Menangkap Peluang Besar Industri Kreatif di Era Digital

657

redaksi.co.id – Menangkap Peluang Besar Industri Kreatif di Era Digital

JAKARTA– Industri kreatif kini menjelma menjadi sektor ekonomi yang semakin gemilang di Indonesia. Kontribusinya terhadap perekonomian negara makin signifikan. Menariknya, industri kreatif di Indonesia bertumbuh secara unik.

Industri ini tumbuh kuat ditopang oleh kehadiran kelas menengah. Pelaku industri ini juga mampu memahami dan selalu adaptif terhadap minat dan perubahan selera pasar. Hasilnya, produk-produk industri kreatif yang hadir ke pasar selalu inovatif, segar dan disukai konsumennya.

Maraknya para pelaku industri kreatif juga terbukti mampu menciptakan lapangan kerja baru sekaligus membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga di tengah berbagai ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor industri saat ini.

Itu sebabnya, dalam beberapa tahun terakhir industri kreatif berhasil menjelma menjadi kekuatan ekonomi baru (new economy) di Indonesia. Karena, tidak sedikit dari hasil produk industri kreatif Indonesia yang diekspor ke manca negara.

Saat menghadiri acara peresmian Konferensi Internasional Industri Kreatif atau International Conference Creative Industry (ICCI) 2015 di Denpasar, Bali, 11 Agustus 2015 lalu, Menteri Perindustrian Saleh Husin memaparkan, industri kreatif di Indonesia tumbuh 5,76 persen atau tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,74 persen.

Kontribusi industri kreatif terhadap perekonomian RI mencapai 7 persen dari produk domestik bruto (PDB). Jika dirupiahkan, nilainya mencapai Rp 641,8 triliun. Industri ini mampu memberikan lapangan kerja bagi sedikitnya 11,8 juta orang dari sekitar 5,4 juta total unit usaha kreatif yang eksis di Tanah Air saat ini.

Realisasi ekspor industri kreatif di subsektor kerajinan mencapai 11,81 persen, diikuti subsektor fesyen 7,12 persen, periklanan 6,02 persen dan arsitektur 5,59 persen. Pendapatan dari hasil ekspor sektor industri kreatif mencapai Rp 118 triliun atau 5,7 persen dari total nilai ekspor nasional.

Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Ricky Pesik saat tampil sebagai pembicara di acara gathering media dan blogger Industri Kreatif Pada Era Digital di kantor pusat JNE di kawasan Tomang, Jakarta Barat, Desember 2015 lalu, menyatakan, tren geliat industri kreatif tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di sejumlah negara lain.

Mengutip data United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), Ricky Pesik menyatakan, sejak 2002 sampai 2011 ekonomi kreatif secara global tumbuh 134 persen. Subsektor ekonomi ini memberi kontribusi 6,1 persen pada perekonomian dunia.

Melalui Badan Ekonomi Kreatif yang baru saja dibentuk, Ricky Pesik berjanji akan terus mendorong pertumbuhan industri ini agar memberi kontribusi lebih signifikan lagi bagi perekonomian RI, termasuk membantu penciptaan lapangan kerja baru.

Jika kita identifikasi,selain oleh peran konsumen kelas menengah, bertumbuhnya industri kreatif di Indonesia terjadi karena empat faktor kunci.

Pertama, pengguna seluler dan layanan data yang terus tumbuh. Kedua, pertumbuhan jumlah pengguna beragam platform social media. Ketiga, tumbuhnya industri e-commerce, termasuk marketplace berbasis online. Keempat, dukungan yang kuat industri jasa kiriman ekspres dan logistik di sektor hulu dan hilir.

Tumbuhnya pengguna layanan data

CEO Group JNE Abdul Rahim Tahir mendeskripsikan, populasi pengguna ponsel d Indonesia saat ini mencapai 260 juta orang. Angka ini melebihi jumlah penduduk Indonesia yang kini berjumlah sekitar 255,5 juta jiwa.

We Are Social, sebuah lembaga riset dan marketing berbasis di Singapura, dalam publikasi hasil riset tentang pengguna internet di Asia Tenggara bulan November 2015 lalu menyebutkan data pengguna yang lebih besar lagi. Menurut lembaga riset ini, total pengguna ponsel di Indonesia mencapai 125 persen atau ekuivalen dengan 318,5 juta nomor dari total populasi penduduk Indonesia yang mencapai 255,5 juta orang.

