Menelusuri Kehidupan Manusia dan Hewan Purba Asal Ciamis

redaksi.co.id - Menelusuri Kehidupan Manusia dan Hewan Purba Asal Ciamis CIAMIS -- Berbicara situs tempat kehidupan manusia dan binatang purba di Indonesia, pada umumnya orang-orang langsung...

55 0

redaksi.co.id – Menelusuri Kehidupan Manusia dan Hewan Purba Asal Ciamis

CIAMIS — Berbicara situs tempat kehidupan manusia dan binatang purba di Indonesia, pada umumnya orang-orang langsung merujuk ke Sangiran yang berada di lembah Bengawan Solo, Jawa Tengah.

Sangiran merupakan kompleks situs prasejarah yang sudah populer. Di Kabupaten Ciamis bagian utara juga terdapat museum fosil purba. Tepatnya berada di Kampung Tambaksari, Desa Tambaksari, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis. Berada di dekat perbatasan Jawa Barat (Jabar) dan Jawa Tengah (Jateng).

Letak museumnya cukup jauh dari jalan utama atau pusat keramaian. Republika.co.id mencoba menelusuri museum yang memiliki koleksi berbagai peninggalan fosil hewan purba hingga manusia purba. Bahkan, Kuda Nil yang diklaim hanya ada di Sungai Nil, Afrika, pernah hidup di Tambaksari. Wartawan Republika.co.id, Fuji E Permana menuliskan penelusurannya selama di Museum Purba Tambaksari.

Jalan Menuju Museum Purba Tambaksari

Wisatawan, pelajar atau mahasiswa arkelogi yang hendak berkunjung ke sana harus melalui jalan desa. Jika wisatawan datang dari arah Bandung, akses termudah dengan melalui Kabupaten Garut dan Tasikmalaya. Dari Tasikmalaya wisatawan mengambil jalan yang menuju Ciamis. Setelah sampai di pusat Kota Ciamis, selanjutnya menuju ke arah timur sampai Kecamatan Cisaga yang berbatasan dengan Kabupaten Banjar.

Dari Bandung sampai Cisaga jalannya sudah cukup bagus. Bisa ditempuh dengan waktu tiga sampai empat jam perjalanan. Setelah sampai di pertigaan Cisaga, kemudian belok ke kiri atau ke arah utara. Mengambil jalan menuju Kecamatan Rancah. Dari pertigaan Cisaga sampai Kampung Tambaksari tempat lokasi musium berada, wisatawan harus melewati jalan desa. Jalannya naik turun melewati perbukitan, hutan dan kebun.

Biasanya dari Cisaga sampai ke Kampung Tambaksari memerlukan waktu tempuh sekitar satu jam perjalanan. Jika belum hapal jalan, bisa memakan waktu lebih. Tapi tidak perlu khawatir karena pengunjung bisa menikmati suasana pedesaan dan pemandangan di samping kiri dan kanan jalan.

Fosil Hewan Purba di Ciamis

Berdasarkan akumulasi temuan fosil vertebrata hasil penelitian sejak 1987 sampai 1999, para peneliti Balai Arkeologi Bandung mengidentifikasi berbagai fragmen fosil tulang dan gigi hewan.

Di Museum Purba Tambaksari kita bisa melihat fragmen fosil Kuda Nil (Hippotamus sp), Gajah purba (Stegodon sp), Badak (Rhinaceros sondaicus), Banteng (Bos javanicus), Rusa purba (Cervus sp), Kura-kura (Turtle), Kerbau purba (Bubalus palaeosondaicus dan Bovid) dan Buaya (Crocodile).

Arkeolog dari Balai Arkeologi Bandung, Nanang Saptono mengatakan, fauna Cijolang tersebut hidup sekitar 2,2 juta tahun yang lalu. Setelah terangkatnya daratan ke permukaan secara berangsur-angsur pada kala Pliosen Tengah dan Plestosen Bawah. Nanang menegaskan, hal terpenting yang perlu diketahui, di kawasan Tambaksari juga pernah ditemukan fosil manusia purba jenis Homo Erectus.

“Dari temuan fosil gigi seri manusia purba Homo Erectus, ia diperkirakan hidup sekitar 800 ribu tahun yang lalu,” ujar Nanang, akhir pekan lalu saat ditemui Republika.co.id.

