Grab dan Uber, Kemenhub Diminta Belajar Dari Negara Lain

redaksi.co.id - Grab dan Uber, Kemenhub Diminta Belajar Dari Negara Lain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyarankan agar Kementerian Perhubungan mempelajari contoh kasus penanganan transportasi berbasis...

41 0

redaksi.co.id – Grab dan Uber, Kemenhub Diminta Belajar Dari Negara Lain

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyarankan agar Kementerian Perhubungan mempelajari contoh kasus penanganan transportasi berbasis aplikasi online dari negara-negara lain.

Menurut Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, kasus seperti Grab dan Uber tersebut sudah terjadi di hampir 50 negara. “Kemenhub musti belajar seperti apa penanganannya,” kata Tulus kepada Tempo, Sabtu, 19 Maret 2016. Menurut dia, Grab dan Uber seharusnya memang menjadi perusahaan jasa transportasi sesuai dengan Undang-Undang.

“Di sisi lain, regulasi harus diamandemen menyesuaikan dinamika yang ada.” Tulus membandingkan kasus taksi konvensional dan Uber di Amerika Serikat. Menurut dia, aturan yang diberlakukan di sana adalah porsi taksi Uber tidak boleh lebih dari 20 persen dari total keseluruhan taksi biasa. Sehingga, kedua transportasi tersebut bisa beriringan.

“Bukan seperti sekarang yang liar dan saling membunuh. Pemerintah harus bertindak cepat dan tepat sebelum terjadi konflik horisontal,” ujar dia. Pada Senin lalu, ribuan pengendara yang tergabung dalam Paguyuban Pengemudi Angkutan Darat berdemo di Balai Kota DKI Jakarta. Mereka menolak keberadaan transportasi berbasis online karena dianggap mengurangi penghasilan.

Mereka mendesak pemerintah memblokir layanan angkutan ilegal berpelat hitam yang difasilitasi perusahaan jasa aplikasi seperti Grab dan Uber. Kementerian Peruhubungan kemudian menyurati Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk segera memblokir kedua aplikasi tersebut karena dianggap melanggar Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) dan peraturan turunannya. Akhirnya pihak Grab dan Uber memutuskan untuk memilih koperasi agar tetap bisa beroperasi.

(red/ochman/rief/RA)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!