Sistem Dana Talangan Haji, Apa Plus dan Minusnya?

redaksi.co.id - Sistem Dana Talangan Haji, Apa Plus dan Minusnya? Ibadah haji sekarang bisa dilakukan tanpa harus melunasi dulu biayanya. Yang menawarkan fasilitas ini adalah bank...

90 0

redaksi.co.id – Sistem Dana Talangan Haji, Apa Plus dan Minusnya?

Ibadah haji sekarang bisa dilakukan tanpa harus melunasi dulu biayanya. Yang menawarkan fasilitas ini adalah bank syariah.

Tapi, model ibadah haji semacam ini mendapat penolakan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Alasannya, masyarakat malah diajari berutang untuk menunaikan ibadah haji.

Kok bisa begitu? Sebenarnya bagaimana cara kerja sistem dana talangan hajiini?

Jadi begini. Sejumlah bank syariah, seperti Bank Mandiri Syariah, Bank BRI Syariah, dan BNI Syariah, punya program naik haji dengan sistem kredit.

Cara kerjanya secara umum, kita membayar dulu persekot alias uang muka sekian persen dari total biaya haji. Dengan bayar persekot itu, kita udah didaftarkan antrean haji.

Kemudian, kita membayar cicilan sampai tiba saatnya berangkat naik haji. Sepulangnya dari Tanah Suci, kita wajib melunasi cicilan tersebut.

Mekanismenya gak beda jauh dengan kredit-kredit lain dari bank. Misalnya dalam kredit pemilikan rumah (KPR).

Hanya dengan bayar uang muka, kita langsung bisa menempati rumah. Namun angsuran per bulan harus dilunasi sesuai dengan perjanjian.

Jadi, dari kacamata perbankan, naik haji dengan sistem kredit memungkinkan. Namun mungkin dari perspektif agama kurang pas. Meski demikian, menurut berita dari situs Nahdlatul Ulama, sistem ini populer di Malaysia.

Terlepas dari dalil-dalil seputar sistem naik haji kredit ini, ada sejumlah nilai plus dan minus. Apa saja?

Siapa yang gak mau cepat-cepat menunaikan haji? Dengan sistem ini, tak perlu menunggu uang cukup untuk membayar tunai keras ongkos naik haji.

Asal udah bayar persekot dan cicilan awal, udah bisa naik haji

Buat sebagian orang, beban yang terlihat nyata seperti utang lebih menambah motivasi untuk melakukan sesuatu. Dalam soal berhaji, jika sudah ada tanggungan bayar cicilan, pasti lebih giat untuk melunasinya.

Dengan demikian, urusan haji juga bisa cepat kelar. Kecuali buat yang asal ambil kredit tanpa memperhitungkan keuangannya.

Meski urusan berhaji sudah tuntas, masih ada beban yang belum hilang. Sepulang dari ibadah haji, kita kudu melunasi cicilan.

Bisa jadi selama di Tanah Suci malah kepikiran utang. Jadinya ibadah malah gak khusyuk.

Nasib orang siapa yang tahu. Mungkin kita merasa bisa melunasi cicilan kredit haji dalam 5 tahun ke depan.

Tapi, pada tahun keempat tiba-tiba ada musibah, misalnya kena pemutusan hubungan kerja (PHK). Walhasil, gak ada lagi pemasukan. Ujungnya, kredit macet dan masalah bisa berujung di pengadilan.

Secara umum, mekanisme sistem dana talangan hajiini memang kurang-lebih sama dengan produk kredit lain. Termasuk soal risikonya.

Ibadah haji itu wajib, tapi tetap harus tetap memerhatikan keuangan masa depannya

Kita sebagai masyarakat harus memikirkan masak-masak risiko ini. Dan karena sistem ibadah haji ini tak hanya berkaitan dengan perbankan, kita harus mikir dua kali.

Ibadah haji juga berkaitan dengan agama. Jika memang tak merasa cocok dengan sistem ini, tak perlu mengambilnya.

Tapi, jika merasa gak ada masalah, tentunya sistem ini sangat membantu buat mereka yang susah mengumpulkan dana tunai ongkos haji. Tinggal memikirkan cara melunasi cicilan saja.

Kuncinya, hitung kemampuan keuangan dan proyeksi cicilan. Jangan sampai beban kredit melebihi kapasitas finansial kita.

Bisa-bisa berangkat naik haji happy-happy. Tapi pulangnya pusing mikir cara melunasi cicilan.

Akan lebih baik lagi jika cicilan bisa lunas sebelum berangkat berhaji. Jadi, pikiran bisa plong. Ibadah pun tenang.

(red/ahyu/etyo/armawan/WSD)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!