Menganalisa Data di Media Sosial Kini Hanya Rp 500 Ribu

redaksi.co.id - Menganalisa Data di Media Sosial Kini Hanya Rp 500 Ribu JAKARTA - Media sosial telah menjadi faktor penting dalam menentukan strategi pemasaran sebuah brand...

13 0

redaksi.co.id – Menganalisa Data di Media Sosial Kini Hanya Rp 500 Ribu

JAKARTA – Media sosial telah menjadi faktor penting dalam menentukan strategi pemasaran sebuah brand yang ditawarkan pelaku bisnis.

Hal inilah yang ditangkap oleh PT Generasi Digital Internasional (GDILab), saat meluncurkan produk analitik terbarunya yakni GDIAnalytics.

GDIAnalytics merupakan Twitter-Facebook-Instagram analytics tools yang mampu memantau dan menganalisa performa ketiga media sosial tersebut untuk membantu para pelaku bisnis, termasuk usaha kecil menengah (UKM), dalam menentukan strategi pemasaran yang tepat bagi mereka.

Melakukan pemasaran yang efektif lewat media sosial merupakan hal yang sangat penting, terutama bagi UKM.

Sayangnya, keinginan itu biasanya terbentur faktor biaya yang besar untuk menggunakan jasa konsultan analitik.

Latar belakang itulah yang membuat GDILab meluncurkan produk GDIAnalytics, yang mampu membantu men-capture data-data di media sosial sehingga memudahkan UKM menentukan strategi pemasarannya lewat media sosial namun tetap dengan harga yang terjangkau.

“Kita bantu capture, kemudian dari fitur-fitur itu dijadikan bentuk grafik, top 10 tweet, the most engaging, waktu paling efektif buat nge-tweet atau nge-post.”

“Sangat simpel untuk dimengerti. Bayar hanya Rp 500rb per bulan. Bila hanya mau mencoba sebulan, bisa subscribe (berlangganan) per bulan. Kalau mau setahun, pembayaran tiap bulan,” kata co-Founder GDILab, Billy Boen, saat persentasi di Cinemaxx Theater FX Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (18/3/2016).

Billy menjelaskan bahwa Facebook, Twitter, dan Instagram memiliki unstructured data yang berpotensi diolah menjadi digital market insight.

Dalam dunia digital, unstructured data kebanyakan diciptakan oleh sosial media. Hal itu disebabkan karena sosial media lebih jujur ketimbang survei konvensional maupun Focus Group Discussion (FGD).

“Sebagai contoh, saya main ke kantornya IBM. Setelah itu saya menulis tweet ‘Kantornya IBM keren banget’. Itu unstructured data. Data yang bisa dipakai, dianalisa untuk brand IBM. Yang sudah menyadari sosial media memberikan data yangg jujur itu kebanyakan perusahaan besar. UKM belum sadar bahwa data di sosial media itu penting untuk diketahui,” ucapnya.

Dalam acara peluncuran tersebut, pihak GDILab turut menjelaskan metode pembayaran bagi mereka yang tertarik menggunakan GDIAnalytics.

Jefri Dinomo yang juga co-Founder GDILab, memaparkan bahwa pihaknya menerima pembayaran mulai dari kartu kredit, DOKU Wallet, hingga pembayaran melalui convenience store seperti Alfamart.

Menurutnya ada orang yang ingin menggunakan jasa analitik, namun terhambat masalah pembayaran.

“Industri analitik yang bermain di Indonesia sudah banyak, cuma bagaimana kita membuka service ini (punya nilai) lebih. Terutama dengan membuka sistem payment. Satu channel payment untuk semua pembayaran, mulai dari kartu kredit, debit, m-banking, transfer, sampai pembayaran lewat convenience store,” ujar Jefri.

Adapun GDIAnalytics dikembangkan dari mesin analitik pintar bernama Genesis Technology.

Dikembangkan dalam bentuk dashboard, fitur-fitur GDIAnalytics membuat pengguna dapat mengetahui apa yang dibicarakan orang mengenai produk atau brand yang bersangkutan, mengukur performa buzzer, siapa saja yang ikut mempromosikan kampanye lengkap dengan lokasinya, serta seberapa populer kampanye pemasaran yang telah dijalankan.

GDIAnalytics juga bisa menunjukkan jumlah interaksi yang terjadi dalam kurun waktu tertentu dan membantu mengetahui kapan waktu yang paling efektif untuk menjangkau audiens.

(red/ijayanto/W)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!