Kuda Nil Ternyata Pernah Hidup di Ciamis

Sementara, fosil-fosil vertebrata lainnya ditemukan di permukaan aliran dan tebing-tebing sungai. Di antaranya di Sungai, Cisanca, Cicalincing, Cihonje, Ciloa, Cibatu, Cibabut dan di daerah Urug Kasang.

Nanang menjelaskan, dari sudut pandang ilmu pangetahuan, wilayah Tambaksari menyimpan bukti-bukti kehidupan purba dan lungkungan purba. Berdasarkan temuan-temuan fosil, dapat diketahui di wilayah Tambaksari pernah hidup hewan-hewan besar. “Bahkan Kuda Nil pun pernah hidup di sana, artinya Kuda Nil tidak hanya ada di Sungai Nil,” ujar Nanang.

Petani Sering Temukan Fosil Purba

Juru Pelihara Museum Fosil Tambaksari, Iwan Kurniawan menambahkan, sampai saat ini masyarakat yang sedang bertani di ladang ada yang masih sering menemukan fosil. Namun, mereka tidak tahu harus diapakan temuannya, hal tersebut terjadi karena masyarakat kurang memiliki wawasan dan keilmuan.

Menurut Iwan, masyarakat Tambaksari sesekali perlu mendapat pelatihan dari pemerintah atau instansi mana pun yang bisa memberi tambahan wawasan dan keilmuan. Ketika mereka menemukan fosil, mereka akan tahu apa yang harus dilakukan.

Di Museum Fosil Purba Tambaksari, juga masih terdapat beberapa fragmen fosil yang belum diketahui asal-usulnya. Sangat menarik bagi mahasiswa jurusan arkeologi untuk melakukan penelitian di sana. Di samping museum terdapat ruangan untuk tamu dan aktivitas penelitian. Hanya saja tidak dilengkapi dengan peralatannya.

Kondisi Museum Kurang Diperhatikan Pemerintah

Akan tetapi, kondisi Museum Purba Tambaksari saat ini kurang mendapatkan perhatian pemerintah. Pengunjungnya pun sangat minim karena kurang terpublikasi dan pemeliharaanya kurang. Bangunan museum tersebut juga sangat kecil, puluhan fragmen fosil tersimpan dalam satu ruangan berukuran sekitar 5 x 5 meter.

Fosil-fosil di simpan dalam sebuah lemari kaca. Museum Purba Tambaksari dibangun pada tahun 2001, kemudian diresmikan di 2004. Menurut Iwan, sejak 2004 sampai 2014 tidak ada renovasi atau perbaikan apa pun. Baru pada 2014 museum tersebut mendapatkan sedikit perbaikan.

Iwan berharap, instansi terkait agar lebih memperhatikan kelanjutan dan masa depan Museum Purba Tambaksari. Museum Jadi Cagar Budaya Menanggapi kondisi Museum Purba Tambaksari saat ini.

Menurut Nanang, keberadaan fosil di Tambaksari dapat didekati melalui dua sudut pandang. Perundang-undangan dan pengetahuan. Secara perundang-undangan situs Tambaksari perlu diselamatkan atau dilindungi.

Sebagaimana yang diamanatkan dalam UU No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Khususnya mengenai pengertian (Pasal 6, 9, 10) dan BAB VII tentang Pelestarian. Kemudian, dari sudut pandang pengetahun, cagar budaya di Tambaksari dapat memberikan pemahaman kehidupan yang kita lihat sekarang merupakan suatu proses panjang dari kehidupan bilologis dan non biologis.

Di sana tersimpan bukti-bukti kehidupan purba dan lingkungan purba yang dapat dijadikan pelajaran. Nanang menegaskan, nilai penting kawasan situs Tambaksari dapat memberikan pemahaman sejarah kehidupan di muka bumi.

Menurut dia, sebaiknya kawasan situs Tambaksari dikelola pemerintah provinsi di dinas terkait. Instalasi yang tersedia di Tambaksari ditingkatkan lagi fungsinya. “Jadi tidak hanya sebagai tempat penyimpanan fosil, tapi juga sebagai pusat studi,” kata Nanang.

Artikel Menarik Lainnya:

KPK Tahan Anggota DPR dari Partai Golkar

Polisi Gagalkan Pernikahan Sesama Jenis di Wonosobo

Komandan ISIS al-Shishani Orang Berbahaya

Kendala Kasus ‘Papa Minta Saham’

Menkominfo Bentuk Koperasi Wadahi GrabCar dan Uber

(red/udhi/wi/nggoro/YDA)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!