Maraknya pengguna social media

Total jumlah pengguna internet menurut We Are Social di Indonesia per November 2015 mencapai 88,1 juta orang. Angka ini merepresentasikan 34 persen dari total penduduk. Hasil riset We Are Social juga menyebutkan, total pengguna aneka platform media social seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan Path di Indonesia mencapai 79 juta orang atau 31 persen dari total populasi penduduk.

Lembaga ini juga menyebutkan, total pengguna mobile social, yakni platform social media berbasis smartphone seperti BlackBerry Messenger, Whatsapp, Line dan lain-lain, mencapai 67 juta pengguna.

Tak terbantahkan, pertumbuhan pengguna platform social media membuat banyak orang terpantik ide kreatifnya untuk mencari sumber penghasilan. Mereka ikut terjun memasarkan aneka produk kreatif dengan memanfaatkan jejaring pertemanan yang mereka miliki.

Indikator sederhananya, adalah banyaknya produk industri kreatif hadir ditawarkan di halaman beranda akun media social kita. Misalnya, di Facebook.

Beragam produk, mulai dari fashion & apparel, aksesoris, sampai makanan dalam kemasan, bahkan bibit tanaman dan binatang piaraan (pet) ditawarkan di sana. Hal serupa juga dengan mudah kita temukan di platform mobile social seperti BlackBerry Messenger atau Whatsapp.

Hadirnya Ragam Marketplace

Hadirnya beragam portal marketplace sejak beberapa tahun terakhir ikut menopang pertumbuhan industri kreatif di Indonesia. Platform marketplace seperti Bukalapak.com, Tokopedia, OLX dan Elevenia mampu memberikan lahan baru baru para pelaku industri kreatif untuk menghubungkan mereka dengan pelanggan, serta menjangkau pelanggan dengan spektrum yang lebih luas lagi. Tidak hanya di dalam negeri, tapi juga mancanegara.

Achmad Zaky, CEO Bukalapak.com yang juga hadir sebagai pembicara di gathering media dan blogger ‘Industri Kreatif di Era Digital’ di kantor pusat JNE menyatakan, masyarakat Indonesia kini semakin melek pada dunia digital. Tren ini sangat membantu mengatasi berbagai hambatan bagi pengembangan industri kreatif di Tanah Air.

Zaky menyebutkan, hadirnya platform e-commerce seperti Bukalapak.com mampu membantu pelaku industri kreatif, terutama yang berskala kecil dan menengah (UKM) mendapatkan akses pasar baru yang lebih luas.

Dia mencontohkan, UKM yang telah bergabung di Bukalapak.com bisa merengkuh konsumen baru dari mana saja di belahan bumi melalui internet.

Menurut Achmad Zaky, sampai Desember 2015 lalu, sudah 500 ribu lebih UKM industri kreatif telah bergabung di Bukalapak. Rata-rata omset penjualan bulanan mereka mencapai Rp 5 juta dengan pertumbuhan omset penjualan yang terus positif.

Selain menyediakan akses pasar yang lebih luas dan membantu membangun networking, hadirnya situs marketplace juga berkontribusi mengedukasi pelaku dan pemasar produk industri kreatif tentang metode dan strategi pemasaran produk.

Termasuk juga, edukasi tentang pentingnya menjaga konsistensi kualitas produk, manajemen pengiriman barang pesanan pelanggan secara tepat waktu, menindaklanjuti komplain yang masuk, dan sebagainya.

Lila Nirmandari, Chief Financial Officer (CFO) Elevenia dalam perbincangan dengan Tribun di Jakarta, baru-baru ini, menyatakan, insiatif membangun engagement antara penyedia marketplace dengan pelaku industri kreatif di Elevenia sangat penting. Ini karena relasi tersebut mampu menciptakan kerjasama saling menguntungkan jangka panjang bagi kedua pihak.

Lila menyebutkan, secara berkala pihaknya memberikan edukasi kepada industri kreatif dari kelompok UKM tentang bagaimana mengelola produk yang dipasarkan lewat Internet. “Kita mengajari mereka bagaimana mengelola e-mail sampai menjaga konsistensi kualitas produk,” jelas Lila.

Usaha yang konsisten ini membuahkan hasil. Sepanjang 2015 lalu, nilai penjualan total di Elevenia tumbuh 4 kali lipat dengan membukukan angka Rp 3,5 triliun. Sebagian dari nilai penjualan tersebut dikontribusi oleh produk industri kreatif dari UKM.

