Demam Gerhana Matahari, Hotel Sampai Rumah Warga Disewa Turis

redaksi.co.id - Demam Gerhana Matahari, Hotel Sampai Rumah Warga Disewa Turis Gerhana matahari total 2016 membawa berkah tersendiri bagi warga yang wilayahnya dilalui fenomena langka itu....

22 0

redaksi.co.id – Demam Gerhana Matahari, Hotel Sampai Rumah Warga Disewa Turis

Gerhana matahari total 2016 membawa berkah tersendiri bagi warga yang wilayahnya dilalui fenomena langka itu. Salah satunya, ribuan wisatawan menyerbu Palu, Sulawesi Tengah untuk menyaksikan gerhana matahari total. Akibatnya, hotel dan homestay telah ludes di-booking.

Tak mau kehilangan akal dan memanfaatkan momen ini, sebagian warga Palu menawarkan ke beberapa wisatawan untuk menginap di rumah-rumah mereka. Penawaran ini dilakukan kepada para turis yang sudah tiba di Palu, ataupun yang bekerjasama dengan pihak hotel.

Dikutip dari keterangan tertulis Kementerian Pariwisata, diperkirakan 10 ribu pengunjung dari dalam dan luar negeri akan menyaksikan GMT di Sulawesi Tengah pada hari ini. Bahkan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla juga menikmati GMT di kota tersebut.

Hingga 1 Maret 2016, sudah tercatat sekitar 5.000 orang pengunjung dari berbagai negara di dunia yang mengonfirmasikan kehadirannya. Mereka adalah pencinta gerhana yang menamakan diri ‘eclipse hunter’, ilmuwan, fotografer dan wisatawan.

Akibatnya, kamar-kamar hotel mulai yang berbintang sampai kelas melati sudah terpesan penuh untuk empat hari, yakni 7 sampai 10 Maret 2016.

“Kami terpaksa mencari-cari rumah penduduk yang bisa dimanfaatkan untuk tempat menginap para tamu dari sejumlah kementerian dan lembaga negara yang akan datang, karena tidak ada lagi kamar hotel yang kosong,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sulawesi Tengah Sitti Norma Mardjanu.

Provinsi berpenduduk sekitar 2,7 juta jiwa ini tampaknya memang lebih beruntung dibanding 11 provinsi lainnya yang akan dilintasi GMT, karena memiliki titik pantau terbanyak yang tersebar pada lima kabupaten yakni Sigi, Parigi Moutong, Poso, Tojo Unauna dan Banggai serta Kota Palu.

Berbagai festival telah disiapkan untuk para pengunjung GMT yang diharapkan membikin mereka betah berlama-lama di kota ini, serta memikat hati turis untuk kembali lagi berkunjung pada kesempatan berikutnya.

“Festival seperti ini penting karena, sebagian besar pengunjung asing nanti adalah mereka yang baru pertama kalinya datang ke Indonesia,” tutur Zulfikar Usman, Direktur Hasan Bahasuan Institute (HBI) yang akan menggelar festival seni-budaya di Desa Ngatabaru, Kabupaten Sigi, lokasi pengamatan GMT dengan pengunjung asing terbesar di provinsi ini.

HBI akan menyajikan seni budaya dari berbagai daerah di Sulawesi, khususnya Sulawesi Tengah seperti tari kolosal Raego dari Kabupaten Sigi, yang melibatkan 40 orang penari ditambah 10-an orang pemain musik.

Raego dance akan didampingi dengan penampilan tari-tarian dari Tanah Toraja dan Bone, Sulawesi Selatan serta berbagai kelompok etnis seperti Batak dan Jawa. (Yas/Ndw)

(red//ur/sikin/MNA)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!