Astronom Temukan Jenis Galaksi Baru

171

redaksi.co.id – Astronom Temukan Jenis Galaksi Baru

Para astronom baru saja menemukan jenis galaksi baru yang disebut super spiral. Galaksi ini sama seperti galaksi spiral yang sudah dikenal sebelumnya. Hanya saja, ukurannya super besar. Faktanya, menurut para ilmuwan, galaksi super spiral ini adalah salah satu objek paling besar dan paling terang di alam semesta. Objek ini ‘tersembunyi’ selama bertahun-tahun.

Menurut tim dari Infrared Processing and Analysis Centre (IPAC) di California Institite of Technologi, super spiral baru yang ditemukan ini 8-14 kali lebih terang dibandingkan Bima Sakti. Galaksi ini memiliki 10 kali massa lebih besar dan mampu menghasilkan bintang 30 kali lebih banyak. Para peneliti menemukan galaksi super spiral ini dengan menganalisis data dari NASA/IPAC Extragalactic Database, sebuah database online yang merekam lebih dari 100 juta galaksi dari hasil penelitian di seluurh dunia.

Dari data yang mereka pelajari, para ilmuwan dibuat terkejut lantaran 800 ribu galaksi yang mereka pelajari, yang paling terang ternyata membentuk spiral, bukan elips. Galaksi spiral ini menurut para ilmuwan tidak terletak pada skala yang ditunjukkan oleh data-data tersebut, ilmuwan kemudian luput mengenai hal ini. Mereka kemudian melakukan verifikasi temuan ini dengan mengukur jaraknya dari bumi untuk memastikan sebab galaksi ini lebih dekat diandingkan yang lain.

Namun, ketika tim lain memandang galaksi tersebut, mereka mengatakan galaksi spiral hanya terletak lebih dekat dibandingkan galaksi lain sehingga tampak lebih besar atau memiliki ukuran yang sama. Dari hasil dan foto-foto yang disajikan dalam The Astrophysical Journal ini, galaksi yang ditemukan ini benar-benar jauh dan super besar.

“Kita seolah baru saja menemukan hewan darat baru yang seukuran gajah yang hilang tanpa pernah diketahui oleh ahli zoologi. Super spiral ini bisa mengubah fundamental kita tentang pembentukkan dan evolusi galaksi yang paling besar. Kami masih harus banyak belajar,” kata pemimpin peneliti Patrick Ogle.

(red/udhi/wi/nggoro/YDA)

loading...

Comments

comments!