Ada kendala, Kendaraan Listrik Masih Sulit Masuk Indonesia

redaksi.co.id - Ada kendala, Kendaraan Listrik Masih Sulit Masuk Indonesia T , Jakarta - Kendaraan berbasis elektrik dianggap masih sulit masuk ke pasar Indonesia. Masih banyaknya...

13 0

redaksi.co.id – Ada kendala, Kendaraan Listrik Masih Sulit Masuk Indonesia

T , Jakarta – Kendaraan berbasis elektrik dianggap masih sulit masuk ke pasar Indonesia. Masih banyaknya kendala dan keterbatasan sumber daya, membuat produk-produk kendaraan elektrik masih akan cukup lama masuk ke Indonesia.

Honda sebagai salah satu pengembang teknologi transportasi, mengatakan jika mereka telah membuat sebuah teknologi baterai ringkas dan inovatif. Baterai ini bisa digunakan secara portabel untuk menggantikan baterai mobil elektrik jika habis.

Namun, Honda masih pesimis dengan perkembangan teknologi ini di Indonesia. “Sayangnya (baterai) itu tak akan jadi pengganti teknologi kendaraan konvensional,” kata Fumihiko Ike, Chairman Honda Motor, dalam diskusi bertema “Potential of Electric Vehicle As An Alternative Mobility Solution”, yang digelar di Auditorium Soeria Atmadja, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, Sabtu, 5 Maret 2016.

Menurut Ike, ada beberapa hal yang masih belum bisa dijangkau oleh teknologi baterai ini. Dua di antaranya adalah terkait dengan jarak tempuh dan biaya. Kemampuan teknologi baterai yang saat ini dimiliki Honda, belum menjangkau efisiensi teknologi kendaran konvensional, seperti motor bebek.

Walau begitu, Honda sudah mengembangkan kendaraan ramah lingkungan dengan basis elektris. Salah satunya adalah mobil Honda EV yang dirilis pada 2014. Mobil ini sudah menggunakan baterai teknologi terbaru Honda.

Honda sendiri menargetkan pada 2018 pangsa pasar Indonesia sudah bisa mulai menerima baterai itu. “Saat ini kami masih melakukan penelitian di Indonesia tentang pasar,” kata Ike.

Kepala Subdirektorat Uji Berkala Kendaraan Bermotor Kementerian Perhubungan Yusuf Nugroho justru mengatakan penggunaan baterai ini harus digunakan secara hati-hati. “Harus diperhatikan penanganannya, limbah baterai tersebut,” katanya.

Yusuf mendukung pemanfaatan teknologi elektris ini dalam transportasi. Ia menyampaikan saat ini, transportasi jalan di Indonesia merupakan salah satu penyumbang terbesar gas CO2.

EGI ADYATAMA

(red/usland/argarito/RM)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!