Dukungan kuat industri jasa kiriman

Yang tak boleh dipandang sebelah mata adalah peran industri jasa pengiriman dan logistik seperti PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE). Andil industri ini sangat besar dalam mendukung pertumbuhan industri kreatif di Tanah Air.

Merekalah yang menghubungkan pelaku industri kreatif (penjual) dengan pelanggan, hingga pelosok kecamatan di Nusantara.

Tanpa peran industri jasa pengiriman seperti yang digeluti JNE, produk yang dipasarkan industri kreatif, baik yang mereka pasarkan secara mandiri maupun melalui marketplace, tak akan sampai ke konsumen.

Sejumlah jenis layanan jasa pengiriman JNE selama ini berkontribusi kuat dalam mendukung tumbuh kembang industri kreatif di Tanah Air. Misalnya, Pesona.

Produk jasa pengiriman yang merupakan singkatan dari Pesanan Oleh-oleh Nusantara ini merupakan produk jasa kiriman yang unik dan merupakan terobosan penting JNE dalam memajukan industri kreatif berbasis kuliner.

Layanan yang diperkenalkan ke pasar sejak 2010 lalu ini berhasil membantu pelaku industri kreatif di bidang kuliner menjangkau pasar yang lebih luas lewat aneka produk olahan dan jajanan khas yang menjadi ikon sebuah daerah.

Pesona hadir sebagai produk yang menyediakan akses dua arah.

Dari sisi pelanggan, Pesona memungkinkan pelanggan JNE memesan jenis oleh-oleh tertentu yang mereka minati secara online. Lalu, JNE langsung memproses pesanan tersebut lalu mengirimkannya ke pemesan. Di bisnis layanan ini, JNE telah merangkul ratusan pengusaha kuliner khas daerah

Produk-produk layanan kiriman JNE lainnya, seperti Reg (antaran Reguler) OKE (Ongkos Kirim Ekonomis), SS (Super Speed) dan YES (Yakin Esok Sampai) sangat familiar di kalangan pelaku industri kreatif dalam mengirimkan barang pesanan ke pelanggan. Begitu juga produk antaran JNE lainnyan seperti PELIKAN (Pengiriman Lintas Kawasan).

Nyatanya, bisnis layanan kiriman seperti yang JNE geluti tidak hanya menyasar segmen pelaku dan pemasar produk kreatif berskala rumahan dan menengah (UKM).

Tapi juga segmen korporat, termasuk klien-klien besar seperti perusahaan marketplace yang jenis barang kirimannya sangat beragam, mulai dari produk fashion, aksesoris, produk kesehatan dan kecantikan, sampai ke aneka kerajinan, minat dan hobi, dan lain-lain.

Satu diantara marketplace yang mempercayakan kiriman barang ke pelanggan kepada JNE adalah Elevenia.

“Selama ini JNE menjadi major partner kami. Layanan antaran JNE selama ini memuaskan, terutama tersedianya fitur tracking kiriman,” kata Madeleine Ogn De Guzman, Vice President Elevenia kepada Tribun di Jakarta, baru-baru ini.

“Fitur ini sangat membantu kami mengetahui alur pengiriman barang kami sampai ke tangan konsumen. Fitur ini juga membantu kami mengukur tingkat kepuasan pelanggan,” imbuhnya.

“Kualitas packing yang diberikan JNE juga bagus,” lanjut Madeleine.

Dalam business update di depan media dan blogger Desember 2015 lalu, Presiden Direktur JNE Abdul Rahim Tahir menyebutkan, setiap bulan JNE melayani 12 juta kiriman barang atau rata-rata 400.000 kiriman per hari.

Dengan kekuatan networking-nya, JNE saat ini memiliki 5.000 titik layanan yang menjangkau seluruh kecamatan di Tanah Air, dan melayani pengiriman ke 212 negara dengan dukungan 30.000 agen dan karyawan.

Menurut Komunikasi Pemasaran JNE Mayland Hendar Prasetyo, selama 2015 pengiriman barang di JNE bertumbuh 39 persen dari yang pencapaian di 2014. “Sebanyak 60 hingga 70 persen dari total jasa kiriman yang ditangani ini berasal dari para pelaku bisnis e-commerce,” kata dia.

