seksi hitam.

“Masuk, Om… masih kosong,” ajak seorang wanita kepada pengendara yang melintas di depan Diva Permata.

Bila tidak ada calon pelanggan, mereka asyik bersenda gurau.

Sekadar selfie, wefie, atau sekadar menghabiskan rokok di tangannya.

Tak jauh beda dengankafe yang ada di depannya, para wanitanya juga ikut mangkal di teras kafe. Bedanya, mereka dijaga seorang pria.

Menurut Mamih, pada jam operasional begini, pantang bagi mereka untuk berada di dalam. Sebab khawatir para pelanggan mengira kafe mereka tutup. Alhasil, calon pelanggan memilih kafe lainnya.

Mamih mengaku mempekerjakan PSK ‘Jaminan Mutu’. Maksudnya, para pekerja berusia 20-30 tahun. Rata-rata mereka berasal dari daerah Jawa Barat. Soal bentuk tubuh, Mamih menjamin aduhai.

“Paketannya ada yang Rp 300 ribu sampai jutaan. Tergantung berapa cewek yang dimau,” ujar Mamih yang mengaku baru 3 tahun membuka usahanya.

Lalu, apa kata Mamih bila Pemkab Tangerang berencana menertibkan kawasan tersebut per Mei 2016?

“Ya saya mah mau pulang kampung saja,” jawab dia pasrah.

Sementara itu, di kampung puluhan warga yang mayoritas nelayan tengah menggelar pengajian.

Untuk menuju ke kampung nelayan tersebut ada akses gang yang memisahkan kawasan prostitusi Dadap dengan kampung tersebut.

Pengajian malam itu tengah digelar di salah satu rumah calon RW setempat. Misbah (56), nama pemilik rumah yang menggelar hajat mengatakan, para pengelola kafe dan pelacuran di Dadap mayoritas adalah para pendatang.

“Kami ini para nelayan, tidak ada yang memiliki kafe tersebut,” ungkap dia.

Kawasan prostitusi Dadap, kata Misbah, sudah berdiri sejak 1990-an. 6 tahun berdiri, beberapa kafe sempat dibongkar. Namun perlahan kafe-kafe berdiri kembali.

Kafe remang itu dulunya berjumlah 76, tapi kini berkurang dan tersebar di 2 RW, yaitu RW 3 ada di RT 1, 2, 3 dan 4, serta di RW 2 terdapat 3 kafe saja.

Dia tidak bisa memungkiri, dulunya kafe remang tersebut digunakannelayan di malam hari sepulang melaut.

“Layaknya kehidupan Pantura. Nelayan pulang melaut, terus datang ke kafe untuk memuaskan hasratnya,” kata Misbah.

Tapi sekarang, justru yang jadi pelanggan adalah warga pendatang. Terkait langkah Pemkab yang hendak menertibkan kawasan tersebut, Misbah setuju.

“Memang sebagian besar masyarakat di sini sudah resah,” ujar Misbah.

Namun, kata Misbah, pemerintah setempat harus menjamin bilapembongkaran hanya dilakukan kepada kafe-kafe temaram.

“Bupati harus beri jaminan secara tertulis,” tegas dia.

(red/aini/J)

loading...

Comments

comments!