Pakar: Perubahan Iklim Ubah Perilaku Nyamuk Aedes

redaksi.co.id - Pakar: Perubahan Iklim Ubah Perilaku Nyamuk Aedes REPUBLIKA.CO.ID,BOGOR -- Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Upik Kesumawati Hadi menemukan adanya...

14 0

redaksi.co.id – Pakar: Perubahan Iklim Ubah Perilaku Nyamuk Aedes

REPUBLIKA.CO.ID,BOGOR — Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Upik Kesumawati Hadi menemukan adanya perubahan perilaku nyamuk aedes aegypti yang merupakan vektor penyakit demam berdarah dengue (DBD) akibat perubahan iklim.

“Kehidupan aedes aegypti dipengaruhi oleh perubahan iklim, jika suhu meningkat nyamuk dapat hidup lebih aktif dan menularkanvirus DBD dengan lebih cepat,” kata Prof Upik dalam orasi Ilmiah Guru Besar IPB di Kampus Dramaga, Kabupaten Bogor, JawaBarat, Sabtu (19/3).

Ia mengatakan aedes aegypti adalah nyamuk yang mudah beradaptasi dengan baik. Larvanya yang semula hanya menempati habitatdomestik, terutama penampungan air bersih di dalam rumah, kini mampu berkembang di wadah-wadah air yang mengandung berbagaimacam polutan.

“Seperti yang terjadi di Komplek IPB Dramaga, pada tahun 1990 masih dihuni ae albopictus, tetapi sejak 2002 hingga sekarangsudah didominasi oleh ae aegypti. Keduanya kini berperan sebagai vektor primer dan sekunder DBD,” katanya.

Tidak hanya itu, lanjutnya, nyamuk ae aegypti juga mengalami perubahan perilaku mengisap darah yang semua hanya aktif disiang hari (diurnal), kini juga aktif di malam hari (nokturnal). “Kondisi ini menuntuk kita untuk lebih waspada terhadap nyamuk ini yang juga mempunyai sifat mudah terusik, mampu berpindah-pindah dari satu orang ke orang lain, dan menjadi vektor yang efisien dalam meningkatkan resiko penularan DBD,” katanya.

Ia mengatakan pengendalian vektor DBD saat ini masih mengutamakan cara kimiawi (insektisida), seperti upaya penyemprotaninsektisida (ULV dan fogging), larvasidasi, serta penggunaan insektisida rumah tangga.Menurutnya, penggunaan insektisita yang sama secara terus menerus dapat menimbulkan resistensi populasi melalui seleksi,yakni menghilangkan individu nyamuk yang rentan dan menyisakan individu-individu yang tahan.

(red/andhi/urhartanto/SN)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!