Banyak Peluang Bisa Digarap

Meski kini banyak pemain yang terjun di industri kreatif, pasar industri kreatif belum jenuh. Pasar masih bisa terus bertumbuh seiring dengan tren masyarakat Indonesia yang semakin digitalized.

Seperti dituturkan Abdul Rahim Tahir, dengan 74 juta pengguna Internet dan 260 juta pengguna telepon seluler saat ini, bisnis industri kreatif di era digital masih menawarkan peluang sangat besar untuk digarap.

Apalagi, pertumbuhan penduduk kelas menengah di Indonesia saat ini terus terjadi. Di 2020 nanti, jumlah warga kelas menengah di Indonesia diprediksi naik menjadi 141 juta dari posisi 74 juta kelas menengah di 2013. “Mereka merupakan pasar potensial yang menarik digarap,” sebut Abdul Rahim Tahir.

Tahun ini saja, potensi pasar konsumen online shop, menurut estimasi Abdul Rahim Tahir, mencapai 8,7 juta orang. Angka ini naik nyaris 2 kali lipat dari 4,6 juta online shopper di 2013.

Sementara, perputaran uang di bisnis e-commerce sepanjang 2016 ini diproyeksikan mencapai 4,49 juta dolar AS atau tumbuh lebih dari 2 kali lipat perputaran uang di e-commerce di sepanjang 2013 yang baru sekitar 1,8 juta dolar AS.

Jangan Berhenti Berbenah

Mengantisipasi peluang yang terbuka begitu lebar dan pasar e-commerce yangsemakin mature, para pelaku bisnis jasa kiriman perlu terus berbenah.

JNE, menurut Abdul Rahim, juga melakukan hal tersebut. Antara lain dengan melakukan penyempurnaan website JNE, peluncuran aplikasi mobile JNE App, dan pengembangan escrow account system (rekening bersama untuk menampung sementara lalu transaksi dan pembayaran).

“Tahun ini kami menginvestasikan dana lebih dari Rp 55 miliar untuk belanja IT (teknologi informasi,” kata Abdul Rahim.

Anggaran tersebut dialokasikan untuk pembelian lisensi IT dari vendor Oracle, pengembangan data center di Jakarta dan Surabaya serta pengembangan infrastruktur IT lainnya.

Total investasi yang JNE belanjakan di tahun 2016 ini mencapai Rp 400 miliar lebih. Selain untuk pengembangan infrastruktur pendukung, juga untuk menambah jumlah armada kiriman, membangun warehouse baru dan otomatisasi sistem di internal JNE.

Langkah JNE meluncurkan berbagai layanan baru dalam 7 Magnificent, satu diantaranya aplikasi mobile My JNE, lewat sebuah acara yang dihadiri jurnalis dan blogger di kawasan Epicentrum, Jakarta, baru-baru ini juga tepat dan mendapatkan momentum yang pas.

Karena, industri kreatif dan industri terkait dengan dunia digital di Indonesia saat ini sudah semakin matang dengan pelaku yang terlibat di dalam industri ini yang semakin membesar. Hal itu ditunjang oleh terus tumbuhnya aplikasi mobile berbasis smartphone.

Kun Arief Cahyantoro, pengamat e-commerce asal Institut Teknologi Bandung (ITB) memprediksi, pertumbuhan aplikasi mobile diperkirakan bisa mencapai 45 persen.

Apalagi, seperti dinyatakan CEO Lazada Indonesia Magnus Ekbom, sekitar 85 persen pengguna smartphone di Indonesia memiliki 10-15 aplikasi mobile. Sekitar 10 persen pengguna smartphone memiliki lebih dari 40 aplikasi mobile.

Aktivitas digital yang akan terus tumbuh inilah yang saat ini dan ke depannya akan berdampak langsung pada perkembangan industri kreatif dan ekonomi digital di Indonesia makin menggelora.

Inilah yang akan secara sangat signifikan menjadi energi pendorong kuat bagi terus bertumbuhnya industri e-commerce di Indonesia. Pada gilirannya, juga akan ikut menggenjot bisnis jasa antaran ekspres dan logistik seperti JNE.

Pada akhirnya, pertumbuhan industri kreatif dan dunia digital di Indonesia harus semaksimal mungkin ditangkap oleh siapa saja yang merasa memiliki tanggung jawab memajukan negeri ini demi memberikan kesejahteraan sebesar-besar kepada anak bangsa.

(red/uhammad/irmansyah/MF)

loading...

Comments

comments!