Keputusan Investasi Blok Masela Mundur hingga 2020

164

redaksi.co.id – Keputusan Investasi Blok Masela Mundur hingga 2020

Kedua investor Blok Masela, yakni Inpex dan Shell, memastikan keputusan akhir investasi (Final Investment Decision/FID) mundur menjadi 2020. Hal ini dampak dari ketidakjelasan mengenai Plan of Development (POD) hingga saat ini, yakni perihal lokasi blok di darat (onshore) atau lepas pantai (offshore).

Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi mengungkapkan kepastian mundurnya FID ini berdasarkan laporan para investor beberapa hari lalu. Kondisi ini juga sudah dilaporkan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said.

“Waktu diusulkan Desember POD bisa disetujui akhir Desember tahun lalu, maka FID akhir 2018. Lalu mundur akhir Januari dan mundur lagi akhir Februari. Lalu ternyata setelah dihitung mereka masih bisa 2018 walau agak pesimistis. Setelah jelang 10 Maret tidak ada keputusan mereka pastikan tidak bisa akhir 2018 FID. Jadi kalau POD disetujui sekarang, maka FID akan mundur akhir 2020,” kata Amien, seperti dikutip Kamis (17/3/2016).

FID yang direncanakan para investor ini untuk pengembangan ladang gas di lepas pantai, mengingat Inpex dan Shell menginginkan hal itu. Namun, jika keputusan pengembangan di darat, maka FID bakal lebih lama di atas 2020.

Namun demikian, Amien menegaskan Inpex dan Shell tidak akan angkat kaki dari Blok Masela. Hanya saja kedua perusahaan ini mencoba memperhitungkan secara realistis jika sampai saat ini belum ada keputusan dari pemerintah.

“Untuk hitungan, kita mesti berpikir dengan cara pikir investor. Mereka masukkan parameter risiko yang lain. Kalau akhir 2018 risiko masih diterima. Begitu masuk 2019 Indonesia adalah masa pemilu dan mereka hitung tahun itu sulit dilakukan pengambilan keputusan investasi dengan nilai yang besar,” kata dia.

Seperti diketahui, belum adanya keputusan POD membuat Inpex dan Shell terpaksa mengurangi jumlah pekerjanya yang selama ini berada di Indonesia untuk mengerjakan Blok Masela.

Inpex menyatakan akan mengurangi jumlah pekerjanya mencapai 60 persen dari total pekerja saat ini mencapai 400 orang.

Sementara untuk Shell, CEO Shell juga sudah menyarankan kepada para pekerja untuk mencari pekerjaan lain di internal Shell global.

(red/ambertus/usi/urek/LLH)

loading...

Comments

comments!